Mall Bandung, sore hari.
Ayyara dan Sheila baru saja keluar dari studio foto, masih membawa envelope hasil cetakan foto mereka.
Sheila bercerita antusias soal café aesthetic yang akan mereka kunjungi setelah karaoke… sampai tiba-tiba Ayyara berhenti mendadak
Karena di depan mereka, berdiri seseorang yang tak mungkin ada di sini.
Erika.
Menggunakan baju kerja, wajah pucat karena perjalanan, napas seperti baru saja lari maraton.
Matanya langsung mengunci pada Ayyara seolah tak percaya tapi juga tak mau melepaskan lagi.
Sheila berbisik,
“Ayy… itu bos kamu?”
Ayyara kaget, panik, dan… gugup.
Tapi gengsi lebih tinggi.
“Kenapa kamu di sini?”
Nada suaranya dingin, terlalu dingin untuk menutupi degup jantungnya yang berantakan.
Erika tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia hanya mengambil satu langkah… lalu langkah berikutnya…
Hingga cukup dekat untuk menggenggam lengan Ayyara.
Genggamannya kuat, bukan menyakiti lebih seperti takut kehilangan
“Aku sudah cari kamu dari pagi,” suara Erika bergetar.
“Aku pikir sesuatu terjadi.”
Sheila merasakan hawa tegang. Ia mencoba tersenyum canggung.
“Aku… sepertinya harus pulang dulu ya. Good night, Ayy.”
Lalu ia pergi secepat mungkin.
Sekarang hanya mereka berdua.
Terjebak dalam jarak terlalu dekat… dalam emosi terlalu padat.
Ayyara pelan menarik lengannya — tapi tetap ditahan Erika.
“Lepasin… orang-orang lihat,” desisnya.
“Biarin,” jawab Erika, pelan tapi sangat serius.
Hening sesaat.
Hening yang berat.
“Kalau kamu marah… oke, aku terima"
Erika menunduk menatap;genggamannya agar tidak bergetar
“Tapi jangan hilang begitu saja…”
Ayyara menggigit ujung bibir, masih ingin memprotes.
“Aku butuh waktu sendiri,” katanya keras kepala.
“Aku cuma—”
“Kamu bisa bilang itu. Kamu bisa marah ke aku.” Erika mendongak, sorot matanya tajam, tapi lelah.
“Tapi jangan hilang kontak seperti ini.”
Ayyara diam.
Karena sebenarnya — bagian terdalam dirinya senang, Erika datang mencarinya sejauh ini.
Tapi gengsinya masih meliuk-liuk.
“Sekarang ikut aku,” Erika akhirnya berkata, Nada ‘bos besar’ yang tak bisa dilawan.
Ayyara hendak menolak lagi
tapi Erika sudah menuntunnya pergi…
Sampai parkiran basement, dimana sebuah mobil hitam sudah menunggu.
Sopir membuka pintu depan untuk Erika, tapi Erika menggeleng.
“Saya yang nyetir.”
Sopir segera memberi kunci.
Ayyara memandang mobil itu heran.
“Ini… mobil siapa?”
“sewa,” jawab Erika singkat.
“Kenapa kamu begitu jauh datang—”
“Karena kamu gak ada kabar.”
*Duar.*
Kalimat itu menghantam dinding benteng gengsi Ayyara.
Ayyara tak lagi bicara.
Dengan wajah masih merajuk, ia masuk mobil dan menatap ke arah jendela
tapi mata itu diam-diam mencuri pandang ke Erika yang memasang sabuk dengan gemetar halus.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Ficción GeneralTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
