don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
____________________________________
RAGATA bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang terputar di dalam mobil. Disampingnya, Aleta hanya diam menatap pemandangan diluar mobil. Mobil tersebut melaju dijalanan kecil beraspal, diantara pesawahan menguning yang siap dipanen. Beberapa orang berpakaian khas Bali berjalan di sisi jalan sambil memikul karung di atas kepala mereka, dan berhenti sesaat ketika mobil tersebut melintas.
"Sebenarnya kita akan kemana?" tanya Aleta, mengalihkan pandangannya pada Ragata yang asyik menyetir.
"Ke rumah kakek dan nenekku." balas Ragata.
Aleta membelalakan matanya. "Kerumah kakek dan nenekmu?! Untuk apa?!"
Ragata menatap Aleta sesaat, "Memangnya kau tidak dengar di telpon tadi, jika nenekku menyuruhku menemuinya?"
Aleta mengangguk, teringat teriakan keras dari panggilan Ragata tadi. Teriakan itu sangat keras hingga membuat orang-orang melihat ke arah mereka dengan penasaran. Kalau sekarang mereka akan ke rumah kakek dan nenek Ragata, berarti pria itu orang Bali?
"Jadi kau orang Bali?"
"Bisa dikatakan seperti itu. Ayahku orang Bali." sahut Ragata.
"Dan ibumu?" tanya Aleta lagi. Melihat wajah Ragata, sepertinya pria itu memiliki darah blasteran dari ibunya. "Apa ibumu orang Korea?"
Ragata mengangguk, "Ya, ibuku berasal dari Korea Selatan." balasnya. "Wajahmu juga blasteran sepertiku. Apa salah satu orang tuamu orang Korea?"
"Ibuku blasteran Korea-Indonesia." sahut Aleta.
"Pantas saja. Lalu ayahmu?"
"Aku tidak tahu. Dia sudah meninggal sejak aku didalam kandungan."
Ragata melirik Aleta dari ujung matanya. "Aku minta maaf, aku tidak tahu."
Aleta tersenyum, "Tidak perlu minta maaf, aku sudah terbiasa dengan hal itu bahkan sebelum aku lahir ke dunia." balasnya.
Ragata menganggukkan kepalanya sekilas. "Ya, kurasa itu lebih baik dibanding kehilangan orang tuamu disaat kau sudah mengenalnya."
"Tidak ada yang lebih baik sebenarnya, karena itu tergantung sudut pandang kita dalam menyikapinya."
"Kau memang lebih dewasa dariku." Ragata terkekeh. "Sebentar lagi kita sampai. Jangan sungkan disana dan bersikaplah seperti biasa. Nenekku orang yang cukup mengintimidasi, jadi jangan sampai dia mengira kau salah satu wanita yang kutiduri." jelasnya.
"Lalu kenapa kau mengajakku kesini? Padahal aku bisa menunggu di villa."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di villa." sahut Ragata.
"Memangnya Bobby kemana?" Aleta menatap Ragata.
"Bobby sudah terlebih dahulu dipanggil oleh nenekku." Ragata kemudian menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas. "Turunlah. Aku akan memperkenalkanmu sebagai sahabatku."
Aleta menghela napasnya dan mengangguk. Kemudian dia turun mengikuti Ragata, dan berjalan memasuki area rumah tersebut. Rumah tersebut sangat besar dan terletak di pinggir sawah. Suasana asri rumah tersebut begitu menenangkan bagi siapapun yang berkunjung kesana. Pohon-pohon tinggi sengaja di tanam di sekitar rumah, membuat rumah tersebut tertutupi dahan-dahan pohon. Meskipun begitu, kesan angker atau horor tak terlihat sedikitpun dari rumah tersebut.
Sebuah sandal tiba-tiba melayang ke arah mereka, dan dengan cepat Ragata menghindari lemparan tersebut setelah mendorong Aleta menjauh. Pria itu bertepuk tangan takjub karena berhasil menghindari sandal neneknya yang bersejarah itu. Bagaimana tidak? Selama lebih dari 10 tahun neneknya memakai sandal tersebut dan tidak pernah rusak sedikit pun. Meskipun sudah ratusan kali dipakai neneknya untuk memukulnya, benar-benar sendal yang tahan banting.
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romance--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)