Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
_______________________________________
Ragu, Aleta menengok kebelakang dan saat itu juga matanya bersitatap dengan mata Alvin. Yaampun, dia baru saja membuat Alvin menyaksikan semua ini. Alvin pasti akan berpikir macam-macam tentangnya sama seperti orang lain yang mengetahui hubungannya dengan Ragata saat pertama kali. Namun dia cukup tercengang saat mendapati senyum di wajah Alvin. Seakan Alvin mengatakan jika pria itu tidak berpikir apapun tentangnya.
Entah kenapa itu membuatnya sedikit lega. Ya, sedikit lega karena dia masih bingung bagaimana menjelaskan semua ini kepada Alvin nantinya.
"Kau membawa seseorang kemari?"
Aleta segera mengalihkan tatapannya pada Ragata. Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap kearah Alvin. "Ah, iya. Dia temanku. Tidak masalah kan?" tanyanya serba salah.
Ragata menatap Aleta, "Tidak masalah." sahutnya. Dan Aleta menghela nafas lega. "Kau sudah menjelaskan hubungan kita kepadanya? Sepertinya dia tidak hanya sekedar temanmu."
"Belum." Aleta mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kau bisa sensitif terhadap banyak hal tapi tidak bisa sensitif dengan hal itu." Ragata menjitak pelan kepala Aleta sambil berdecak.
Aleta semakin bingung, "Apa maksudmu dengan hal itu?" tanyanya sambil menegakkan tubuhnya.
"Ah, kau ini polos sekali." sahut Ragata dengan menatap Aleta. Dia bersandar pada sofa dan menutup matanya lelah.
"Kau terlalu bertele-tele." sahut Aleta, kemudian menatap Alvin sambil merapikan bajunya. "Duduk dulu, Vin." katanya.
Alvin mengangguk, lalu berjalan menuju sofa dan duduk di hadapan Ragata. Ragata membuka matanya, menatap Alvin sedikit mengernyit. "Aku sepertinya mengenalmu." katanya. Membuat Alvin dan Aleta menatap bersamaan.
"Kita pernah bertemu beberapa kali sebelumnya." balas Alvin.
Aleta menatap Alvin dan Ragata bergantian. "Jadi kalian saling mengenal?" tanyanya.
Ragata mengedikkan bahunya, "Tidak juga. Aku hanya mengenalnya sebagai putra rekan bisnisku." katanya. "Atau apa aku harus menyebut ayahmu sebagai rivalku?" tanyanya sambil menatap Alvin.
Alvin tersenyum kecil, "Itu terserah Anda, lagipula beliau hanya ayah sambung saya."
Ayah sambung? Maksudnya ayah tiri Alvin adalah rival Ragata?
"Baiklah." Ragata tertawa pelan. Bukan hal baru mengetahui hubungan tak harmonis antar anggota keluarga. "Ta, aku lapar. Tolong buatkan aku makanan." katanya pada Aleta dengan nada manja.
Aleta bergidik jijik sekaligus kesal. Pria ini. Setelah membuatnya harus bolos bekerja, malah meminta makanan padanya. "Buat sendiri saja. Aku malas." katanya.
Ragata menatap Aleta, "Kau tidak lihat aku sedang sakit?" tanyanya sambil meraih tangan Aleta dan meletakkannya di dahi.
Aleta menarik tanganya kasar. "Seharusnya kau bilang padaku jika kau sakit atau tidak akan ke kantor. Kau tahu? Semua orang mencarimu."
"Aku lupa." Ragata tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya.
"Aku akan buatkan makanan untukmu sekarang. Tapi setelah itu kau harus ikut ke kantor denganku." kata Aleta akhirnya. Walaupun hanya sesaat tadi, dia merasa Ragata memang agak demam. Wajahnya pun terlihat sedikit pucat, entah karena belum makan atau memang benar-benar sakit. Tapi melihat tingkahnya yang masih seperti biasanya, sepertinya pria itu hanya sakit karena belum mengisi perutnya. "Kapan terakhir kau makan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romance--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)