Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
________________________________________
"Kau sudah membawa semua barang-barangmu?" tanya Ragata sekali lagi.
Aleta menganggukan kepalanya. "Sudah semua."
"Oleh-oleh yang kau beli kemarin? Sudah?"
"Sudah." Aleta kemudian turun dari dalam mobil bersama Ragata dan juga Bobby. Kini mereka tengah berada di bandara. "Terimakasih atas bantuanmu selama aku disini."
Ragata mengedikkan bahunya, "Tidak perlu berterima kasih, aku senang melakukannya." kata pria itu tulus. "Biar aku antar sampai kedalam."
"Ah, tidak perlu." tolak Aleta cepat. "Aku bisa masuk sendiri kedalam."
Aleta sudah menolak Ragata saat pria itu hendak mengantarnya tadi, tapi pria itu tetap bersikukuh ingin mengantarnya sampai bandara. Pria itu katanya ingin memastikan dia selamat sampai ke bandara. Katanya dia bisa saja tersesat saat perjalanan ke tempat ini atau ditipu oleh supir taksi. Sebenarnya tanpa itu pun dia masih bisa menggunakan google maps jika tersesat disini.
Ragata menatap Aleta dari balik kacamata hitamnya. Entah mengapa dia merasa kehilangan membiarkan gadis itu kembali ke kotanya. Selama seminggu ini dia sudah terbiasa bersama Aleta, dia seperti menemukan teman baru yang sangat menyenangkan. Aleta sangat humble dibalik sikap kasarnya, dan dia merasa nyaman dengan hal itu. Mereka telah cukup banyak menghabiskan waktu bersama selama disini dengan mengunjungi banyak tempat yang sebelumnya belum pernah dia kunjungi.
Ragata tidak pernah merasa seperti ini pada seorang wanita. Dengan Aleta dia tak terikat perasaan apapun selain rasa nyaman sebagai seorang sahabat. Tidak ada ketertarikan seksual seperti biasanya, apalagi perasaan cinta. Lagipula selama hidupnya dia tidak pernah jatuh cinta, jadi dia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Tapi yang pasti dia memiliki perasaan seperti itu terhadap Aleta, dia suka Aleta sebagai sahabatnya.
"Oh ya, nenekku juga titip salam untukmu." katanya.
"Waalaikumsalam." sahut Aleta. "Titipkan salamku juga untuk kakek dan nenekmu."
Ragata mengangguk, "Akan aku sampaikan nanti. Pukul berapa pesawatnya terbang?"
Aleta menatap arloji di pergelangan tangannya, "Sekitar dua jam lagi."
"Kalau begitu kita bisa minum kopi dulu didalam." Ragata menggosok tangannya bersemangat, lalu menarik ransel Aleta hingga membuat gadis itu berjalan terseok-seok.
"Ta, lepas!" Aleta menarik tubuhnya menjauh dan menatap tajam Ragata. "Kita akan berpisah pun kau masih membuat masalah." ketusnya.
Ragata tertawa, mencoba mengenyahkan perasaan tak nyaman dengan kalimat Aleta. "Habisnya kau terlihat sangat pas di perlakukan seperti itu." guraunya.
Aleta mendelik, "Enak saja. Kau ingin aku menendangnya lagi juga?"
"Ih, kau sepertinya sangat suka mengancamku dengan hal itu." Ragata mendengus kesal.
"Itu satu-satunya yang kau lindungi." sahut Aleta sambil mengikuti Ragata memasuki sebuah kafe. Sekilas dia menatap Bobby yang kembali masuk kedalam mobil. "Kak Bob tidak diajak?"
"Bobby tidak suka minum kopi atau apapun yang mengandung kafein." balas Ragata, lalu duduk di sebuah meja dekat jendela.
Aleta duduk di depan Ragata, "Sepertinya kau sangat senang duduk di dekat jendela."
"Aku suka memperhatikan keadaan di luar." Ragata kemudian memesan minuman dan beberapa cemilan pendamping.
"Kau tidak menanyakan apa yang ingin kupesan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romance--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)