TIGA PULUH SEMBILAN

1.2K 129 7
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

____________________________________

Perjalanan menuju lokasi syuting malam itu memakan waktu sekitar 3 jam, sehingga hampir tengah malam mereka baru sampai di lokasi. Seakan tak mengenal waktu, lokasi syuting tersebut terlihat ramai oleh lalu lalang seluruh kru yang sibuk membangun set juga memasang alat. Lampu-lampu studio di pasang di beberapa titik lokasi, juga berbagai macam properti di pasang di setiap titik yang sudah ditentukan. Tempat kosong itu kini disulap menjadi sebuah perkampungan tradisional yang benar-benar terlihat sangat nyata.

Ragata menyapa setiap kru yang ditemuinya, tak lupa juga menyapa beberapa talent dan bintang tamu yang sudah datang disana. Setelah itu dia larut dengan pekerjaan bersama kru artistik dan videografi, menambahkan properti yang mendukung juga membahas pembagian pengambilan gambar.

Aleta duduk santai di dalam gazebo setelah mengobrol panjang lebar dengan para artis. Tangannya kini sibuk bermain di atas ponselnya, membaca satu persatu naskah sekali lagi dan mencatat hal apa saja yang perlu diberitahukan pada semua artis. Semilir angin malam membuatnya menggigil sesaat dan segera merapatkan jaket tebalnya juga syal di lehernya. Tempat tersebut tidak jauh dari pantai, itu sebabnya angin yang bertiup cukup kencang dari tempat lainnya. Dia kemudian menatap ke samping, melihat beberapa kru wanita yang tertidur di sampingnya. Untung mereka membawa banyak selimut tebal dari studio, jadinya mereka tidak terlalu khawatir terkena hipotermia.

"Kau tidak tidur?" Ragata tiba-tiba muncul di belakangnya sambil membawa segelas kopi. Pria itu memberikan cangkir kopi itu kepadanya. "Disini terlalu dingin, kau harusnya pindah ke penginapan." Katanya lagi.

"Disini juga sudah cukup." Aleta menyeruput pelan kopi panas tersebut, dan seketika rasa hangat memenuhi tenggorokan hingga ke perutnya. "Kau tidak akan tidur?" Tanyanya.

"Aku tidak tahu." Jawab Ragata, menatap sekilas ke belakang. "Jika semuanya sudah beres aku akan menyempatkan tidur sebentar."

Aleta menatap pada set di belakangnya, "Biarkan mereka beristirahat sebentar. Jangan sampai kau dan yang lainnya ambruk saat syuting nanti." Sarannya.

Ragata mengangguk, "Setelah semuanya beres aku akan menyuruh mereka beristirahat."

"Pakaianmu tidak ada yang lebih tebal?" Aleta menatap tubuh Ragata yang hanya dilapisi sweater hitam. "Kau tidak membawa jaket?"

"Ada di mobil."

"Pakai itu sekarang. Anginnya sangat kencang, kau bisa demam lagi."

"Oke." Ragata kemudian melangkah pergi menuju mobilnya, dan 5 menit kemudian pria itu kembali menghampiri Aleta dengan mengenakan sebuah jaket tebal.

"Itu lebih baik." Aleta mengomentari sambil menyesap kopinya. Matanya kini memandang ke depan, ke antara pepohonan sawit dan jalan kecil menuju pantai. Angin kencang terus bertiup dari arah sana, dalam kegelapan disertai suara debur ombak yang tak kentara.

Ragata memandang titik yang sama dan menghela nafas. "Kau ingin jalan-jalan kesana?" tanyanya, membuat Aleta menatap ke arahnya.

"Selesaikan dulu pekerjaanmu, baru kita jalan-jalan kesana."

"Baiklah." Ragata tersenyum sebelum melangkah pergi.

Aleta kembali memandang ke titik yang sama, tersenyum kecil saat mendengar suara deburan ombak yang semakin jelas. Kakinya turun perlahan, membiarkannya mengayun saat dia duduk di pinggir gazebo. Udara semakin terasa dingin, mungkin karena malam semakin larut, dan malam pun semakin gelap membuat bintang-bintang semakin jelas terlihat. Katanya jika bintang muncul pertanda hujan tidak akan datang esok hari. Semoga saja seperti itu, supaya syuting mereka esok bisa berjalan sesuai jadwal.

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang