Bulan demi bulan berlalu, namun Tian belum mengajak Dira pergi bulan madu. Maka dari itu, sekarang ini ia akan memberi surprise kepada istrinya berupa tiket pesawat ke luar negeri
Tian tak akan memberinya begitu saja. Ia akan mengerjai istrinya terlebih dahulu
Tian menyimpan sebuah amplop yang bertuliskan berisi tiket pesawat di atas meja nakas. Yang isinya sudah ia ganti. Lalu ia pergi keluar, selagi menunggu Dira yang masih mandi
Tak berselang lama, Dira yang sudah selesai dengan kegiatan mandi nya. Ia langsung mengenakan pakaiannya
Setelah beberapa menit, Dira sudah selesai. Ia berjalan ke meja nakas berniat ingin mengambil ponselnya. Namun, tatapannya jatuh ke amplop yang sengaja Tian simpan disitu
"Tiket pesawat ke luar negeri?" Gumam Dira mengambil amplop itu "ian mau ke luar negeri? Kok ga bilang-bilang sih" lanjutnya mulai membuka amplop putih itu
Saat membuka amplopnya, bukannya mendapati tiket nya, ia justru malah mendapati sebuah kertas yang dilipat sesuai ukuran amplop
Dira menyimpan amplopnya. Ia membuka kertasnya untuk melihat isi di dalam kertas tersebut
"Kok hasil pemeriksaan dari rumah sakit?" Bingung Dira
Dira begitu fokus melihat tulisan demi tulisan yang ada di dalam kertas tersebut
"M-maksudnya? Ga! Ga mungkin!" Dira menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat dari dalam kertas tersebut. Yang merupakan, hasil pemeriksaan atas nama suaminya
"Ian baik-baik aja! Ga mungkin sakit. Ini bukan sakit biasa!" Gumam Dira
Dira menutup mulutnya, dengan tangis yang sudah keluar. Karena tubuhnya yang tiba-tiba merasa lemas, ia duduk di sisian kasur. Masih menangis, dengan kepala menunduk
"Kamu sehat, iannn. Kamu ga mungkin sakit.. hikss"
Dengan masih menangis, Dira bangkit dan langsung berjalan dengan tergesa ke luar kamar untuk mencari Tian
Namun, saat baru keluar kamar justru ia langsung bertemu dengan mertuanya yang sedang menggendong si bungsu
"Ka? Kamu kenapa?" Tanya Chika menghampiri Dira
"Hikss hiks bun..." Dira memeluk tubuh Chika bersamaan Christy karena berada digendongan Chika
Christy yang berada digendongan Chika, menyerong kan tubuhnya memeluk Dira
"Ka Dira kenapa?" Tanya anak itu
"Abang yang bikin kaka nangis? Di apain sama abang hum?"
Bukannya menjawab, Dira malah semakin menambah tangisnya
"Bunda.. hikss hikss Ian sejak kapan sakit, bun?"
"Hum? Ian sakit? Ngga. Ian ga sakit sayang. Ian sehat kok" jawab Chika
Dira melerai pelukannya pada Chika. Ia belum berhenti menangis. Dira memberikan kertasnya pada Chika
Chika menerima itu, dan mulai membacanya dengan serius. Christy juga ikut membacanya walaupun ia tak mengerti apa isi didalamnya
"Kanker?" Bingung Chika "masa kanker ah? Sejak kapan Abang sakit?" Lanjut Chika
"Aku ga tau bunda hiksss. Ian ga ada bilang apa-apa sama bunda?"
"Ga ada kaa. Abang ga ada bilang apa-apa atau ngeluhin apapun ke bunda. Bunda paham banget sama abang. Dia tuh kalo ngerasa ada yang ga enak sama badan nya, pasti selalu bilang. Bunda ga yakin ini abang tiba-tiba kanker gini. Mana Abang nya?" Tanya Chika
