114

6.5K 475 51
                                        

"Tante boleh bicara berdua sama adik kamu?" tanya Chika meminta izin pada kaka dari Dira. panggil saja Mathew

Mathew terdiam sebentar menatap Chika, lalu beralih menatap Dira yang sedang menatapnya dengan sendu. bahkan, Dira semakin kuat menggenggam tangan kaka nya saat ini

"Tante ga bakal apa-apain Dira kok. Tante mau minta maaf sama Dira. jadi, boleh tante minta waktunya buat bicara berdua sama Dira?" tutur Chika yang mengerti tatapan Mathew padanya

Dira menatap Mathew sambil menggelengkan kepalanya pelan. ia tak ingin ditinggal oleh kaka nya

"ya udah, kalo Dira nya ga mau" Chika menangkap itu "kamu disini aja nak" pintanya yang mendapati anggukan  kecil dari Mathew "Tante tetep mau bicara sama Dira" lanjutnya

segera bangkit Mathew dari duduknya. ia lepas paksa genggaman tangan Dira padanya, lalu mempersilahkan Chika duduk

"ka..." cicit Dira menatap Mathew dengan suara serak. bahkan, matanya saat ini sudah berkaca-kaca. takut dirinya jika sang kaka meninggalkan

Mathew berjalan ke sisi bangsal sebelahnya. kembali ia genggam tangan Dira "Kaka disini kok" ucapnya "Tante bicara aja. saya ga akan ganggu kok" lanjutnya yang diangguki oleh Chika

satu tangan Chika, mulai bergerak memberikan elusan di puncak kepala Dira.

namun, Dira tak memalingkan pandangannya dari sang kaka.

"kaa.." panggil Chika dengan suara yang terdengar sangat lembut

panggilannya tak membuat Dira langsung menoleh ke arahnya. ia masih setia menatap kaka nya

"maafin bunda.."

tangan Chika beralih memberikan elusan di pipi Dira dengan punggung tangannya

Mathew mengangguk kecil sambil memberikan senyuman tipis pada Dira. seolah meyakinkan Dira, bahwa ada ia disini. jadi, tak perlu takut

dengan ragu, Dira menatap Chika

"maafin bunda yaa" sesal Chika "pertama, sikap bunda ke kaka waktu di villa, yang tiba-tiba diemin kaka tanpa kaka ketahui penyebabnya. kedua, maafin bunda udah bikin kaka sakit hati karena denger cerita bunda ke ian kemarin malem. bunda cuman khawatir ka, mengingat adiknya kaka yang pernah ngancem dedek waktu disekolah. di tambah, mimpi bunda yang dimana dedek hampir aja mau dirusak sama dia" lanjutnya dengan lirih. bahkan, Chika sudah meneteskan air matanya yang tak disadari olehnya

"maaf yaa. bunda udah berprasangka buruk sama kaka. bunda udah berpikiran kalo kaka itu anak ga bener. mimpi itu kaya nyata ka. yang bikin bunda khawatir, bunda tau anak yang ngancem dedek itu ternyata adik kamu, awalnya dari mimpi itu. dan, ternyata beneran dia adik kamu. bunda jadi makin khawatir ka, sama anak-anak bunda. bunda taku-

"aku ga pantes buat ian. masih banyak kan bun? wanita yang lebih baik dari aku di luar sana?" Dira tersenyum kecut "aku kan wanita ga bener, bahkan murahan. jadi, gapapa kok, kalo hubungan aku sama ian ngga lanjut. takutnya, tar aku nyakitin ian"

setelah berucap itu, air mata Dira keluar melalui ujung matanya, yang langsung Dira usap dengan cepat

Mathew yang mendengar keputusan Dira, ingin sekali dirinya membuka suara. namun, ia tahan. tak ingin mengganggu waktu keduanya. biarkan keduanya saling melampiaskan keganjalan di hati nya masing-masing

Chika menggelengkan kepalanya diiringi isakan kecil "ngga. ian sayang banget sama kamu, ka. maafin bunda. kemarin bunda cuman takut aja. mimpinya bener-bener kaya nyata hiks.."

"bunda kayak gini demi ian kan? bunda ga mau kan ngeliat ian sedih? bunda ngelakuin ini karena ian, bukan karena kemauan bunda"

"ngga! bunda kayak gini karena bunda ngerasa bersalah juga sama kaka. bunda udah berpikiran yang ngga-ngga tentang kaka. bunda beneran nyesel ka. karena mimpi itu, pikiran bunda kemarin bener-bener ga bisa tenang. maafin bunda. bunda mohon.. bunda janji, kalo ada yang ganjal di hati bunda soal kaka, bunda bakal langsung cerita ke kaka juga. bunda ga akan tiba-tiba berubah sikap diemin kaka kaya kemarin lagi"

Kesayangan BundaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang