Tama sering berada di kantor dan ketika sedang tidak di kantor, ia akan menelepon Erika setiap saat, membahas detail kecil yang sebenarnya bisa di-handle lewat email saja.
Albert pun sama:
“Erika, aku yakin kamu bisa bikin konsep ini luar biasa. Kamu pemimpin tim yang hebat.”
Kalimat manis itu menyenangkan… tapi menyita dan memaksa Erika terpaku pada layar berjam-jam.
---
Awal minggu, Erika selalu minta video call panjang.
Bahkan sambil Ayyara skincare-an, mereka tetap saling memandang di layar.
Tapi makin ke sini…
> “Ay, aku lagi revisi dulu ya.
> Kamu tidur duluan aja.”
Atau…
> “Ay, aku tinggal meeting ya.
> Nanti aku telepon kalau sudah selesai.”
Dan yang “nanti”…
kadang jadi *tidak terjadi*.
Erika baru menghubungi ketika Ayyara sudah terlelap video call hanya bertahan **3-5 menit**.
Ayyara menatap layar gelap setelahnya, menggigit bibir.
“Aku ngerti kamu sibuk… tapi kok rasanya jauh banget ya…”
---
Sementara di Bandung…
Ayyara juga mulai sibuk:
* Observasi lapangan
* Rapat kelompok
* Bikin proposal
* Deadline berlapis-lapis
Teman-temannya sering mengajak nongkrong setelah tugas selesai.
Kafe Bandung yang dingin, lampu kuning hangat, suara tawa yang memenuhi ruang.
Ayyara sempat tertawa lepas.
Dan saat itu — ia sadar…
**Tidak ada notifikasi dari Erika.**
Biasanya, chat Erika seperti ini memenuhi layar:
> Lagi apa?
> Udah makan?
> Jangan tidur kemaleman.
> Kirim foto kamu.
> Aku kangen.
Sekarang?
> *Last seen 2 hours ago.*
Ayyara memandangi nama *Erika* di layar, lama sekali.
Ragu harus mengeluh atau sekadar mengerti.
Temannya mencolek.
“Ayyara, kamu kok bengong? Video call sama pacar kamu lagi?”
Ayyara hanya tersenyum kecil.
“lagi sibuk.”
“punya pacar?” Temannya kaget. “Wah, kamu keren, ada waktu emangnya? Bukannya kamu kerja juga”
Ayyara tersenyum pahit.
“Iya…di sempetin aja”
Ayyara mencoba menghubungi duluan:
> Kak, kamu lagi apa?
> Udah makan belum?
> Jangan lupa tidur ya, Kak.
Tanda “delivered” hanya menjadi abu-abu.
Erika membaca… *berjam-jam kemudian.
> Maaf Ay, aku ketiduran.
Ayyara mengetik:
“Gapapa kok. Semangat ya.”
Lalu menghapus.
Diganti:
> Iya Kak, semangat juga.
Kalimat yang benar, tapi tidak jujur.
---
Malam itu akhirnya Ayyara memutuskan berhenti menunggu.
Headset terpasang. Musik pelan.
Teman-temannya tertawa tentang tugas, snack, film.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
