TUJUH BELAS

1.3K 117 5
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

___________________________________

HUJAN turun semakin deras saat Aleta berjalan di pintu keluar bandara. Langit begitu gelap, hanya memunculkan kilatan petir yang menyambar. Aleta mengedarkan pandangannya, menatap sekitar yang dipenuhi oleh banyak orang. Orang-orang tengah menunggu hujan reda dan berteduh di dalam area bandara sambil mengobrol.

Aleta menghela nafasnya sambil menatap hujan. Hujan turun semakin deras malam ini, disertai angin kencang. Pohon-pohon bergoyang mengikuti arah tiupan angin, tak ada seorang pun yang berada diluar ruangan karena hujan kali ini terlihat begitu mengerikan. Aleta merasa beruntung karena hujan turun saat dia sudah sampai di kota ini, dia tidak bisa membayangkan jika hujan seperti ini terjadi ketika dia masih berada didalam pesawat. Lebih baik dia menunggu hujan juga seperti yang lainnya disini, setelah reda nanti dia akan langsung mencari angkutan umum.

Setengah jam kemudian hujan mereda, tidak benar-benar reda hanya digantikan oleh gerimis kecil. Aleta melangkahkan kakinya setelah merapatkan jaketnya, menembus gerimis dan genangan air yang membasahi jalanan. Jarak dari bandara hingga jalan raya lumayan jauh, sehingga dia harus berjalan cukup lama untuk bisa sampai disana.

Kotanya masih tetap sama, ramai dan padat. Kendaraan berlalu lalang di depannya begitu banyak. Sepeda motor saling menyalip mencari celah di sela kemacetan. Meskipun sekarang sudah menunjukan pukul 9 malam, namun jalanan tersebut masih juga dipadati oleh berbagai macam kendaraan. Pantas saja kotanya kini dijuluki sebagai kota termacet di Indonesia.

Setelah menemukan angkutan umum yang mengarah ke rumahnya, Aleta dengan cepat memasukinya dan menghela nafas lega setelah duduk di dalamnya. Di dalam angkutan umum itu tidak terlalu penuh, hanya diisi oleh beberapa wanita dan pria. Sekarang sudah banyak aplikasi angkutan online, sehingga angkutan umum seperti ini sudah jarang dinaiki.

Lagu Panic At The Disco! lagi-lagi diputarnya, dan suara Brendon Urie seketika terdengar di kedua telinganya. Selama perjalanan lagu-lagu tersebut menemaninya, hingga 45 menit kemudian angkutan umum tersebut berhenti di tujuan Aleta. Setelah membayar Aleta melangkahkan kakinya memasuki gang kecil menuju rumahnya. Hujan sudah benar-benar reda saat dia berdiri di depan rumahnya.

Rumah dua lantai itu selalu terlihat sepi, seperti tak ada kehidupan didalamnya apalagi saat dia pergi seminggu ini. Keningnya mengernyit saat mendengar suara pecahan kaca terdengar dari dalam rumah. Setengah berlari dia masuk ke dalam rumah dan membelalak saat menemukan ibunya terbaring diatas lantai sambil menangis. Tak jauh dari ibunya, ayah tirinya tengah berdecak pinggang dengan berteriak marah.

"Bunda!" teriaknya, lalu menghampiri ibunya dan membantunya untuk duduk. "Kenapa bunda seperti ini?" tanyanya khawatir. Dia menggeram tertahan saat melihat wajah ibunya dipenuhi luka lebam.

Aleta mengalihkan pandangannya pada pria di depannya, "Apa yang kau lakukan pada bunda?" tanyanya dingin.

"Kemana saja kau selama seminggu ini? Hah?!" pria itu berjalan mendekat dan menarik tangan Aleta dengan keras. "Anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau pergi begitu saja dari sini!"

Aleta meringis, lalu menghempaskan tangan ayah tirinya dengan kuat. "Kemanapun aku pergi itu bukan urusanmu! Apa yang kau lakukan pada bundaku, hah?!"

Hercules menatap anak tirinya itu penuh kebencian. "Tanyakan saja pada bundamu itu."

Aleta mendelik tajam dan kembali menatap ibunya. "Bunda apa yang terjadi?" tanyanya kembut.

"Heh, kau punya uang? Berikan aku uangmu." Hercules menendang punggung Aleta yang tengah berjongkok.

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang