-Sequel from the story of BAD BOY-
"Karena nakal harus tau aturan!"
Ini kisah si kembar Aland dan Alano. Kembar yang unik dan terkesan seperti orang gila.
Tingkah mereka bahkan apa yang melintas dari otak mereka pun tak mencerminkan sepasang sauda...
Eits, sebelum kalian protes karena gua lama update nya, gua mau numpang promosi dulu, whehe.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa follow akun-akun di atas, lebih utama follow akun gua sih😂 canda deng:v
Terserah kalian, mau follow gua atau @rizkytajulia juga gapapa😋
Oke udah boleh ngomel, silahkan!
Tapi lagi-lagi, baca aja dulu:) oke selamat membaca:)
***
- Alano's Pov
Gue merengangkan kedua tangan gue pegal, kemudian membuang nafas kasar. Pandangan gue teralih pada jendela ruangan yang sudah mulai menggelap.
Ternyata bekerja sebagi dokter anak tidak gampang, ada saja kedapatan pasien yang menangis tidak ingin di suntik dan apalah itu.
Dan itu gue rasakan sejak duduk di bangku kuliah, mulai dari menyusun ulang skripsi, kemudian sidang yang membuat gugup setengah mati hingga dinyatakan lulus.
Sebelumnya, gua telah mengikuti koas di salah satu rumah sakit di Oxford sebelum akhirnya di nyatakan lulus dengan gelar dokter.
Meskipun terbilang dokter baru, tapi gue sama sekali gak ngerasa baru. Apalagi kerja di rumah sakit papah, gue udah kenal seluk-beluk rumah sakit ini sejak gue lahir.
Banyak dari dokter dan suster disini yang mengenal gue, hal itu membuat gue mudah beradaptasi.
Meskipun terkadang banyak para dokter senior yang terkesan lebih menghormati gue ketika berpapasan.
Alasannya simple, karena gue ini anak dari pemilik rumah sakit. Dan hal itu yang gue sesali, gue ingin berbaur, menjadi seorang dokter pada umumnya.
Tanpa ada perlakuan spesial.
"Selamat siang Dr. Alano." Terdengar suara tak asing yang merasuki indra pendengaran gue. Dan ketika gue membuka mata, seketika gue terlonjak kaget.
Sedangkan pemilik suara tersebut malah tertawa menatap gue, "Aura? Sejak kapan lo disitu?" Tanya gue kaget, siapa yang gak kaget coba, lu lagi asik dengan pikiran lu sendiri habis itu tiba-tiba bidadari muncul. Eak.
"Baru aja," jawabnya membuat gue bingung. "Tapi kok aku gak denger suara pintu?" Tanya gue sekali lagi.
Aura mengedikkan bahunya acuh, "mana aku tau, kamu tuli kali." Jawabnya asal membuat gue melotot.
"Astagfirullah, lancar banget bilang tuli nya." Pekik gue sedangkan Aura hanya terkekeh.
Kemudian Aura berjalan ke arah gue kemudian duduk di kursi depan meja gue, ia terlihat meletakkan sebuah rantang makanan di meja gue. "Aku bawain kamu makan." Aku menatapnya heran.