Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PERAN PENGGANTI [6]

24 11 7
                                        


"Yumna.."

"Iya ibu. Ada yang bisa Yumna bantu?"

"Duduklah, cah ayu. Ibu sudah menantikan momen ini semenjak bertemu dengan kamu."

Yumna mengeryit tetapi mengikuti perintah ibu mertuanya.

"Bagaimana kabar ibuk dan bapakmu?"

"Sehat, ibu. Meskipun saya jarang berkunjung tapi kami sering bertukar kabar lewat telfon atau video call."

Raden Ayu mengusap tepian cangkir porselen yang dia pegang di depan wajahnya. Kepulan asap samar terasa hangat. Senyum kecil itu sarat akan makna.

"Apa kamu ndak sedikitpun penasaran penyebab kematian Yuni?"

Yumna menegang, terkejut karena Raden Ayu tiba-tiba membahas kakaknya. "Mbak Yuni meninggal karna komplikasi di sistem pencernaannya. Kata ibuk, alwalnya diare, lalu muntah darah dan dehidrasi."

Raden Ayu meletakkan cangkirnya, perlahan mendekat lalu menyelipkan helai rambut Yumna ke belakang telinganya.

"Ibu yakin ndak sesederhana itu."

"Maksud ibu?"

"Pertama kali saya melihat mbakmu di pertunjukan teater daerah. Dilihat dari wajahnya saja sudah pasti anak itu lemah lembut. Ibu suka dengan dia. Pilihan tepat memilihnya sebagai menantu. Ndak lama setelah itu, saya dapat kabar dia sakit. Satya ndak datang di acara lamaran, tapi saya sempat menunjukkan foto Satya pada mbakmu. Saya tertawa saat tau dia salah paham tentang siapa yang dijodohkan dengannya. Acara siraman mbakmu, ibu juga ada disana. Wajah ayu itu terlihat pucat. Besoknya, mbakmu dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia."

Kesedihan kembali membalut perasaan Yumna. Dadanya terasa dicubit, mata yang berkaca-kaca membuat pandangannya agak buram.

"Kamu harus tau satu hal janggal."

Yumna mengangkat wajahnya menatap Raden Ayu dengan tanda tanya besar di kepala. Menyimak dengan baik apa yang ingin disampaikan.

"Dia mulai sakit tepat setelah hari pertemuan bapakmu dan Romo di keraton. Di awal mereka membahas perjodohan demi membalas budi."

Potongan kecil percakapan Raden Ayu dan salah satu emban keraton di hari itu teringat kembali.

'Ndoro Ayu, tadi saya lihat Mbak Sasmita kesini cari Ndoro Satya.'

'Sasmita? Lalu kemana dia? Kenapa ndak masuk?'

'Tadi saya tinggal ke dapur karna Mbak Sasmita bilang mau cari Ndoro Satya sendiri dan suruh saya buatkan minum. Tapi pas saya balik, Mbak Sasmita ndak tau dimana. Saya pikir ke ruangan kerja Ndoro Satya, tapi saya dikasih tau emban yang lain kalau Ndoro Satya keluar sejak pagi.'

"Jadi maksud ibu ada yang ndak suka dengan perjodohan itu?"

"Tentu." Raden Ayu membuka ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah akun sosial media. "Ibu tidak suka menuduh. Tapi feeling ibu tidak pernah meleset. Di akun resmi teater daerah, mbakmu ada hubungan dekat dengan Sasmita. Mereka itu, teman satu sanggar teater."

Sasmita teman Mbak Yuni?

Jemari Yumna gemetar meremat roknya di pangkuan. Jantungnya berdegup kencang.

Apa kematian Mbak Yuni ada hubungannya dengan Sasmita?

Raden Ayu kembali menyesap teh hijaunya sejenak, lalu menatap lurus ke arah Yumna dengan sorot mata yang menyiratkan beban masa lalu yang panjang. Suaranya terdengar berat namun tenang.

​"Bukan hanya soal kecurigaan pada kematian Yuni. Yumna.. ada cerita lain yang harus kamu tahu kenapa semua benang kusut ini bermuara pada Sasmita," ucap Raden Ayu lirih.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang