ENAM PULUH EMPAT

1.2K 134 10
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

_________________________________

TANPA terasa waktu berlalu sangat cepat, hingga kini telah tiga bulan berlalu. Setelah menghabiskan waktu selama satu bulan di Korea untuk bekerja dan liburan, Ragata dan Aleta kembali ke Indonesia dengan setumpuk 'pekerjaan rumah'. Jelas saja akan sebanyak itu mengingat perusahaan sebesar D.Entertainment ditinggalkan sang pimpinan dalam waktu satu bulan. Untungnya sebelum mereka pergi Aleta meminta bantuan orang lain untuk mengurus segala kepentingan di perusahaan.

Setelah kembali dari Korea juga Aleta begitu disibukkan dengan ujian kompetensinya. Disela waktu bekerja dia harus melakukan syuting beberapa kali, dan untungnya syuting itu dilakukan di sekolah. Sebenarnya Ragata sudah menyiapkan jadwal kosong untuknya agar bisa menyelesaikan syuting, namun dia harus bisa menyelesaikan syuting lebih cepat karena Naura harus berangkat ke Swiss. Setelah selesai syuting pun dia harus mengurus laporan sidang uji kompetensinya nanti, sambil menyelesaikan pekerjaan di kantor. Selama tiga bulan ini dia benar-benar sangat sibuk.

"Ta, kau sudah menyelesaikan laporanmu?"

Aleta mendongak menatap Naura yang kini duduk di hadapannya. Kini mereka sedang berada di paviliun keluarga Denova, tanpa kesengajaan. Awalnya Ragata hanya mengikuti sahabat-sahabatnya pergi, seperti biasanya, tapi ternyata mereka datang ke paviliun ini dan dia jadi bertemu dengan Naura. Kebetulan yang sangat luar biasa karena disini dia mendapati sahabatnya itu sudah menjadi istri orang lain, dan parahnya suami Naura adalah sepupu satu-satunya Ragata. Luar biasa bukan?

"Tinggal menunggu hasil akhir video yang kau buat." Aleta merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara dalam-dalam. Hawa segar pegunungan seketika memenuhi paru-parunya.

"Aku akan segera menyelesaikannya." balas Naura santai.

Aleta mengangguk, "Tidak perlu terburu-buru." balasnya. "Nau, berarti kak Celo itu anaknya tante Saphire dan pak Axcel?" tanyanya, baru menyadari.

Naura mengernyit, "Kau mengenal papa dan mama?"

"Aku pernah bertemu mereka saat di Bali."

Naura mengangguk mengerti. "Tunggu, kalau dipikir-pikir lagi berarti pria yang ingin pak Raga kenalkan padaku itu kak Celo?"

Aleta mengangguk, "Mengingat Ragata hanya memiliki satu sepupu pria, itu artinya iya. Kebetulan yang sangat tak terduga."

"Kau benar." Naura tertawa pelan. "Ternyata takdir sungguh tak terduga."

"Untukmu." seikat bunga mawar merah tergeletak begitu saja di atas meja kayu tersebut. "Aku memungutnya di jalan tadi."

Naura dan Aleta secara bersamaan menatap bunga tersebut sebelum mendongak menatap sosok tinggi dengan senyum khasnya. Naura menatap geli Ragata yang berdiri di hadapannya, dia tak percaya jika Ragata hanya sekedar memungut bunga tersebut dijalan. Terakhir kali Ragata membawakan seikat besar bunga mawar putih dan mengatakan jika itu dipungutnya di jalan.

"Kau kira aku pemakaman?" Aleta mendengus, tangannya meraih bunga mawar merah tersebut. "Selama disini kau selalu memberikanku bunga."

Ragata tersenyum tenang, "Kapan lagi ada pria yang mau memberikan bunga padamu. Bersyukurlah wahai manusia."

"Aku bukan manusia." sahut Aleta jijik.

Ragata menepuk dahi pelan sembari menghela nafas, "Ah, aku lupa jika kau raja iblis." ledeknya.

Aleta menarik kedua sudut bibirnya lurus, "Dan kau teman raja iblis." sahutnya. "Aku tidak membutuhkan bunga ini, berikan saja pada gadis lain disini." katanya sambil menyerahkan bunga mawar tersebut pada Ragata.

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang