"Aku Suka"

1.4K 129 4
                                        

Begitu sampai, suasana terasa janggal tapi… nyaman.
Erika tampak ringan, tidak seperti biasanya yang langsung menutup diri begitu masuk rumah.

Ia justru sibuk menyiapkan minuman dan mengganti pakaian ke sesuatu yang lebih santai — sweater abu lembut dan celana panjang longgar.

Ayyara duduk di sofa, masih memandangi layar TV yang belum dinyalakan.

“Kamu mau makan lagi?” tanya Erika dari dapur.
“Udah kenyang.”
“Kalau gitu nonton aja, ya? Besok kan weekend.”
“Nonton apa?”
“Film rekomendasi Kayla. Katanya bagus.”
“kak Kayla? Jangan bilang filmnya romantis.”
“Ya, memang.”
“Astaga…”
“Kenapa? Gak mau?”
“Kamu nonton film romantis?”
“Lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Cara pakai perasaan.”

Jawaban itu membuat Ayyara spontan terdiam.
Dan entah kenapa, tawa kecil lolos dari bibirnya.

“Lucu banget kamu ngomong gitu.”
“Aku serius.”
“Ya ampun, ibu Erikaaa…”

Erika berjalan mendekat, duduk di sebelahnya. Jaraknya terlalu dekat.
Mereka menonton film itu. awalnya hanya adegan ringan, tawa kecil, kisah cinta manis dua orang yang saling menahan perasaan.

Tapi lama kelamaan, intensitas film meningkat.

Adegan mendalam, musik lembut, dan kamera yang menyorot dua tokoh utama yang menatap satu sama lain dalam diam.

Dan di detik itu, Erika tanpa sadar memegang tangan Ayyara.
Awalnya pelan, seperti iseng.

Jemarinya hanya menyentuh ujung tangan Ayyara, seolah ingin memastikan sesuatu yang abstrak: masih bolehkah aku sedekat ini?

Ayyara menoleh, tapi tidak menepis.
Ia biarkan sentuhan itu menetap.
“Kamu… gak biasa nonton film beginian,” gumam Ayyara, suaranya rendah.
“Aku tahu.”
“Terus kenapa sekarang?”
“Karena aku pengen ngerti kenapa orang bisa nangis cuma gara-gara adegan begini.”

Mereka kembali menatap layar, tapi detak jantung masing-masing terdengar terlalu keras.

Erika masih menggenggam tangan Ayyara — semakin lama, genggamannya semakin kuat, semakin tulus.

Setiap kali adegan romantis muncul, Ayyara bisa merasakan jari-jari Erika bergerak, menyusuri punggung tangannya dengan lembut.

Hangat. Aman. Tapi juga… membingungkan.
Dan ketika film mencapai bagian puncak sang tokoh wanita menangis, memeluk kekasihnya yang baru ia sadari sangat ia butuhkan. Ayyara menoleh.

Erika juga menatapnya.

Mata mereka bertemu di antara cahaya layar TV yang redup.

Tak ada kata, hanya keheningan panjang.
Lalu, tanpa sadar, Erika mengusap pipi Ayyara.
“Kamu nangis?”
“Enggak…”
“Kamu gampang banget kebawa suasana.”
“Terus kamu kenapa liatin aku kayak gitu?”
“Karena aku juga kebawa.”
Ayyara tertawa kecil, meski nadanya bergetar.
“Kebawa gimana?”
“Gak tahu. Tapi aku gak mau filmnya selesai.”

Erika menatap layar lagi, tapi matanya sudah tak fokus pada cerita di sana.
Yang ia lihat hanyalah sosok di sampingnya — yang selama ini membuat segala logika di kepalanya perlahan meleleh.

Dan di detik itu, Ayyara sadar…
Entah ini cinta, rasa tanggung jawab, atau sekadar kehilangan yang terlalu dalam — tapi satu hal pasti:
Erika tak lagi bisa berpura-pura bahwa hatinya dingin.
.
.

“Antara Tatapan dan Detak”
Film sudah berakhir, tapi lampu di ruang tamu belum juga dinyalakan.

Layar televisi masih menampilkan kredit berjalan, sementara suara napas dua orang di atas sofa terasa lebih jelas dari apa pun yang ada di ruangan itu.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang