Merajuk

1K 87 5
                                        

Baru setengah jam mereka duduk, ngobrol ngalor-ngidul, suasana mulai cair. Tama sudah sedikit nyaman di kursinya, meski masih sesekali melirik aneh ke kedekatan Erika dan Ayyara. Annya, Kayla, dan Revan sudah masuk mode komentator diam-diam yang sibuk makan sambil pasang telinga.

Lalu… masuklah dua orang dari arah pintu restoran.

Seorang perempuan pengasuh berseragam daycare, menggendong Calista yang baru bangun tidur. Rambutnya berantakan lucu, pipinya merah, dan mata agak burem karena baru melek.

Begitu mata Calista melihat Erika…
—SOROTAN HIDUPNYA LANGSUNG AKTIF.

“MAMAAA!”

Satu restoran nengok.

Ayyara kaget, “Lho kok dia—”

Ternyata pengasuhnya nganter balik karena daycare sudah tutup lebih cepat dan mereka nggak sempat kabarin.

Erika berdiri, menerima Calista dengan tenang seperti sudah terbiasa jadi pusat gravitasi bayi. Calista langsung meluk leher Erika dan nyium pipinya berkali-kali kayak stempel parkir.

“Mama… mamamaa…” rengeknya manja.

Kayla refleks tutup mulut pakai tangan, “HAHHH—”
Revan bisik panik, “INIIIII KENAPA MACAM TIKTOK LIVE.”

Annya memasang senyum maut, “Lucunyaaa…”

Tama menatap Erika dan Calista… lama. Pandangannya berubah dari bingung, ke penasaran, ke… *oh???*

Dia memiringkan kepala, “Jadi… ini anak…?”

Erika belum sempat jawab, Calista langsung bablas manjat duduk di pangkuannya seperti tuan tanah.

Ayyara mencoba ambil Calista supaya nggak terlalu nempel.
“Tuh, sini sama—”

Calista dorong tangan Ayyara pake telapak penuh wibawa bayi.
“nnoo nooo nooo! MAMAAA!”

Ayyara bengong, “Ini bocah kok tau timing nyusahin.”

Dan lucunya lagi—Calista malah nyeplos sambil ketawa, “Mama… tattaa…” sambil elus pipi Erika.

Revan hampir semprot jus ke Kayla.

Tama merhatiin momen itu sambil menarik kesimpulan-kesimpulan liar.

“…Jadi… dia anak kamu?”
Nada suaranya tenang, tapi matanya penuh kalkulasi masa lalu.

Ayyara sontak noleh, “HAH?!”
Kayla bingung, “Anak???”
Revan ikut bodoh, “Ya kita kan diem-diem ngumpul bareng, mungkin maksudnya kami semua???”

Annya tepuk jidat.

Erika yang biasanya tenang, cuma bilang datar, “Bukan.”

Tapi Tama sudah lanjut sendiri, “Dulu kamu pernah nginep bareng aku, sekali… waktu masih—”

BRAK.

Sendok Ayyara jatuh ke piring.

Kayla langsung batuk palsu sampai merah kuping, “BATU KERAS INI AIRNYAA!!”

Ayyara mulai kehilangan oksigen, “Dia bukan ana..k”

Ayyara menatap bocah itu dengan sorot *AKU TIDAK BOLEH MEMAKI, ADA BAYI DI DEPAN UMUM.*

Annya menunduk nahan tawa. Revan udah masuk mode rekam visual buat bahan ejekan besok. Kayla cuma berdoa biar lantai amblas.

Tama makin yakin, “Kalau bukan anakmu, kenapa dia nempel banget sama kamu? Dan manggil mama—”

Ayyara ngegas dingin, “Karena DIA MEMANG NGEFANS SAMA SEMUA YANG KERJA, BERGIGI BAGUS, DAN BERAMBUT LURUS. NEXT.” walau sarkas, tapi nada bicaranya sangat pelan

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang