Cukup lama berada di situasi ini layaknya patung, Alden berbalik, kembali naik ke lantai tiga tanpa memberitahu Dyra. Niatnya yang tadinya akan belajar di ruang tengah lantai dua dia urungkan. Tahu kondisi.
Dyra yang melihat Alden kembali ke lantai tiga, kini tersenyum tipis.
Setidaknya, apa yang Dyra duga sebelumnya tidak akan terjadi.
Bergegas, dia mengikuti Alden untuk kembali naik ke lantai tiga.
***
Sama seperti Alden yang tidak mau melihat ini semua lama-lama, Athaya berbalik dan menuruni tangga menuju lantai satu. Masih sambil menunduk, Atha berjalan cepat menuju ke halaman belakang. Dia harus menengkan diri di tempat yang bisa lumayan sepi. Di jam menuju sore seperti ini, pelayan jarang ada di sini karena mereka biasa membersihkan dan merapikan halaman belakang saat di pagi hari. Atha harus bisa menghentikan tangisnya jika sesak hatinya belum bisa untuk dia hentikan. Sulit memang menghentikan sesak.
Duduk di kursi pantai depan kolam renang, Atha melepaskan isakan yang tadi dia tahan mati-matian. Sungguh, sakit sekali rasanya.
Cukup lama Atha menangis, sampai dia tidak sadar kalau langit yang kian mejingga, lama-lama sudah gelap juga dan matahari digantikan bulan.
Athaya tidak tahu sekarang jam berapa.
Dia ke sini, setidaknya menghilang lama pun, Arzha bahkan tak mencari.
Perlahan Atha bangkit, berjalan ke dekat kolam renang. Di pantulan air dia melihat bulan purnama yang bersinar terang, ia melihat juga wajahnya yang kusut efek dari sehabis menangis. Dahi Atha mengernyit, seberantakan itukah dia?
"Jadi, lo ada di sini?"
Ucapan orang itu membuat Atha menoleh ke sumber suara. Ada Stefie di sampingnya, yang tengah menyilangkan tangan di dada. Berpenampilan terbuka untuk ukuran berada di rumah dan jangan lupakan pula high heels-nya yang tinggi itu. Atha jadi merinding jika gadis itu tercebur karena kebodohannya.
Atha hanya diam saja. Melihat Stefie, dia jadi teringat Arzha yang bahkan tak melepas pelukan dari gadis ini. Rasanya masih sakit.
Stefie berjalan kian mendekat. Bibirnya yang dipoles lipstick merah nyala itu menyunggingkan senyum tipis yang di mana di mata Atha malah terlihat mirip ibu tiri yang akan menghukum Cinderella.
"Tha, maafin gue ya. Maafin gue yang tadi meluk laki lo."
Gadis itu memejamkan matanya sekilas. Lagi-lagi ingatan itu terbesit ada dalam benaknya, membuatnya makin dan makin sesak saja.
"Arzha itu definisi dari kesempurnaan." Ucapan Stefie membuat Atha kini membuka matanya serta menoleh menatap gadis itu. "Di mata gue, ada sesuatu di diri Arzha yang gak ada di dalam Alvin atau Alden."
Atha masih diam saja. Tidak berminat untuk menanggapinya.
Tunangan sepupu iparnya ini berdecak. "Apa gue blak-blakan aja, ya?"
Dahi Atha mengernyit. Tapi dia tidak mau bertanya.
Stefie memegang bahunya, mengubah posisi sehingga mereka kini saling berhadapan satu sama lain. Gadis itu menyunggingkan senyuman manis yang di mata Athaya justru terlihat mengerikan, sangat.
"Gue bilang sama lo, kalau gue sebenarnya cinta sama Arzha."
Mata Atha membulat tidak percaya. Apa katanya?
Tertawa, Stefie kembali bicara di sela-sela tawanya. "Jangan kaget banget gitu dong, darl. Maaf ya, meskipun lo isterinya Arzha, tapi gue tau kalau gue ada peluang kok, buat dapetin Arzha bahkan rebut dia dari lo."
Stefie mengatakan itu semua dengan nada biasa saja dan baik-baik saja.
Tetapi ucapan gadis itu yang tidak baik-baik, membuat Atha mengepalkan tangannya lantaran kesal. Di mana kesadaran gadis itu? Menyukai suami orang?
Tanpa merasa berdosa, Stefie mendongak menatap langit malam yang hari ini memang penuh dengan bintang yang menemani bulan.
"Lo yang diem aja, berarti lo setuju dong sama omongan gue."
Menarik nafas, Atha mendongak sedikit. Dia merasa kepercayaan dirinya mengurang. Stefie yang tinggi, ditambah heels yang ia pakai, membuatnya minder setengah mati. Apa daya Atha yang tubuhnya kurus kering, tidak begitu tinggi.
