DUA PULUH TIGA

1.3K 98 1
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

________________________________

DENTUMAN musik terdengar hingga area parkir sebuah klub besar. Ragata memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk klub malam tersebut dan melangkah perlahan menuju pintu masuk. Beberapa penjaga berbadan besar menyapanya dengan ramah seperti biasa. Pun dengan beberapa wanita yang berpapasan dengannya. Ragata adalah pelanggan tetap di klub tersebut, hingga wajar jika banyak pegawai dan pelanggan tetap lainnya yang mengenalnya.

Ragata melangkahkan kakinya memasuki tempat gemerlap tersebut dan seketika musik keras memenuhi pendengarannya. Dia mengedarkan pandangannya menyisir seluruh penjuru tempat tersebut, lalu melangkah ringan saat menemukan teman-temannya tengah duduk di ujung ruangan gelap. Beberapa wanita penghibur segera mendekatinya dan menggodanya dengan sensual. Dia begitu merindukan hal ini.

"Kau sudah kembali juga?" tanyanya saat melihat Juna tengah duduk meminum segelas tequila di tangannya.

"Pekerjaanku sudah selesai disana." sahut Juna, menyandarkan tubuhnya dengan santai sambil menatap Ragata yang dikerubungi beberapa wanita.

"Suruh mereka pergi dan minumlah bersama kami dahulu." Leo menatap sahabatnya itu dengan tersenyum.

Ragata menatap wanita-wanita disamping kanan dan kirinya. "Ladies, kau dengar apa katanya kan?" tanyanya, membuat wanita-wanita itu pergi dengan kesal. Dia kemudian duduk di samping Leo dan memesan minuman. "Kau tidak bekerja?" tanyanya pada Leo.

Leo menggeleng sambil menenggak minumannya. "Aku mendapatkan libur lebih untuk bulan ini." balasnya.

"Berarti Rayyan sedang tidak sibuk kalau begitu." kata Ragata.

"Kurasa dia sedang mengikuti program untuk memiliki anak lagi." kata Leo, membuat Juna dan Ragata terkekeh.

"Dia sudah memiliki 3 anak, mau sebanyak apalagi anaknya?" Juna berdecak. "Seharusnya kau yang mengikuti program itu, Leo."

Leo mendengus, "Siapa yang akan menyumbangkan sel telurnya?" sahut Leo. "Kau mengatakan itu padaku tanpa bercermin, Juna."

"Kau tahu kan jika aku tidak memikirkan hal itu." Juna mengedikkan bahunya.

"Kalau begitu kau, Raga." Leo menatap Ragata.

"Aku sepemikiran dengan Juna. Aku masih ingin bersenang-senang dan menikmati hidupku. Menikah hanya akan membuatku terkekang." Ragata bergidik memikirkan hal itu.

Leo yang mendengarnya tertawa, "Diantara kita bertiga, aku bertaruh kau yang menikah lebih dulu, Raga."

"Bagaimana bisa?" Ragata mendengus.

"Aku tidak yakin. Tapi harapanku kau yang menikah lebih dulu." kata Juna sambil tertawa bersama Leo. "Padahal kau menikah saja dengan gadis yang bersamamu di Bali itu."

"Aleta?" sahut Ragata. Kemudian dia terkekeh. "Mana mungkin? Aku tidak menganggapnya sebagai seorang wanita."

"Wah, siapa Aleta?" tanya Leo penasaran. "Dia salah satu teman tidurmu?"

Ragata menghela nafas, "Bukan. Dia temanku. Hanya sahabatku, bukan teman tidur apalagi one night stand."

Leo menatap tak percaya. "Benarkah? Kau tidak biasanya seperti ini? Dia pastinya spesial."

"Kau pikir nasi goreng, spesial." Ragata mencibir. "Dia hanya sangat berjasa untukku."

"Itu sama saja spesial, bodoh." Juna melempar kulit kacang pada Ragata. "Tapi seingatku, Aleta juga cukup cantik. Wajahnya masih sangat muda dan alami. Sepertinya memiliki darah yang sama sepertimu."

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang