saat ini Alran sudah berada dikediaman Dira untuk menemui Marlo. to the point langsung Alran pada Marlo. ia sudah menyimpan laptop miliknya di atas meja depan Marlo. rekap video rekaman cctv sikap Afdhal pada Christy Alran tunjukkan pada Marlo, hingga Afdhal yang sudah berani mengancam Christy
"dia anakmu?" tanya Alran setelah rekaman videonya selesai
Marlo mengangguk pelan sebagai jawaban
"bagaimana cara kamu mendidiknya? berani sekali anak itu mengancam putri saya? sebelumnya sudah diberi peringatan oleh Tian agar tidak lagi mengganggu ketenangan anak saya di sekolah. tapi ternyata malah makin berani anak itu?" Alran menatap datar Marlo, dengan kedua lengan melipat didepan dada. punggungnya bersandar ke sandaran sofa
"mau tidak mau, akan saya keluarkan dari sekolah. tidak peduli dia adiknya Dira atau anakmu, sebelum dia berani macam-macam pada putri saya. saya yang akan lebih dulu berbuat macam-macam padanya" lanjutnya
"silahkan tuan. saya benar-benar malu. buat dia kapok sekalian. saya sudah cape memarahinya. dia tidak pernah mendengarkan saya setiap saya memberinya nasihat" ucap Marlo dengan nada rendahnya serta kepalanya sedikit menunduk, merasa malu dirinya saat ini pada Alran
"tapi tuan.." lanjutnya menatap Alran
Alran masih memasang wajah datarnya
"Dira anak gadis saya satu-satunya. dia bukan anak murahan. tuan boleh kok ngatain saya ayah yang gak bener, atau gagal mendidik anak. tapi, kalau anak gadis saya dituduh ngelakuin hal yang ga pernah dia lakuin, jelas saya ga terima tuan" tutur Marlo
"asal tuan tau. semalaman Dira nangis. bahkan, dia baru tidur tadi. ga tega saya lihatnya" lanjutnya
Alran yang mendengar itu merasa tak enak pada Marlo dan Dira
"untuk hal itu saya minta maaf tuan. ini berawal dari mimpi istri saya kemarin. dia terlalu takut mimpinya akan menjadi kenyataan. saya tau kalau istri saya tidak mau anaknya disakiti. tapi, disisi lain, dia udah nyakitin hati nya Dira. saya mengakui bahwa istri saya memang salah. nanti akan saya bahas lagi masalah ini dengan istri saya" jelas Alran
"kalau tuan dan keluarga ragu dengan anak saya, kalian boleh kok batalin rencana hubungan Dira dan putra tuan untuk ke tahap selanjutnya"
"ngga!" tegas Alran "saya percaya kok, kalo Dira itu anak baik-baik. buktinya, anak saya aja kecintaan banget dengan anakmu. tolong maafin keluarga saya kalo udah bikin Dira ngerasain sakit di hatinya" lanjutnya
Marlo mengangguk pelan "akan saya maafkan, kalau Dira memaafkan"
Alran menghela nafasnya pelan dengan kepala mengangguk kecil "ya sudah, kalau gitu saya izin pamit. saya akan mengurus lebih dulu anakmu disekolah"
"perihal Afdhal, saya serahkan pada tuan sepenuhnya. terserah, tuan akan apakan anak itu. saya sudah lelah menghadapinya"
Alran mengangguk lalu berdiri. ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana "kalau bisa, setelah ini, bawa anak itu pergi jauh dari sini. ke luar negeri sekalian. sekali lagi, maafkan saya dan keluarga karena sudah membuat Dira merasakan sakit di hati nya. saya akan selesaikan ini secepatnya. kalau begitu saya langsung pamit tuan"
Marlo ikut berdiri dengan kepala mengangguk pelan "biar nanti saya suruh anak sulung saya datang ke sekolah. saya akan mengurus kepindahannya secepatnya"
•••
sore hari di kediaman Mahendra. Imel, Chika, Rara, Christy, dan Aca saat ini sedang berada di halaman belakang rumah. mereka duduk di atas rerumputan yang sudah di alasi karpet tipis. terdapat beberapa cemilan di tengah-tengah karpetnya. ceritanya lagi piknik-piknikan.
