Setelah selesai persalinan, Naura segera dilarikan ke ruang inap. Keluarga Andra dan Bagir pun terlihat berbondong-bondong masuk ke dalam ruang dimana Naura dirawat.
Semuanya terlihat sangat bahagia, terutama Rey dan Naura. Mereka bahagia ketika anak pertama mereka terlahir dengan selamat.
"Laki-laki apa perempuan, Rey?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Siska, ia terlihat sangat bahagia.
"Belum tau, Bun. Kita tunggu suster aja yah."
Tak lama dari itu, terdengar suara pintu terbuka. Seketika mereka mengalihkan pandangan pada pintu kemudian tersenyum.
Ternyata yang datang adalah suster dan dokter, namun yang lebih membahagiakan lagi, terlihat seorang bayi mungil di gendongan salah satu suster yang datang.
"Selamat yah pak Rey, anak bapak laki-laki. Sehat tidak kekurangan apapun." Ucap dokter yang menangani Naura.
Rey terlihat mengucap syukur, ia menoleh pada Naura yang juga tengah menatapnya. "Alhamdulillah yah, sayang, bayi kita lahir sehat."
Naura mengangguk, "iya mas, alhamdulilah."
"Silahkan pak, putra bapak boleh di adzani terlebih dahulu. Setelah itu segera di berikan ke ibu nya yah, untuk dilakukan pemberian ASI untuk pertama kalinya." Ucap suster yang terlihat tengah menggendong bayi.
Rey mengangguk dan mengambil alih anaknya dari gendongan suster tersebut untuk segera di adzani.
Disisi lain, Andra, Jihan dan kedua anaknya, Aland dan Alano terlihat tengah terduduk tak jauh dari brangkar dimana Naura terbaring.
"Oh iya, papah tau gak? Ternyata nemenin orang lahiran itu gak semenyeramkan yang papah ceritain. Buktinya aku cuman disuruh elus-elus perut Tante Naura kok. Kalau menurut papah nemenin orang lahiran itu kayak satu atap sama malaikat maut, mungkin itu nasib papah aja yang jelek." Andra berdecak sebal.
Sedari tadi, kerjaan Alano hanyalah menceritakan apa yang terjadi saat ia menemani Naura lahiran.
Hal itu membuat Andra berdecak sebal, namun tak dapat ia pungkiri bahwa ia juga bersyukur saat melihat Alano keluar dari ruang operasi dengan selamat.
"Tau nih, papah kamu tuh lebay amat sih." Ledek Jihan.
"Iya terus aja ngatain papah lebay, gini-gini juga tanpa papah kalian gak akan lahir ke dunia." Bela Andra.
"Iya tau kok, kan kita sperma terbaik papah!" Pekik Aland dan Alano bersamaan.
Jihan hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan unik Aland, Alano dan suaminya itu.
"Udah ah, aku mending liatin bayi nya om Rey." Ujar Alano berlalu menghampiri brangkar Naura.
Tak lama dari itu, Aland ikut menyahut. "Aland juga ah," katanya mengikuti Alano yang sudah lebih dahulu menghampiri brangkar Naura.
Mereka berdua berlalu pergi meninggalkan Jihan dan Andra berdua. "Mah, bikin lagi yuk!" Pekik Andra membuat Jihan mengernyit bingung.
"Bikin? Bikin apaan?"
Andra menunjuk bayi yang tengah berada di gendongan Naura. "Kayak punyanya Rey sama Naura." Jelas Andra.
Jihan yang mengerti pembahasan suaminya itu pun berdecak sebal, "gak mau ah, bikin aja sono sama setan."
"Emang bisa yah?"
"Bisa kali."
"Yaudah ntar aku coba bikin deh sama setan nya Claudya." Mendengar itu sontak Jihan menolehkan matanya, menatap Andra tajam.
"Awas aja kalau berani, aku sunat lagi kamu!" Ancam Jihan membuat Andra seketika merasakan ngilu.
"Jahat kamu, yang."
"Bodo!"
"Eh kalian ini, malah asik pacaran, ayo dong diliat keponakannya." Suara itu berasal dari belakang mereka membuat keduanya sama-sama menoleh.
Dan seketika Andra menyungingkan senyumnya menatap seorang wanita paruh baya yang tengah berkacak pinggang. "Eh, bunda, sejak kapan, Bun?"
"Banyak tanya, itu sana samperin keponakan kamu." Andra pun hanya mengangguk, kemudian ia menarik tangan Jihan untuk menghampiri brangkar Naura.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 22.39 malam, tapi ruang rawat Naura masih terlihat ramai. Tentunya dengan kehadiran Andra dan keluarganya.
"Ndra, Rey, gue balik yah, nyonya besar udah nungguin di rumah. Tadinya mau nginep tapi takut nyonya besar marah." Pamit Dirga diangguki keduanya.
Saat hendak melangkah keluar, ia kembali berucap. "Kalau bokap sama nyokap nanya, bilangin gue balik duluan yak."
"Siap bang!" Jawab keduanya.
"Hati-hati bang di jalannya, kalau ada lampu merah berhenti." Dirga berdecak sebal.
Sedangkan Andra, yang mengucapkan kalimat itu hanya terkekeh. "Lho, gue bener lho." Bela nya.
Sedangkan Dirga, ia lebih memilih untuk tidak menanggapi apa yang Andra katakan. Karena baginya, Andra itu urat waras nya udah putus jadi percuma kalau di tanggapi.
Setelah kepulangan Dirga, Rey beralih menghampiri anaknya yang sudah diberi nama Fariz Pratama yang kini tengah berada di samping Naura yang sudah tertidur.
"Kak Jihan sama anak-anak lu mana, bang?" Tanya Rey heran ketika sedari tadi tidak melihat kakak ipar dan kedua keponakannya itu.
"Oh mereka, ada kok. Gue suruh mereka tidur di ruangan gue aja, kan ada kamar kecil tuh di dalamnya." Rey pun hanya ber-oh iya.
"Bangunin Ayah sama Bunda aja kali yah, kasihan mereka tidurnya di sofa gitu." Saran Andra ketika melihat kedua orangtuanya yang tengah tertidur di sofa tak jauh dari mereka.
Rey pun hanya mengangguk, dan tanpa pikir panjang, Andra menghampiri kedua orangtuanya. "Yah, Bun, bangun." Panggil Andra.
Namun baik Juan dan Siska tampak semakin terlelap, "Yah, Bun, bangun." Panggil Andra sekali lagi sambil menguncangkan tubuh keduanya.
Akhirnya pun, keduanya sama-sama membuka mata. "Apaan sih, Ndra? Bangunin bunda segala, udah tau ngantuk."
"Iya nih, ayah ngantuk tau."
"Ayo pulang, Andra anterin ke rumah. Daripada disini, ntar pegal-pegal. Alamat ke tukang urut deh kalau udah pegel-pegel."
Juan dan Siska pun sama-sama mengangguk, mereka bangkit dan tak lupa berpamitan pada Rey.
Sedangkan Andra, ia memilih mengantarkan kedua orangtuanya itu sampai rumah karena takut Juan tidak bisa menyetir karena masih mengantuk.
Bersambung...
******
Wesss wesss ini cerita kok makin gaje y? Tau ah, yang penting udah next, whehe.
Mungkin untuk part kali ini emang scene Aland Alano nya gak terlalu banyak tapi tenang, di part selanjutnya kalian bisa nikmati Aland Alano lagi kok.
Eh? Kok nikmati? Emang mereka ice cream! Astaghfirullah! Puasa Ki, puasa! Ngomongin makanan makruh tau, whehe.
Abaikan author receh ini yah guys:') emang kayak gini kalau lagi laper:v
KAMU SEDANG MEMBACA
BROTHERHOOD : Aland & Alano
Humor-Sequel from the story of BAD BOY- "Karena nakal harus tau aturan!" Ini kisah si kembar Aland dan Alano. Kembar yang unik dan terkesan seperti orang gila. Tingkah mereka bahkan apa yang melintas dari otak mereka pun tak mencerminkan sepasang sauda...
