CERITA SUDAH SELESAI
#4 in Romance (30/01/20)
#16 in Perjodohan (28/01/20)
#26 in sma (11/01/19)
#2 in luka, perasaan and tragedi (19/03/19)
#9 in youngadult (02/08/19)
#3in action (04/02/20)
[RIFAI SERIES - I]
(17+)
Never let you go...
Athaya mau t...
Diantara banyak pertanyaan, Atha lebih penasaran dengan yang satu ini. Ia kadang bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah bisa suatu momen berhenti? Atha berharap iya, meski tahu itu tak akan mungkin karena waktu terus berjalan.
Dia akui, Manhattan yang merupakan bagian dari New York terlalu indah. Terlalu indah sampai-sampai rasanya dia tidak mau pulang. Hei, kemana kemarin Athaya yang menolak liburan? Tetapi sungguh, Manhattan akan dingatnya sampai kapanpun. Semua yang ada di sini, beserta semua kenangan yang dirinya dan juga Arzha abadikan dalam kamera, akan selalu dia simpan dalam hatinya.
Agak sedih juga menyadari fakta jika di hari keenam di Manhattan alias di esok hari, mereka harus pulang dan melakukan rutinitas seperti biasanya.
Hari ini Atha juga Arzha berkunjung ke Brooklyn Bridge, untuk foto-foto. Laki-laki itu juga tentu ingin mengabadikan momen di sana untuk dijadikan live jurnal, sementara Athaya untuk menambah koleksi polaroidnya, tentu saja.
Setelah menghabiskan satu jam di Brooklyn Bridge, mereka kini bertolak ke Central Park menggunakan Uber. Hanya empatbelas menit di jalan, tidak lama kemudian mereka sampai. Sejak dari Brooklyn Bridge hingga Central Park, Arzha masih terus merekam momen diantara mereka dan di sekitar mereka.
Arzhanka hanya merasa di hari terakhir ini, dia tak boleh menyia-nyiakan momen. Pasalnya, dia tahu benar momen itu sangat berharga, begitu pula dengan Athaya yang kadang memotret sesuatu dengan kamera ponselnya.
Intinya mereka berdua sama-sama menggunakan momen dengan baik.
Kalau Central Park katanya lebih cocok disambangi saat musim semi dan musim panas, menurut mereka, musim gugur juga cocok.
Ketika dedaunan berwarna kuning jatuh berguguran. Di sepanjang jalanan ada tumpukan guguran daun, yang beberapa dimainkan anak-anak. Semiman yang menunjukkan bakatnya membuat semua orang yang melihatnya terpesona. Athaya kagum melihat perpaduan itu semua. Totally perfect.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sama seperti Atha, Arzha pun sama. Kameranya terus merekam semuanya yang ada di sekitarnya. Sama-sama kagum melihatnya.
Sebuah keluarga yang sedang piknik pun tidak luput dari rekamannya laki-laki itu. Merekam seorang gadis kecil yang asyik memakan sandwich di pangkuan mamanya sambil menyemangati kakak laki-lakinya yang sedang bermain lempar bola dengan papanya. Lalu tak lupa merekam seorang kakek yang merangkul sang isterinya di atas bangku taman di dekat mereka.
Dalam hati Arzha bertanya, akankah dia dan Atha akan mengalami itu?
Tepukan di bahunya membuat Arzha berbalik, melihat Atha. Mau tak mau kini di layar kameranya menampilkan senyuman tipis isterinya. Sudah berkali-kali dia direkampun, entah kenapa Atha ingin sekali tertawa.
"Zha, kita jadi naik perahu?"
"Kalau kamu gak takut naiknya, kenapa nggak?"
Di atas perahu, Arzha bagian mendayuh sementara Atha giliran memegang kamera, merekam Arzha yang tampak menikmati siang hari di Central Park. Dia dan Arzhanka bisa dikatakan beruntung karena matahari hari ini tidak begitu terik. Atha masih merekam Arzha dan momen di sekitar mereka.