Terlebih tubuhnya pun tidak semolek Stefie. Apakah Arzha nantinya akan berlari ke Stefie lalu meninggalkannya?
"Aku diem aja bukan karena setuju sama omongan kamu." Athaya merasa suaranya bergetar, efek kesal dan sehabis menangis tadi. "Aku diem karena orang pintar gak banyak omong, terlebih anak kecil aja tau kalau mereka gak seharusnya rebutin permen yang dia suka, terlebih itu punya orang lain."
Ucapan Atha yang menyindirnya, dengan cepat merubah raut wajah Stefie.
Melihat Stefie yang mulai tersindir, Atha berani untuk bicara lagi. Ia juga heran kenapa dia bisa seberani ini mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku bener, kan?" Atha tersenyum tipis. "Bener kalau orang pinter apalagi yang seusia kita, pasti sadar diri. Pasti sadar diri tentang mana hal yang harus jadi miliknya, mana hal yang harus dia pertahankan, dan mana hal yang gak harus jadi miliknya, juga yang paling penting, mana hal yang nggak harus dia rebut apalagi itu milik orang lain-"
"Lo diem aja, gak usah banyak omong!"
Emosi, sambil berteriak memotong omongan Atha, Stefie mendorong Atha sampai gadis itu kini tercebur ke kolam renang yang kedalamannya tiga meter.
Kolam renang keluarga Rifai memang luas. Kedalamannya terdiri dari satu hingga tiga meter. Satu kolam renang dengan kedalaman yang berbeda.
Dan Atha tercebur di kedalaman tiga meter
Semuanya terjadi begitu cepat tanpa Atha duga. Tanpa dia sadar, tubuhnya sudah berada di dalam air. Sialnya, kakinya tiba-tiba keram sehingga dia kesulitan untuk naik ke permukaan.
Atha tenggelam.
Stefie yang berada di atas, masih emosi. Tanpa merasa bersalah, gadis itu pergi meninggalkan kolam renang dan masuk ke dalam rumah. Tidak peduli kalau Athaya bisa mati karena ulahnya.
Di dalam air, Atha menangis. Dalam hati dia meminta pertolongan supaya kakinya tidak sakit karena keram sehingga dia bisa berenang ke atas.
Ia hanya bisa mengandalkan dirinya dan pertolongan Tuhan karena sadar, tak akan ada yang mau untuk menyelamatkannya, kan?
Apalagi Arzha. Rasanya mustahil sekali.
Menatap bulan yang terpantul dari dalam air, dalam hati Atha berkata, apa mungkin ini akhir hidup aku? Tenggelam?Mati konyol karena didorong tunangan sepupu ipar yang sebelumnya bilang secara gamblang mau merebut suami kamu?
Meringis, bukannya Stefie yang tercebur karena heels-nya, malah dia yang dengan tanpa perasaan di dorong sampai tenggelam seperti ini.
Namun, di ambang batas kesadarannya, Atha seperti melihat kembali apa yang ia telah lewati, tentunya ada Arzha di dalamnya juga.
Kilatan masa lalu itu masuk ke benaknya. Terputar layaknya film yang di-set alur mundur. Dimulai dari wajah orangtuanya, kebersamaan mereka, bertemu Arzha, penindasan Arzha padanya dan ciuman pertamanya yang dicuri, tiba-tiba mereka dijodohkan, di jalan tol, menikah, kelakuan jahil laki-laki itu.
Dan yang terakhir, Arzha yang mulai berbeda padanya.
Sampai Arzha yang tadi menepis kasar tangannya, lalu, membentaknya.
Semua apa yang dia lalui terputar kembali dalam benaknya.
Sebelum gelap benar-benar menyambutnya dan tubuhnya makin turun ke dasar permukaan kolam renang, Atha melihat ada sosok yang berenang mendekat padanya, sambil mengulurkan tangan.
Seakan bisa menyelamatkannya dari kubangan perasaannya sendiri.
Ah, Atha bukan sekedar terjatuh, tapi dia sudah tenggelam.
Di dalam lautan perasaannya.
Apa itu kamu, Zha?
Karena aku berharap itu memang kamu...
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Life (After) Marriage [END]
RomansaCERITA SUDAH SELESAI #4 in Romance (30/01/20) #16 in Perjodohan (28/01/20) #26 in sma (11/01/19) #2 in luka, perasaan and tragedi (19/03/19) #9 in youngadult (02/08/19) #3in action (04/02/20) [RIFAI SERIES - I] (17+) Never let you go... Athaya mau t...
![Bad Life (After) Marriage [END]](https://img.wattpad.com/cover/91255074-64-k271856.jpg)