SEMBILAN BELAS

1.3K 110 4
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

____________________________________

"Jelaskan semuanya padaku." Ragata memberikan semangkuk mie instan pada Aleta.

Aleta mendongak menatap pria itu dan mengernyit, "Aku harus menjelaskan apa?"

Ragata duduk di depan Aleta dengan kotak P3K di tangannya. "Alasanmu seperti ini." katanya, lalu meraih tangan kanan Aleta dan mulai mengobatinya. Dia meringis menatap luka di tangan gadis itu. "Apa yang sebenarnya kau lakukan hingga seperti ini?"

"Aku memukul bingkai foto hingga pecah." sahut Aleta, sedikit meringis saat Ragata membersihkan lukanya.

"Kenapa kau melakukan itu?" Ragata dengan lembut mengobati tangan Aleta.

"Ibuku bilang menyesal sudah melahirkan aku."

Ragata mengangkat wajahnya, menatap Aleta.

"Aku tidak pernah tahu dimana dan siapa ayahku. Sejak kecil aku sering dicemooh oleh orang-orang sebagai anak haram, saat bertanya pada ibuku pun, ibuku tak pernah mau mengatakan siapa ayahku." Aleta menghela nafasnya. "Saat aku sekolah dasar ibuku memutuskan untuk menikahi seorang pria. Aku tidak tahu siapa orang itu hingga tiba-tiba saja pria itu menjadi ayahku. Sejak awal aku tidak pernah menyukai ayah tiriku apalagi setelah pria itu sering menyiksa ibuku. Ayah tiriku seorang pemabuk dan penjudi, setiap hari ibuku harus menyiapkan uang untuknya. Jika tidak, maka ibuku akan disiksa olehnya."

"Aku tidak bisa melawan saat itu karena aku masih kecil. Aku juga terlalu takut untuk melawannya, jadinya aku hanya bisa diam saat pria itu menyiksa ibuku. Empat tahun lalu aku bertemu dengan Naura dan dia menjadi sahabatku. Naura seorang atlet bela diri, makanya dia mengajariku sedikit ilmu tentang bela diri. Dari situ aku mulai berani melawan ayah tiriku untuk melindungi ibuku. Dan tadi, sesampainya aku dirumah, aku melihat ibuku kembali di siksa oleh pria itu."

Air mata Aleta kembali mengalir, "Aku marah melihat semua itu. Apalagi lagi-lagi masalahnya karena pria itu menginginkan uang dan ibuku tak bisa memberinya. Aku akhirnya memukuli pria itu hingga babak belur. Tapi ibuku malah menamparku berkali-kali dan mengatakan jika dia menyesal telah melahirkan aku." katanya, lalu tertawa di sela tangisannya. "Rasanya menggelikan menjadi yang disalahkan padahal aku sedang membelanya."

Ragata menyeka air mata di wajah Aleta, "Ada aku sekarang."

"Kenapa kau baik padaku, Ta?" Aleta menatap Ragata yang tersenyum.

"Karena kau sangat berjasa untukku."

Aleta mengernyit, "Aku tidak pernah merasa melakukan apapun untukmu."

"Karenamu aku mendapatkan gelang ini lagi." Ragata mengangkat tangannya, menunjukan gelang yang waktu itu diberikan Aleta.

"Itu sangat berharga untukmu?" tanya Aleta.

Ragata mengangguk. "Sangat. Gelang ini pemberian satu-satunya ibuku sebelum ayahku membawanya pergi entah kemana."

Aleta menatap Ragata, mengernyit. "Kenapa ayahmu membawa ibumu pergi."

"Aku tidak tahu. Saat itu tiba-tiba saja banyak pria berkacamata yang datang dan membawa ibuku pergi sesuai perintah ayahku."

"Dan setelah itu kau tidak bertemu ibumu lagi?" Aleta melebarkan matanya.

Ragata mengangguk.

"Kau bertanya pada ayahmu dimana ibumu?"

"Ayahku tak mau menjawabnya. Aku juga bertanya pada kakek dan nenekku tapi tidak ada yang tahu dimana ibuku." Ragata menghela nafasnya dan tersenyum. "Setidaknya aku masih lebih beruntung darimu karena mengenal ibuku terlebih dahulu. Dan juga aku beruntung karena ibu tiriku tidak kejam dan jahat kepadaku."

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang