22 - Opa & Oma

8.9K 652 33
                                        

-Aland's Pov

Gue menatap gusar handphone gue sedari tadi, pasalnya si Alano daritadi gue telpon gak diangkat angkat.

Gue pun kembali mendial nomor nya dan menempatkan handphone gue pada telinga.

Drtt... Drtt .. Drtt...

"Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak dapat dipacari, silahkan pacari beberapa orang lagi." Gue terbelalak lalu dengan segera melepaskan handphone gue.

Ini gak salah tadi tuh operator ngomong gitu? Edan banget. Masa gue kek dikira mau pacarin si Alano kali, masa pedang sama pedang sih, dikira anak kecil kali ah main pedang-pedangan.

"Si Ano kemana sih? Bikin khawatir aja!" Gue menetap ke seluruh penjuru sekolah.

Keadaan sekolah udah sepi, karena sekolah udah bubar dari setengah jam yang lalu. "Gimana, Land? Masih belum bisa di telpon si Ano?" Gue hanya mengangguk ketika Reyhan bertanya.

Masih ingatkah kalian dengan Reyhan? Yang waktu itu nolongin gue dari pak Zain, kalau lupa coba ingat-ingat siapa tau ingat.

"Udahlah, mungkin si Ano duluan kali." Timpal Amar, salah satu temen gue setelah Reyhan.

Gue menggeleng. "Gak mungkin, orang kunci si Alando ada di gue!"

"Ya mungkin aja si Ano naek angkot." Kali ini Adnan ikut menimpal.

"Gak mungkin, mana kuat dia naek angkot, yang ada habis itu dia muntah-muntah."

"Terus dia kemana dong?" Gue mengedikkan bahu gue acuh.

Ting!

Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari handphone gue membuat gue segera membukanya.

AlanoSableng : P
AlanoSableng : Maaf td gk tau lu nelpon
AlanoSableng : Tungguin gue, bentar lagi gue ke parkiran td ada rapat OSIS mendadak

Gue membaca satu persatu isi pesan tersebut lalu menghela nafas lega, ini anak hobby bener sih bikin gue khawatir.

Aland Ganasiar : Bilang dong daritadi_- (read)
Aland Ganasiar : Bikin orang khawatir aja (read)
Aland Ganasiar : Yaudah cepet, GPL! (read)

Kebiasaan nih anak, just read mulu kerjaannya. Untung gue sabar.

"Dari siapa, Land?" Tanya Amar.

"Dari si Ano, ternyata ada rapat OSIS. Yaudah kita masuk aja yuk ke si Alando daripada kepanasan diluar." Ajak gue kemudian mereka berdua mengangguk.

FYI, Alando itu adalah sebuah mobil milik gue dan Alano yang diberikan oleh papah tercinta kita sebagai hadiah ulang tahun di tahun kemarin.

***

Clek...

Gue mengalihkan pandangan gue dan mendapati Alano yang baru saja masuk ke dalam mobil kita yang diberi nama Alando.

"Huh! Capek anjir gila," gumamnya tak gue perdulikan.

Ia menoleh ke arah kursi belakang dan terkekeh ketika melihat Amar, Adnan dan Reyhan yang tengah tertidur. "Udah lama tuh mereka ngebo?"

"Ya lumayanlah, sekitar lima belas menit yang lalu."

"Ck, kebo banget tuh bertiga."

"Kayak elu enggak aja, No." Alano hanya terkekeh mendengar ucapan gue.

"Elu juga sama, Land." Gue tak mengindahkan ucapannya, karena itu emang bener.

"Kita anterin mereka dulu yak!"

"Eh, btw kata papah sama mamah, hari ini Oma sama Opa mau datang." Gue mengernyit bingung.

"Ngapain?"

"Gak tau, tanyain aja ntar." Lalu gue hanya mengangguk kemudian melakukan Aliand menuju rumah Amar terlebih dahulu, setelah itu baru rumah Reyhan.

***

Seusai mengantarkan Amar, Adnan dan Reyhan pulang ke rumah mereka masing-masing, gue dan Alano pun tiba di rumah kami, terlihat sebuah mobil mewah yang gue yakini milik Opa gue.

Ya, Opa gue itu adalah pengoleksi mobil mewah, gak heran kalau kemana-mana pasti pakek mobil mewah.

Oh iya, ini bukan bermaksud ria yah. Hanya ngasih tau aja.

Tok... Tok... Tok...

"Assalamu'alaikum," salam gue dan Alano bersamaan kemudian gue membuka pintu rumah.

Clek...

"Wa'alaikumsalam." Saat itu juga gue dan Alano sama-sama terlonjak kaget.

Gimana enggak, baru masuk tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya di depan kalian. "Eh cucu-cucunya Oma udah pulang, gimana di sekolah tadi?" Tanya Oma sedangkan gue dan Alano menyalimi Oma.

"Biasa aja, Oma. Gak ada manis-manisnya, karena bukan Re Rinerale. Eh? Kok jadi sponsor sih?" Gue menggaruk kepala dengan malu.

Bisa-bisanya gue sponsor air mineral, apa kata dunia seorang Aland Ganasiar nge-endors air mineral, gak elite amat.

"Opa mana Oma?"

"Tuh! Lagi baca koran, semenjak Opa kalian pensiun dia pacarannya sama koran mulu, Oma diangurin." Ujar Oma mendramatisir.

Huft...
Kenapa kehidupan keluarga gue ini penuh akan drama sih? Effect takut pada kenyataan mah gini nih.

"Nenek kebanyakan nonton sinetron Indosiar sih, makannya jadi kek gini."

"Tante Anna gak ikut, Oma?" Tanya Alano.

"Enggak, akhir-akhir ini dia sibuk banget sama pacarnya." Sontak gue terbelalak.

"Yang bener, Oma? Tante Anna udah punya pacar? Kok ada sih yang mau sama dia?"

Tuk!

Gue menggeram kesal dan menoleh ke arah Alano yang tadi memukul kepala gue. "Eh ogeb! Bener-bener lu, hobby yah lu pukul pala ganteng gue ini? Iya tau kok gue ganteng, tapi gak mesti pukul-pukul pala gue juga kali. Gak sopan lu jadi adek,"

"Elu jadi kakak ngomongnya malah gitu, gue kan cuman negur."

"Ndazmu negur! Itu bukan lagi fase negur tapi udah fase penganiayaan!"

"Lu tuh yang ser--"

"UDAH STOP! KALIAN BERDUA INI UDAH BESAR! UDAH BUKAN WAKTUNYA BERANTEM KEK GINI! SEKARANG MASUK KE KAMAR KALIAN MASING-MASING HABIS ITU MANDI!" Seketika pun gue dan Alano mengangguk lalu berlari menuju kamar kita masing-masing.

Bersambung...

******

Hai hai:) gimana sama part kali ini? Ada yang berkesan gak? Kalau ada apa tuh?

Btw, gue mau tau, menurut kalian, selama kalian baca cerita ini, gimana perasaan kalian? Jawab yang jujur yah karena gue udah capek sama bohong, wkwk.

BROTHERHOOD : Aland & AlanoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang