DUA PULUH LIMA

1.3K 115 2
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

_________________________________

SAMBIL duduk bersandar di meja makan, Aleta terpekur menatap betapa lihainya Ragata dalam hal memasak. Dia sudah sangat jarang melihat pria memasak sehebat itu selain dari tayangan televisi, dan melihatnya secara langsung seperti sekarang memberikan kesan menakjubkan baginya. Apalagi Ragata membuat sejenis pertunjukan api saat memasak, entah darimana pria itu mendapatkan semua bahan seperti itu.

Melihat keahlian memasak itu, membuatnya teringat pada pamannya. Dia merindukan pamannya, juga bibi dan bundanya. Pamannya selalu memberikan hiburan-hiburan kecil selagi mereka memasak, entah itu melempar-lempar telur, memutar pisau, atau mengiris bawang bombay dengan cepat. Kegiatan memasak mereka pasti selalu berisik dan dipenuhi canda tawa. Ah, dia mulai merindukan hal seperti itu lagi.

"Sarapanmu."

Aleta mengerjapkan mata melihat Ragata berdiri di hadapannya dengan senyum lebar tersungging di wajah.

"Ah ya," Aleta menatap makanan di depannya. "Terima kasih."

"Kau melamun pagi-pagi begini. Ada apa?" Ragata melepas celemek dan menyimpannya di atas meja, membiarkan otot-otot tubuhnya terekspos tanpa sehelai benangpun lalu duduk di hadapan Aleta yang mulai menyantap sarapannya.

Aleta menelan makannya, "Tidak ada apa-apa." sahutnya, menatap Ragata yang tengah menatapnya. "Ada apa?"

Ragata menggeleng, "Tidak. Kau aneh saja." kekehnya.

"Kau yang aneh." Aleta mendengus. "Kau tidak sarapan?" tanyanya saat melihat Ragata hanya diam menyaksikannya makan.

"Tidak, aku sudah kenyang hanya melihatmu makan." Ragata menyandarkan ke belakang sambil menyesap kopi di cangkir.

Aleta mengedikkan bahunya, memilih melanjutkan sarapan daripada harus meladeni orang aneh tersebut. Seminggu sudah dia tinggal di rumah ini, dan selama seminggu juga dia mencoba membiasakan diri dengan semua kebiasaan pria itu. Termasuk melihat tubuh shirtless Ragata berkeliaran di dalam rumah. Pria itu terbiasa tak memakai baju jika berada di rumah, beraktifitas pun pria itu memilih setengah telanjang, entah apa tujuannya. Dan Aleta tidak ingin tahu juga. Selama masih batas wajar, dia tidak akan mempermasalahkannya. Ya, meskipun di awal dia memang sedikit risih.

"Kau tidak bekerja? Katamu kau dipindahkan ke tempat lain." tanyanya.

Ragata menyesap kopinya sekali lagi sebelum menjawab, "Aku akan bersiap sebentar lagi." katanya. Aleta hanya mengangguk sambil memainkan ponsel di tangannya. Ragata mengernyit menatap Aleta yang hari ini tidak banyak bicara. Aneh sekali, padahal gadis itu selalu banyak bicara hingga membuat kupingnya berdengung setiap harinya. "Kau tidak banyak bicara hari ini, ada apa?"

Aleta mendongak, "Perasaanku sedang tidak enak saja." sahutnya. Tiba-tiba saja Aleta merasa tidak nyaman dengan hari ini. Apa mungkin karena hari ini hari pertama dia magang?

"Mungkin kau hanya khawatir dengan hari pertamamu di tempat baru." kata Ragata sambil tersenyum. "Aku juga begitu."

"Kau juga merasa khawatir di hari pertamamu bekerja?"

"Tidak," sahut Ragata. "Aku merasa khawatir saat pertama kali menyetubuhi wanita." sambungnya sambil tertawa.

Wajah Aleta berubah kecut, "Ta, aku serius."

"Aku juga serius. Setiap orang pasti akan merasa khawatir di hari pertama mereka melakukan sesuatu yang baru." Ragata menghela nafasnya. "Kau tenang saja, semuanya pasti akan berjalan baik untukmu. Bukankah kau selalu bisa menyesuaikan diri dengan orang dan lingkungan yang baru?"

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang