Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(gambaran villa nya)
•••
malam harinya
pukul 11 malam, villa sudah terlihat sepi. karena beberapa dari mereka sudah memasuki kamarnya untuk beristirahat
berbeda dengan Tian yang saat ini sedang duduk sendirian di kursi meja makan dengan di depannya terdapat segelas air mineral.
Tian tak dapat beristirahat karena khawatir dengan kondisi Dira yang tiba-tiba drop.
tadi, saat sedang berkumpul di ruang tengah, Dira terlihat sangat pucat. bahkan, ia sempat muntah juga beberapa kali. mungkin karena ia sedang masuk angin. pasalnya, Tian sempat mengajak Dira berjalan-jalan keluar untuk mencari angin sebentar. hanya sebentar
Tian menghela nafasnya panjang dengan kepala menunduk, dan kedua tangannya memegangi gelas di depannya
"kalo kamu sakit, besok bakal gagal dong rencananya" gumam Tian pelan "ga! jangan sampai sakit sayang.. besok hari yang aku tunggu-tunggu" lanjutnya
Tian tersentak kaget saat ada yang memegangi bahunya
"hufhhh bunda" kaget Tian setelah menghela nafasnya lega
"kenapa belum tidur hm?" tanya Chika
"Dira gimana bun?" tanya Tian balik dengan wajah penuh ke khawatiran
"hey.. jangan terlalu dijadiin beban pikiran. Dira cuman masuk angin aja. pasti besok udah baikan lagi" jawab Chika menangkup kedua pipi Tian "sekarang Dira nya udah tidur. tadi udah bunda pakein minyak angin. Abang tidur juga yaa. jangan banyak pikiran, nanti malah drop juga abang nya. besok kan hari yang paling abang nantikan. kalo abang drop, nanti malah batal yang ada" lanjutnya
"ga mau, ga boleh bun. harus jadi"
"makanya abang istirahat. jangan terlalu banyak pikiran. calonnya bakal bunda tanganin sampai pulih lagi pokonya. bunda jamin besok udah pulih lagi"
Tian mengangguk pelan. kedua lengannya memeluk pinggang Chika dengan kepala yang disandarkan di perut Chika
tangan Chika pun bergerak mengusap lembut kepala Tian
Yap, ada maksud terkait rencana dadakan berlibur ke puncak ini. yaitu Tian yang akan mengikat Dira, melamarnya. untuk menikahinya, Tian ingin dirinya menyelesaikan terlebih dahulu pendidikannya dan jika sudah mempunyai usaha, pasti ia akan segera menikahinya
"makasih bunda" ucap Tian tanpa mengubah posisinya
"iyaa. dah, bobo gih. udah malem"
"mau sama bunda" pinta Tian
"boleh. abang ke kamar duluan aja. bunda mau ambil minum dulu"
"sama bunda aja"
"sama bunda, sama bunda, sama bunda" ucap Chika dengan gemas lalu mengecup puncak kepala Tian