Erika mabuk

822 93 7
                                        

Cahaya sore mulai masuk dari sela tirai.
Jam sudah lewat beberapa jam sejak mereka sampai tapi Ayyara masih di posisi yang sama. Tertidur pulas, seperti benar-benar kehabisan energi.

Erika duduk di sisi ranjang.
Menatap sebentar.

Lalu menghela napas kecil.
“Ayyaraaa…” panggilnya pelan.
Tidak ada respon.
“Ayyara,” kali ini sedikit lebih jelas.

Ayyara mengerang kecil.
“Hmm…”
“Tolong bangun sebentar.”
“Ngantuk bangett akuu kak…” jawabnya, suara serak, bahkan matanya belum terbuka.
Erika menahan diri.

Ia menyentuh bahu Ayyara, menggoyang pelan.
“Kita perlu ngomong.”
Kalimat itu—cukup buat Ayyara membuka mata setengah.
“Sekarang…?” gumamnya.
“Iya.”

Ayyara memejam lagi sebentar, lalu menghela napas panjang.
“Bentar…”
Butuh waktu hampir satu menit sampai akhirnya ia benar-benar duduk. Rambutnya berantakan, matanya masih berat.
“Ada apa sih…” katanya, masih setengah sadar.
Erika tidak berputar-putar.
“Tadi,” katanya langsung.
“Kenapa kamu bilang soal IVF?”

Ayyara diam sebentar.
Berusaha mengumpulkan fokusnya.
“Aku cuma jawab,” katanya akhirnya.
“Nanya kan.”
“Itu bukan sekadar jawab,” balas Erika.
“Itu keputusan.”
Ayyara langsung mengangkat alis.
“Keputusan apaan? Aku cuma bilang kita mau jalanin.”
“Kita?” ulang Erika, nadanya berubah lebih dingin.
“Aku belum setuju.”

Hening.

Ayyara menatap Erika sekarang.
Lebih sadar.
“Terus?” tanyanya.
“Nunggu sampai kapan?”
Erika sedikit terkejut dengan nada itu.

“Sampai waktunya tepat,” jawabnya tegas.
“Kamu masih kuliah. Hidup kamu masih panjang.”
Ayyara tersenyum tipis.
Bukan senyum hangat.
Lebih ke… menahan sesuatu.
“Dan aku gak boleh milih sekarang?”
“Bukan gak boleh,” jawab Erika cepat.
“Tapi kamu belum lihat semuanya.”

Ayyara menghela napas.
“Kenapa sih kamu selalu mikir aku gak siap?”
“Karena aku harus realistis.”
“Dan aku gak?” potong Ayyara.
Nada mulai naik.

Erika menatapnya tajam.
“Kamu bahkan gak diskusi dulu sama aku.”
Ayyara langsung membalas,
“Karena setiap aku bahas, kamu selalu nunda!”
Kalimat itu… kena.
Erika terdiam sebentar.
“Karena itu bukan keputusan kecil,” jawabnya akhirnya, lebih berat.
“Ini bukan sekadar mau atau gak.”
“Aku tau!” balas Ayyara cepat.
“Aku juga mikir!”

Sunyi.

Ketegangan terasa jelas sekarang.
Ayyara menatap Erika dengan mata yang sudah sepenuhnya sadar.
“Kalau aku bilang aku siap?”
Erika tidak langsung menjawab.
“Aku siap cek,” lanjut Ayyara.
“Siap konsultasi. Siap jalanin prosesnya.”
Ia menahan napas sebentar.
“Bahkan kalau itu berat.”

Erika menggeleng pelan.
“Ini bukan soal kuat-kuatan.”
“Terus apa?” tanya Ayyara.
Erika menatapnya lama.
“Timing.”
Ayyara tertawa kecil.
“Timing versi kamu.”
Kalimat itu… menusuk.

Erika berdiri.
“Aku cuma gak mau kamu nyesel,” katanya, lebih dingin sekarang.
Ayyara ikut berdiri.
“Aku juga gak mau nunggu sampai semuanya telat.”
“Telat apa?” Erika mulai kehilangan sabar.
“Kamu masih muda, Ayyara.”
“Dan itu salah?” balas Ayyara cepat.
Erika diam.
Ayyara melanjutkan, kali ini lebih pelan tapi tegas,
“Aku bukan anak kecil, Kak.”
Kalimat itu… membuat jarak.
Erika mengalihkan pandangan.
Rahangnya mengeras.
“Kalau kamu mau jalanin… silakan,” katanya akhirnya.
“Tapi aku gak akan ikut sekarang.”

Hening.

Ayyara terpaku.
“Itu maksud kamu apa?” tanyanya pelan.
Erika tidak langsung menjawab.
Ia mengambil jaketnya.
“Aku butuh waktu,” katanya singkat.
Nada itu dingin.
Bukan marah meledak, tapi justru lebih jauh.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang