Rumah utama

1.1K 99 8
                                        

Malam semakin larut.
Dapur sudah mengering seadanya, tapi plafon masih berbekas air, bau gosong samar masih menempel, dan sensor kebakaran mati sementara menunggu teknisi besok.

Erika berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan gelisah.
Ayyara sudah tertidur pulas, wajahnya tenang di sampingnya.

Erika mengusap pelan rambut Ayyara yang jatuh menutupi pipi. Ia tersenyum… tapi langsung kembali cemas.

“Aku gak bisa tidur kalau rumah berantakan begini…”

Ia duduk perlahan, memijit pelipisnya.
Setelah menahan gelisah hampir setengah jam, ia akhirnya bangkit dan mengambil ponselnya.

Erika menelpon rumah utama. Suaranya dibuat serendah mungkin agar Ayyara tidak bangun.
“Halo, Mbak Ani? Ini saya Erika…”
“Iya, Neng Eca. Ada apa ya?”
“Tolong siapin kamar saya. Dua orang dewasa, satu anak. Saya pulang sekarang.”

Mbak Ani langsung kaget tapi terbiasa dengan spontanitas Erika.

“Baik, Neng! Mang Dimin juga saya kasih tahu. Mau kamar yang biasa atau yang besar?”
“Yang besar. Gorden diganti yang clean white, saya gak mau lihat warna gelap malam ini.”

Mbak Ani langsung menurut.
Erika menutup telepon, mengambil jaket, lalu menepuk kaki Ayyara pelan.

“Ay, bangun. Kita pindah.”
Ayyara mengerjap bingung.
“Hah? Pindah kemana? Kenapa sih kamu—”
“Aku gak bisa tidur dengan plafon gosong begitu. Ayo.”
.

Saat mereka sudah di mobil, Ayyara masih belum sepenuhnya sadar.

“Kita nginep di hotel?”
“Tadinya iya. Tapi aku berubah pikiran. Rumah utama lebih nyaman.”
“Kamu tuh ya… rumah kebakaran sedikit langsung evakuasi.”

Erika mengabaikannya, fokus menyetir.
Beberapa menit kemudian, Erika bertanya,
“Kamu lapar? Mau jajan apa?”
Ayyara melihat sekitar dan langsung menunjuk pedagang kaki lima yang baru selesai menata gerobaknya.

“Itu bakso tusuk. Aku mau.”
Erika langsung memelankan mobil.
“Ay! Itu… di pinggir jalan.”
“Terus kenapa?”
“Kamu yakin itu bersih?”
“Emang kamu pikir aku sterilizer mulut setiap hari?”
Erika menatapnya lama.
“Ay… aku cuma tanya keselamatan kamu.”
“kak, itu bakso doang. Bukan operasi jantung.”

Ayyara turun duluan.

Erika akhirnya ikut — dengan langkah super hati-hati, seolah tanah bisa meledak.
Ia melihat kursi plastik yang rendah, penuh debu tipis, dan wajahnya menegang.

“Kamu mau duduk?”
“Tidak.”

Ayyara tertawa dan memesan dua.
Erika memandangi baksonya lama… lalu akhirnya menggigit.
Diam.
Mengunyah pelan.

“…enak.”

Ayyara terkekeh puas.
“Siapa yang gak yakin bersih tadi?”
“Aku bilang enak, bukan bersih.”
Tapi habis lima tusuk.
.
.

Gerbang otomatis terbuka. Lampu-lampu taman menyala, menyorot rumah mewah dengan arsitektur elegan dan nuansa monokrom emas.

Mbak Ani, Mang Dimin, dan dua ART lain sudah berbaris menyambut.

“Selamat datang, Neng Erika, Neng Ayyara.”
“Aduh, kalian gak perlu formal banget…” gumam Ayyara sambil salting.
Erika masuk dengan aura boss mode-nya kembali aktif.
“Kamar sudah siap?”
“Sudah, Neng!”
.

Begitu pintu dibuka, Ayyara terpaku.
Kamar itu luas.
Dinding broken white berpadu lis gold yang tipis.

Sisi lain cat hitam matte yang elegan, bukan gelap muram, tapi dewasa dan mahal.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang