Ruang tamu cuma diterangi lampu sudut yang redup. Hening setelah seharian penuh suara notifikasi grup, tangisan Calista, dan pikiran yang nggak berhenti muter.
Ayyara setengah tenggelam di sofa, matanya berat, bahunya turun seperti orang yang sudah tidak punya sisa tenaga bahkan untuk mengeluh lagi.
Erika duduk di belakangnya, kedua tangannya mulai memijat pelan betis Ayyara.
Awalnya cuma tekanan lembut. Hangat. Menenangkan.
Napas Ayyara sempat teratur.
Tapi saat tangan Erika bergerak makin naik, sentuhannya berubah bukan lagi sekadar pijatan lelah, tapi sentuhan yang penuh rindu yang tertahan berhari-hari.
Ayyara mengeluarkan napas panjang, campuran antara lelah dan sadar ke mana arah ini berjalan.
“Kak…” suaranya pelan, serak capek. “Aku lagi capek banget tauu…”
Erika berhenti sepersekian detik. Tapi tangannya masih memeluk pinggang Ayyara dari belakang, wajahnya dekat di bahu.
“Seharian aku gak liat kamu,” bisiknya pelan. Bukan nafsu yang terdengar paling kuat — tapi kangen.
Ayyara menutup mata.
“Aku juga kangen… tapi badanku rasanya udah kayak dipakai tiga orang sekaligus hari ini.”
Itu bukan penolakan kasar. Itu pengakuan jujur.
Erika diam.
Dan di situ bedanya mereka dulu dan sekarang.
Dulu mungkin Erika akan terus, bercanda, menggoda, meyakinkan.
Sekarang ia menarik napas, lalu menyandarkan dahinya ke punggung Ayyara.
Tangannya berubah arah — dari menggoda jadi benar-benar memijat bahu yang tegang.
“Sorry,” ucapnya pelan. “Aku kira kamu cuma ngomel capek, bukan capek yang… habis.”
Ayyara membuka mata, menoleh sedikit.
“Aku bukan nolak kamu…”
“Aku tau,” potong Erika lembut. “Makanya aku gak mau kamu ‘iya’ cuma karena gak enak.”
Sunyi yang hangat jatuh di antara mereka.
Erika memijat tengkuk Ayyara pelan, ritmenya stabil. Kali ini tidak ada maksud lain selain merawat.
Dan justru itu yang bikin dada Ayyara menghangat.
“Aku tuh,” gumam Ayyara pelan, “seharian ngurus semua sendiri. Koper kamu, dokumen, print tiket, Calista, tugas kampus… terus kamu pulang dan Calista maunya kamu…”
Nada suaranya pecah sedikit. Bukan marah. Lelah yang numpuk.
Erika memeluknya dari belakang, dagu di bahunya.
“Makasih ya,” katanya pelan. “Aku lihat semuanya. Aku cuma telat ngomong.”
Ayyara tertawa kecil, lemah.
“Telat banget.”
“Iya. Maaf.”
Pijatan itu berlanjut
.
.
“Mana bisa gituu,” kata Ayyara.
Erika nggak mundur. Justru makin dekat, dahinya nyaris nempel ke Ayyara.
“Bisa,” jawabnya pelan, tatapannya keras kepala banget.
Ayyara mendengus.
“Kak, aku ini bukan powerbank. Seharian dipake semua orang. Kantor, kampus, rumah… sekarang kamu.”
“Ya justru,” sahut Erika cepat, “aku nggak mau bagian aku sisa-sisa doang.”
Ayyara langsung nengok.
“Egois banget sih?”
Erika diem sebentar. Rahangnya keliatan tegang.
“Aku cuma… kangen kamu. Dari kemarin kamu cuma jadi ‘Ayyara yang sibuk’. Bukan Ayyara aku.”
Kalimat itu bikin Ayyara berhenti ngelawan beberapa detik.
Tapi dia masih gengsi.
“Terus caranya harus sekarang? Di saat aku rasanya mau tumbang?”
Erika makin mepet, suaranya turun, berat.
“Karena kalau nggak sekarang, nanti kamu tidur kecapekan. Besok sibuk lagi. Lusa ribut packing. Habis itu bandara. Habis itu keluarga. Terus aku dapet kamu kapan?”
Ayyara melongo sebentar.
Iya juga.
Tapi tetap aja…
“Aku capek, Kak,” ucapnya lebih pelan kali ini. Bukan marah. Jujur.
Erika akhirnya berhenti bergerak. Tangannya masih di pinggang Ayyara, tapi nggak lanjut.
“Kamu beneran nggak sanggup… atau cuma gengsi?” tanyanya pelan.
Ayyara kesel.
“Apaan sih gengsi segala.”
“Karena kamu tuh kalau udah capek, yang kamu tolak pertama justru aku. Padahal aku bukan beban kamu.”
Ucapan itu nusuk.
Ayyara langsung nengok, tatapannya berubah.
“Aku nggak nolak kamu karena kamu beban… aku nolak karena aku takut nggak bisa ngasih yang kamu mau.”
Sunyi.
Itu bukan kalimat yang Erika duga.
Pegangan Erika melonggar sedikit.
“Aku nggak butuh kamu sempurna,” katanya pelan. “Aku cuma butuh kamu ada.”
Ayyara nelen ludah. Badannya masih lelah, tapi dadanya anget.
“Kalau aku cuma bisa setengah?” tanyanya pelan.
Erika senyum tipis.
“Setengah dari kamu aja udah lebih dari cukup.”
Beberapa detik nggak ada yang gerak.
Ayyara akhirnya ngelus wajahnya sendiri, frustrasi kecil.
“Kak, kamu tuh nyebelin tau nggak sih…”
Ayyara mendesah panjang.
“Tapi aku juga kangen.”
Itu aja cukup.
Erika nggak langsung buru-buru lagi. Kali ini gerakannya beda. Lebih pelan. Lebih nanya lewat sentuhan, bukan maksa.
Ayyara masih ngedumel kecil,
“Kalau aku ketiduran jangan marah…”
“Kalau besok aku encok salah kamu…”
“Kalau koper belum keisi kamu yang lipet baju…”
Erika senyum di sela-sela,
“Iya.”
“Iya.”
“Iya Ayyarakuu.”
Dan lama-lama, omelan Ayyara berubah jadi napas yang lebih tenang.
Bukan karena dipaksa kuat.
Tapi karena akhirnya dia berhenti jadi “yang ngurus semua orang” — dan cuma jadi pasangan yang lagi dipeluk.
Malam itu nggak liar.
Nggak terburu-buru.
Lebih kayak dua orang yang sama-sama lelah sama dunia, tapi masih nyimpen ruang buat satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, Ayyara benar-benar nyender lemah di bahu Erika.
“Tuh kan… aku tumbang,” gumamnya setengah tidur.
Erika senyum, nyium keningnya pelan.
“Iya. Tapi tumbangnya di aku.”
.
Lift kebuka.
Erika keluar duluan.
Rambut rapi. Outfit tajam. Wajah seger kayak baru spa jiwa raga. Senyum tipis tapi hangat.
“Pagi semuanya.”
Tim bengong.
Aura hari ini beda. Bukan aura “deadline”, tapi aura “hidup terasa indah”.
—
Lift hampir nutup…
Ayyara keluar.
Langkah pelan. Mata 50 watt. Rambut dikuncir asal. Tas miring. Wajahnya kayak orang yang hidupnya baru saja dilewati truk emosi.
Dia berhenti sebentar liat pantulan kaca.
“Ini mata gue kenapa kayak habis begadang jaga bayi + skripsi + kiamat kecil…”
.
Tim present konsep dengan jantung deg-degan.
Biasanya:
“Kurang kuat.”
“Revisi.”
“Belum dapet feel.”
Hari ini?
Erika lihat slide.
Angguk.
“Bagus. Lanjut.”
Ruangan hening.
Ikky bisik ke Adam:
“Ini… kita di timeline alternatif?”
.
Mouse digerakin… tapi layarnya nggak berubah. Kosong. Jiwa belum login.
Tini geser kursi pelan.
“Kamu sakit?”
“Kurang tidur…”
Tini liat kondisi Ayyara.
Liat sekilas ke ruangan Erika yang lagi ketawa kecil sama klien.
Balik lagi ke Ayyara.
Alis naik.
Tapi…
Dia diem.
Karena banyak orang.
.
Cuma mereka berdua.
Tini langsung:
“Oke. Sekarang ngomong.”
“Apaan…”
“Dia seger banget. Kamu kayak zombie season final. Korelasinya jelas.”
Ayyara langsung nutup muka pake tangan.
“TINII…”
Tini nahan ketawa.
“Gue nggak nanya detail. Gue cuma ilmuwan yang mengamati fenomena.”
.
.
Ikky muncul.
“Ay cuti akhir tahun fix kan?”
“Iya…”
Adam langsung nimbrung, agak semangat.
“Liburan ke mana?”
“Bali mungkin.”
Ikky:
“Wah cocok tuh. Adam juga Bali.”
Adam senyum salah tingkah.
“Hehe iya…”
Ayyara: 😐
.
.
Erika sebenarnya cuma mau ke printer.
Tapi langkahnya melambat sedikit waktu lihat:
Adam berdiri deket meja Ayyara.
Mereka ngobrol.
Wajah Erika tetap profesional.
Tapi matanya?
Sedikit menyipit. Tipis. Cepat. Lalu netral lagi.
Dia berhenti.
“Ayyara, saya perlu file revisi yang kemarin.”
Nada datar. Formal.
Adam langsung minggir.
“Oh iya Bu.”
“Kurang tidur?” Erika tanya pelan.
Ayyara cuma melirik, malu + kesel campur jadi satu.
“Biasa.”
“Minum vitamin.”
Nada atasan.
Tatapan… beda cerita.
.
.
Tini udah di sana.
Begitu Ayyara masuk—
“Cemburu tipis tadi.”
“NGGAK.”
“Matanya loh. Mata istri posesif tapi profesional.”
Ayyara cubit lengan Tini.
“diem bisa nggak sih kak Tinii?!”
Tini angkat tangan.
“Tenang. Rahasia aman. Gue ini kuburan berjalan.”
.
.
Adam balik lagi.
“Ay nanti lunch tim marketing bareng ya?”
Belum sempat jawab—
Dari jauh Erika:
“Adam.”
Adam berdiri. “Iya Bu?”
“File kamu saya tunggu sekarang.”
Nada sopan. Tapi tajam presisi.
Adam langsung balik ke meja.
Tini yang lihat dari kejauhan cuma bisik ke Ayyara pelan banget:
“Protective mode halus.”
.
.
Ayyara nguap gede.
Erika lewat, berhenti.
“Kalau capek, pulang duluan aja.”
Orang lain mikir: baik banget ya atasannya.
Ayyara cuma angguk pelan.
Tini lihat interaksi itu.
Senyum kecil.
Tapi dia langsung balik kerja, seolah nggak lihat apa-apa.
Karena perannya jelas:
Sahabat. Saksi. Penyimpan rahasia.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
