Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

outing (part 2)

1.2K 103 7
                                        

 

Udara pagi itu segar, dihiasi semangat yang menguap bersama embun di rerumputan. para karyawan berkumpul di area lapang di tepi hutan pinus untuk acara outing tahunan. Gelak tawa, teriakan antusias, dan bisik-bisik penasaran terdengar di mana-mana, terlebih ketika akan ada games team building dengan sistem acak pembagian tim.

Erika berdiri di antara kerumunan sambil memegang air mineralnya, matanya menyapu nama-nama tim yang baru saja ditempel di papan tulis besar. "Tim 3... Erika dan..." Ia menunduk, membaca lebih dekat, lalu terdiam sejenak. "...Ayyara." gumamnya

Jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat.

Dari sudut lain lapangan, Ayyara yang baru saja menyelesaikan pemanasan juga menoleh, dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Keduanya buru-buru mengalihkan pandangan. sudahlah satu bus, satu kamar.

Dan sekarang, satu tim?

Permainan pertama dimulai: Trust Walk. Satu orang ditutup matanya, satu lagi harus memberi arahan secara verbal untuk melewati rintangan tali dan cone. Ayyara yang pertama menutup mata, dan Erika dengan suara setengah gemetar harus membimbingnya.

"Ke kiri... pelan-pelan... eh, kiri kamu, bukan kiri aku..." Erika panik ketika Ayyara hampir menyandung cone.

"Gimana sih, kakak tuh nggak jelas," sahut Ayyara sambil nyengir, masih menutup mata. dan suara yang hanya bisa do dengar oleh mereka berdua.

"Ya kamu yang nggak bisa bedain kiri-kanan!"

Tawa pecah di antara rekan-rekan kantor yang menonton. 

Ketika giliran Erika yang ditutup matanya, ia berjalan terlalu cepat karena salah dengar arahan Ayyara dan

brukk!

Ia terpeleset ke atas rerumputan licin.

"Kaaakkk!" Ayyara refleks menarik tangannya, tapi terlalu cepat—mereka berdua justru jatuh bersama, berguling di atas rumput, tertawa, dan saling menyalahkan lagi. Tapi kali ini, tawa mereka terdengar lebih lepas. Lebih... hangat.

yang lain terdiam dan sedikit binggung dengan Erika saat ini, dengan tawa riang yang jarang sekali keluar dari Erika.

.


Permainan dilanjutkan ke Human Knot, lalu Water Relay, hingga akhirnya sampai di permainan paling heboh hari itu: Balon Berpasangan. Setiap pasangan harus menahan balon di antara tubuh mereka—tanpa menyentuhnya dengan tangan—dan menyelesaikan lintasan zig-zag hingga garis akhir.

Dan tentu saja, Erika dan Ayyara masih berpasangan.

"Jangan terlalu dekat," gumam Erika waktu mereka bersiap di garis start, pipinya mulai memerah.

"Lho, ini kan permainannya suruh deket, kak," balas Ayyara, tak kalah salah tingkah. Balon sudah di antara dada mereka, membuat jarak keduanya hanya beberapa sentimeter.

Teriakan "Mulai!" terdengar, dan mereka langsung bergerak. Tapi baru beberapa langkah, Erika tersandung kaki Ayyara dan lagi-lagi mereka hampir jatuh. Ayyara, refleks dan tanpa pikir panjang, meraih tubuh Erika dan—memeluknya.

Balon jatuh. Tapi tak seorang pun peduli saat itu.

Mereka berdua berdiri dalam pelukan canggung selama dua detik yang terasa seperti dua menit. Erika yang biasa dingin jadi salah tingkah, dan Ayyara, entah kenapa, justru tertawa sambil menepuk punggung Erika dengan gemas.

"Eh... maaf, reflek," bisik Ayyara.

"..mmmm.," jawab Erika pelan, masih salting dan berusaha tidak melihat mata Ayyara.

Permainan mereka berakhir bukan dengan kemenangan, tapi dengan tepuk tangan paling heboh dari rekan-rekan kantor yang melihat semua itu.

Erika hanya bisa menunduk, sedangkan Ayyara mengedip nakal ke arah para penonton. Tapi keduanya sama-sama tahu: outing kali ini lebih dari sekadar acara kantor. Ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang terasa... tumbuh.

Dan mungkin, meski diawali dengan salting dan jatuh-jatuh lucu, inilah awal dari cerita yang lebih panjang.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang