Tiga hari berlalu
Chika baru pulih kembali dari sakitnya setelah beberapa hari belakangan ini tumbang.
Pagi ini, ia sudah sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya
Ditengah kegiatannya, ia dikejutkan dengan kedua lengan yang melingkar di perutnya serta kepala yang bersandar di bahunya
"Hufhhh.." ia menghela nafasnya lega saat mengetahui pelaku yang memeluk dirinya dari belakang
"Kok udah bangun, hum?" Tanyanya. Pasalnya, semalam Tian tidur pukul 2 dini hari. Chika tau, karena ia ada mengecek ke kamar Tian semalam, saat dirinya sudah mengambil minum di dapur
"Laper" jawabnya dengan suara yang terdengar serak
"Sebentar yaa, ini dikit lagi mateng. Abangnya tungguin dulu, sambil duduk" pinta Chika
Tian menegakkan kepalanya, serta melepas pelukan pada bundanya
"Bunda udah enakan?" Tanyanya
"Udah sayang.. bunda udah ngerasa enak nih"
Tian tersenyum manis
Cup
"Jangan telat makan lagi yaa bun. Bunda jangan cape-cape juga"
"Iyaa, jagoan bunda.." jawab Chika sambil memberikan elusan di sebelah pipi Tian dengan punggung tangannya
"Abang tungguin di meja makan. Udah mateng ini nasi gorengnya"
Tian mengangguk patuh, lalu berjalan ke arah meja makan. Sementara Chika, ia memindahkan terlebih dahulu hasil masakannya ke mangkuk yang berukuran besar
Setelahnya, Chika menyimpannya di tengah-tengah meja makan. Ia langsung memindahkan nasi goreng buatannya ke piring
"Mau pake apa, bang?" Tanya Chika
"Eum.. mau naget" jawabnya
"Telurnya ga mau?"
"Ngga" tolak Tian yang mendapati anggukan kecil dari Chika
"Mau suapin sama bunda aja" lanjutnya
Chika mendudukkan dirinya di kursi sebelah Tian, dan mulai menyendok nasi gorengnya
Singkat waktu, Tian sudah menghabiskan satu piring nasi gorengnya.
"Bunda, abang mau bobo lagi yaa"
"No.. tunggu dulu, jangan langsung bobo. Biar turun dulu makanannya" larang Chika
"Yhh.. bunda~" protes Tian diiringi rengekan kecil
Chika bangkit dari duduknya, memberi kecupan di pipi Tian, lalu mengacak pelan rambut Tian
"Tungguin dulu, kalo makanannya udah turun, baru boleh lanjut lagi bobonya" titahnya, lalu ia mengambil piring bekas Tian dan membawanya ke wastafel
Dengan malas, Tian menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menghela nafasnya panjang
"Abang mau puding buah!" Pinta Tian dengan suara yang tak santai
Chika membalikkan tubuhnya, melipat kedua lengannya di depan dada dengan wajah yang sudah ia pasang datar
"Apa?" Tanya Chika santai
"Mau puding buah" jawab Tian
"Abang tadi mintanya kurang baik, coba bilang lagi yang baik. Bunda ga pernah ajarin anak-anak bunda minta sesuatu secara ga baik kaya tadi. Ga enak bunda dengernya"
"Abang mau puding buah, bunda" ulang Tian, kali ini dengan suara yang lembut
"Nah, kan enak dengernya kalo kaya gitu"
