ENAM PULUH SEMBILAN

1.2K 116 13
                                        

Don't forget for vote and comment.. 

Enjoy the story :)

__________________________________

Setelah acara selesai, seluruh donatur kembali ke ruang media untuk menikmati sajian makan siang. Ragata berjalan bersama Rayyan dan Leo, sembari mengenang masa sekolah mereka dulu. Membicarakan kenakalan mereka juga hal-hal seru yang pernah mereka lakukan. Masa SMA mereka tentunya sama seperti remaja lelaki lainnya, yang penuh tantangan juga kenangan. 

"Aku ingin menitipkan sesuatu untuk Aleta padamu." kata Leo.

Ragata menatap Leo mengernyit, "Apa memangnya?"

"Hanya hadiah kecil sebagai ucapan selamat untuk kelulusannya." balas Leo. Ragata mengangguk mengerti. "Kau tidak menyiapkan sesuatu untuk Aleta?" tanyanya.

Tentu saja Ragata sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk Aleta, dan juga hari ini dia akan mencoba mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Dia sudah bertekad, apapun jawaban Aleta nanti, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Setidaknya dia sudah mencoba meraih cinta pertamanya.

"Aku sudah menyiapkannya." balasnya.

Leo menatap Ragata, bermaksud menggoda pria itu. "Kau tidak menyiapkan obat perangsang kan?" guraunya. Rayyan yang berjalan diantara keduanya tertawa pelan.

Ragata mendengus, "Sialan." umpatnya pelan.

"Jangan lupa ajak Aleta ke rumahku minggu depan." kata Rayyan. Ragata mengangguk.

Semua donatur kini tengah menikmati hidangan yang disediakan, sembari berbincang satu sama lain. Kebanyakan donatur yang ada adalah para pengusaha baik tua maupun muda, sehingga obrolan mereka tidak jauh-jauh dari hal bisnis. Ragata hanya mengobrol seperlunya, perasaannya tidak nyaman sejak pertama masuk ke ruangan tersebut. Tidak seperti biasanya, dimana dia selalu bersemangat saat menemui banyak orang, kini dia hanya ingin semuanya cepat selesai dan segera menemui Aleta. Entah karena dia berniat mengungkapkan perasaannya pada Aleta hingga merasa begini.

Suara ramai orang-orang di dalam ruangan tersebut menghening seketika. Ragata mengernyit bingung saat semua orang tengah menatap ke satu titik. Mau tak mau dia pun berbalik penasaran dan menemukan Isabell tengah berdiri di ambang pintu. Wanita itu tersenyum ke arahnya dengan hangat, sebuket bunga terlihat mencolok di tangannya, dan kehadiran wanita itu pun sudah menarik perhatian. Siapa yang tak mengenal Isabell disini.

Isabell berjalan anggun menghampiri Ragata yang tak bergeming di tempatnya. Senyum cantiknya terukir mempesona, membuat orang-orang mulai saling berbisik. Kehadiran Isabell, yang mereka ketahui sebagai tunangan Ragata, tentu saja mengejutkan mereka. Dan itu tentu saja dianggap sebagai tindakan yang sangat manis.

"Raga," sapa Isabell lembut. "Untunglah kau masih ada disini. Aku mencarimu sejak tadi." Katanya.

Ragata tak menyembunyikan raut tak sukanya sedikitpun, "Sedang apa kau disini?" Tanyanya.

"Kudengar Aleta merayakan kelulusannya sekarang, makanya aku kesini untuk memberinya ucapan selamat dan ini." Isabell tampak tak memperdulikan raut wajah Ragata saat menunjukan buket bunga di tangannya. "Dimana Aleta sekarang?"

"Dia tengah bersama teman-temannya."

"Bisa kau antarkan aku padanya?"

"Ayo." Ragata menegakkan tubuhnya dan melangkah pergi. Isabell mengikuti Ragata dari belakang dengan sedikit kecewa. Siapa tidak kecewa jika tunangannya sendiri mengabaikannya.

Semua orang disana seketika kembali riuh saat kedua pasangan itu berlalu pergi. Mereka bertanya-tanya kenapa sikap Ragata sedingin itu terhadap Isabell. Isabell adalah calon istri nomor satu incaran para pengusaha, menurut mereka. Bukankah sikap Ragata sedikit keterlaluan meskipun Ragata juga calon menantu incaran banyak orang?

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang