Semenjak kehadiran Juan dan Siska yang merupakan Opa dan Oma dari si kembar Aland dan Alano. Suasana rumah begitu ramai, seperti saat ini, Siska dan Jihan terlihat sudah berkutik di dapur.
"Bun, itu si Anna gapapa ditinggal sendirian di rumah?" Tanya Jihan.
Siska menggeleng. "Gapapa, udah biasa dia." Jihan pun hanya ber'oh'ria.
"Btw, gimana hubungan kamu sama Andra? Baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah Bun, baik-baik aja. Ya meskipun kadang Andra suka nyebelin." Siska terkekeh mendengarnya.
"Waktu itu dia pernah ngambil ayam goreng yang udah aku siapin untuk kucing liar yang ada di depan teras rumah yang alhasil bikin lantai teras rumah jadi kotor padahal dia tau aku baru aja selesai ngepel."
"Gak jauh beda sama ayahnya, dan sekarang nurun ke anak-anaknya."
"Tapi aku bersyukur Bun, anak-anak masih wajar nakalnya, gak sampe bikin aku dipanggil ke sekolah." Siska lagi-lagi terkekeh mendengar cerita dari menantunya tersebut.
"Kalau bunda dulu udah kepalang frustasi tiap kali suami kamu itu dipanggil ke ruang BK, gak ada kapoknya dihukum tuh anak, dan kalau dikasih tau, alasannya nakal itu wajarlah, ini lah, itu lah." Jelas Siska.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata memerhatikan mereka dari jarak cukup dekat sembari tersenyum. "Kalau mau ngomongin orangnya tuh jangan di dalem rumahnya dong, noh di dalem kolam biar gak kedenger." Pekik orang itu cukup keras membuat Siska dan Jihan terkejut.
Orang tersebut berjalan menghampiri Siska dan Jihan. "Papah udah bangun? Ini kan masih jam 3 shubuh?" Tanya Jihan pada suaminya, Andra. Ya, orang tersebut adalah Andra.
Sedangkan Siska terlihat tersenyum bangga melihat putra ternakal nya yang dulu selalu ia marahi sekarang tumbuh menjadi seorang papah yang mampu bertanggung jawab.
"Iya, papah haus, air di kamar udah abis makanya papah ke dapur, eh ada bidadari-bidadari aku nemplok disini ternyata." Ujar Andra.
Siska dan Jihan sama-sama berdecak sebal. "Nemplok, dikata bunda sama istri kamu ini cicak apa?!" Andra terkekeh.
"Bukan, mungkin lebih cocok dibilang toke." Jawab Andra.
Siska mencebikkan bibir kesal, anaknya ini masih sama, masih jago bikin dia kesal. "Serah kamu deh," ucap Siska pasrah.
"Si ayah mana, Bun?"
"Masih tidur, semenjak pensiun ayah kamu males-malesan mulu, bangun susah, mandi apalagi, giliran baca koran aja gercep." Curhat Siska membuat Andra lagi-lagi terkekeh.
"Wajar kali, bun, yang gak wajar itu kalau ayah nyari-nyari uang receh dibawah meja. Dulu sih masih bisa bangkit, aku bangunin. Kalau sekarang mungkin dah gak bisa bangkit lagi, yang ada kita harus geser tuh meja." Pikir Andra.
Siska hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap putranya. "Udah sana, kamu balik tidur aja, ganggu kalau kamu ada disini."
"Iya-iya, ini mau ngambil minum dulu." Kemudian Andra beranjak mengambil sebuah gelas kaca dan menuangkan air kedalamnya.
Setelah itu ia melirik ke arah Siska dan Jihan. "Aku balik ke kamar yah, semangat masaknya, jangan lupa nyalain kompornya." Ujar Andra seketika mengundang gelak tawa Siska dan Jihan.
"Yaiyalah nyalain kompornya, yakali enggak, mau matangnya gimana." Balas Jihan.
Andra terkekeh, "Ya berarti aku bener kan?"
"Yauda iya yauda iya, iyain aja biar cepet." Timpal Siska dengan nada kesal.
***
06.15 a.m.
Terlihat seorang pria paruh baya yang tengah menuruni anak tangga dengan rambutnya yang masih basah.
"Bun! Bunda!" Pekik pria tersebut.
Ia berjalan ke arah sofa ruang keluarga dan mendudukinya. "Bun! Bunda!" Pekiknya sekali lagi.
Tak lama pun datang seorang wanita paruh baya dengan tatapan kesal yang terhias diwajahnya. "Ayah tuh apa-apaan sih, teriak-teriak. Dipikir bunda tuh conge apa, udah tua kok makin bikin kesel." Omel wanita paruh baya tersebut.
"Hehe, bunda jangan marah-marah, ntar cepet tua lho."
"Udah tua dari dulu, ayah!" Pria tersebut terkekeh menatap wanita di depannya ini.
"Bunda tadi kemana?"
"Masak,"
"Masaknya pasti pakek api kan?"
"Enggak, aku masaknya pakek gas."
"Ih bunda Siska tuh lucu deh." Puji pria tersebut.
Wanita yang tak lain adalah Siska pun hanya bergidik ngerti menatap pria didepannya ini. "Ih si ayah kok makin tua makin genit ih."
"Siska, kamu cantik deh." Ucap pria itu lalu bangkit dari duduknya.
"Tau, kalau gak cantik gak mungkin kamu suka aku."
"Sis--" belum sempat pria tersebut melanjutkan ucapannya, Siska sudah lebih dahulu memotong ucapannya.
"APAAN SIH JUAN? KAMU MANGGIL AKU CUMAN BUAT BASA-BASI KEK GINI, AKU TUH SIBUK TAU GAK!" Omel Siska pada suaminya, Juan.
Juan terkekeh. "Jihan mana, Bun?" Siska memutar bola matanya malas, suaminya ini pintar sekali mengalihkan pembicaraan.
"Ada di dapur,"
"Udah, sekarang mending kamu bangunin cucu-cucu kamu yang kebo itu, suruh mereka mandi, sekolah!" Lanjut Siska sembari mendorong tubuh Juan menjual tangga.
Dan dengan kesal pun Juan mengikuti apa yang diperintahkan oleh istrinya tersebut.
Bersambung...
******
Wkwk, udah next nih.
Aku kasih saran buat kalian yang jomblo, baca nya malem aja biar di rumah ada kerjaan selain nunggu ada yang nge-chat, wkwk. Canda gaes.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROTHERHOOD : Aland & Alano
Humor-Sequel from the story of BAD BOY- "Karena nakal harus tau aturan!" Ini kisah si kembar Aland dan Alano. Kembar yang unik dan terkesan seperti orang gila. Tingkah mereka bahkan apa yang melintas dari otak mereka pun tak mencerminkan sepasang sauda...
