PERAN PENGGANTI [7]

31 15 4
                                        

Tanpa banyak kata sesuai karakternya, Satya melingkarkan kedua tangan kokohnya di pinggang ramping Yumna. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian yang tulus, dia mengangkat tubuh Yumna, lalu menukar posisi mereka. Satya mendudukkan Yumna dengan nyaman di atas sofa single itu. Sementara dia sendiri berdiri tepat di hadapannya, mengurung Yumna dengan kedua tangan di sisi sofa.

​Jari-jemari Satya yang besar dan hangat terulur. Dia menyentuh lembut pipi Yumna, ibu jarinya menghapus sisa air mata yang masih berjejak di kulit halus perempuan itu.

Yumna mendongak, terpaku pada sorot mata Satya yang kini melunak, jauh dari kesan angkuh atau acuh tak acuh yang biasa dia tunjukkan.

​Satya merunduk sedikit. Dia mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan hangat di kening Yumna, Membiarkan bibirnya menempel di sana beberapa detik sebelum kembali menegakkan tubuh dan meninggalkan usapan singkat di puncak kepala Yumna.

"Jangan nangis lagi."

"Okey."

Pertama kalinya aku liatin sisi rapuhku di depan Satya. Permasalahanku dan Sasmita di hari ketiga pernikahan itu, sebenarnya gak mau aku katakan ke siapapun, tapi karna aku harus rebut simpati Satya aku harus serapuh mungkin.

***

Suasana di kediaman Romo dan Raden Ayu terasa jauh lebih cair. Satya memang tetap menjadi pria yang irit bicara, namun tatapan dan gerak-geriknya pada Yumna jauh lebih lembut dan penuh perhatian terselubung.

Sebelum mereka berdua melangkah keluar kamar menuju pendopo belakang, Satya tiba-tiba menghentikan langkah Yumna. Pria itu meraih sehelai syal scarf dari atas nakas.

​"Pakai ini," kata Satya singkat sambil melingkarkan scarf ke leher Yumna kemudian mengikatnya sederhana.

​Yumna mengerjap, lalu tersenyum tipis saat menyadari alasan di balik tindakan Satya. "Aku bisa nutupin pakai bedak."

​Satya hanya melirik sekilas dengan sebelah alis terangkat, memasang ekspresi dingin andalannya meski telinganya sedikit memerah. "Jejaknya terlalu banyak. Nanti kamu kerepotan."

Yumna mendecih. "Makanya jangan gragas." (Gragas = rakus)

"Beruntung kamu, saya masih tau batasan."

Yumna yang salah tingkah segera menarik diri. Kemudian buru-buru berbalik keluar dari ruangan menyesakkan itu. Tidak sehat untuk jantung jika lama-lama.

Di area dekat kolam ikan koi yang luas, airnya bergemercik tenang. Satya dan Yumna berjalan mendekat menyusuri taman.

"Kalau aku tinggal disini, tempat ini pasti jadi favoritku deh. Tempat ngisi ulang energi yang bagus. Kalau Mas Satya?"

"Gak ada. Saya bosan sama tempat ini."

"Susah emang ngomong sama kanebo."

"Apa?"

"Ini lagi ngomong sama ikan. Peletnya mana, Mas?" Bisa sekali Yumna memelintir omongannya. Satya mengambil sekantong kertas pakan ikan lalu diberikannya pada Yumna.

Ratusan ikan berwarna jingga dan putih berenang beriringan di bawah permukaan jernih. Yumna berdiri di tepi kolam sambil menaburkan segenggam pelet ikan. Tawa kecilnya lolos saat ikan-ikan itu berebut makanan hingga menciptakan riak air.

Satya berdiri tepat di sampingnya, kedua tangannya bersidekap di dada dengan kaos polos lengan panjang dengan dua kancing bagian atas dan lengan digulung sebatas siku. Matanya tidak menatap kolam, melainkan terpaku lurus pada wajah Yumna yang terlihat lebih cerah dari biasanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 6 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang