Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
_______________________________________
Ragata memarkir mobilnya tepat di depan teras rumah. Malam semakin larut ketika dia masuk kedalam rumah yang gelap gulita. Rumahnya tidak memiliki pelayan seorang pun, hanya ada seorang asisten rumah tangga yang akan datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah. Supirnya pun tidak tinggal disini, dan hanya akan datang jika dia memanggilnya.
Kakinya melangkah melintasi lorong menuju ruang bersantai. Tubuhnya terasa lelah sekali tanpa sebab, padahal dia tidak banyak bekerja hari ini. Langkahnya terhenti sesaat ketika sudut matanya menangkap sesuatu yang tengah berjalan di kegelapan. Matanya menyipit sambil melangkah mendekat. Apa perasaannya saja atau bukan, dia seperti melihat sebuah kain putih melayang menuju jendela.
"Argggh! Setan!" Teriaknya seketika saat sebuah kain putih tiba-tiba berdiri di depannya dan semakin mendekat. Dia sampai terjatuh ke lantai saking terkejutnya. Tiba-tiba saja lampu menyala disertai sebuah tawa yang sangat dikenalnya.
"Woi, Ta. Apa yang kau lakukan disitu?" Suara tawa Aleta membuat Ragata mendongak seketika.
Ragata mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan sosok di depannya adalah Aleta. Ya siapa tahu dia salah melihat.
"Aleta?" Tanyanya memastikan. Dia kemudian menatap Aleta yang memakai mukena dari atas sampai bawah. "Kenapa kau memakai itu?" Tunjuknya.
"Aku habis sholat." Aleta tertawa. "Tadi aku mendengar suara mobil, makanya aku keluar kamar untuk memastikan itu kau atau bukan."
"Kenapa mukenanya tidak kau lepas dulu?" Ragata menggeram kesal. "Kau membuatku serangan jantung. Untung saja aku tidak mati."
"Aku baru saja selesai sholat ketika kau masuk rumah. Lagipula jika kau mati kan tinggal di kubur." Aleta berdecak, lalu membuka mukena yang di pakainya.
Ragata menegakkan tubuhnya, merasakan bokongnya yang ngilu akibat terjatuh tadi. "Kau pulang jam berapa kesini?" Dia duduk diatas sofa sambil menatap Aleta yang tengah melipat mukenanya.
"Sesudah magrib tadi." Sahut Aleta.
"Kau sudah makan?"
Aleta mendongak, "Belum. Tadinya aku akan memasak makan malam setelah sholat isya." Katanya. "Tapi sepertinya kau sudah makan."
"Darimana kau tahu aku sudah makan?" Ragata menatap Aleta.
"Pakaianmu bau kari."
Ragata membelalak takjub. "Penciumanmu sehebat anjing."
Aleta mendengus. "Sialan. Kenapa harus disamakan dengan anjing."
"Aku tidak menemukan hewan yang penciumannya sebagus anjing." Ragata terkekeh.
"Otakmu saja yang sempit." Aleta berdecak kemudian melangkah menuju dapur.
Ragata tertawa pelan sambil mengikuti Aleta. Dia kemudian duduk di kursi pantry memperhatikan Aleta yang sibuk menyiapkan bahan masakan. "Masak saja untukmu sendiri, aku tidak akan makan."
Aleta menatap sekilas. "Aku tidak berencana memasakanmu juga." tangannya meraih pisau dan talenan dari dalam laci. Ragata sudah menunjukan seluruh bagian rumah ini, termasuk dimana tempat penyimpanan berbagai peralatan semalam. Jadi dia tidak canggung sedikitpun ketika pertama kali memasak disana.
"Dasar manusia lupa diri." cibir Ragata sambil menatap Aleta yang terkekeh.
"Kau bilang kau lebih suka aku yang tidak tahu malu, jadi ya terima saja jika aku seperti ini." Aleta kemudian mulai mengiris sayuran dan bawang. Sepertinya malam-malam begini makanan berkuah adalah pilihan yang tepat, jadi dia berencana membuat sup tomyam pedas dan gyoza instan goreng yang dibelinya sepulang sekolah tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romance--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)