LIMA PULUH ENAM

1.1K 146 25
                                        

Don't forget for vote and comment.. 

Enjoy the story :)

________________________________

"Aku lapar sekali." Ragata menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sesampainya di hotel. Matanya mengikuti Aleta yang melangkah menuju sofa lainnya, dan duduk diatasnya. Beberapa pegawai hotel meletakkan barang-barang bawaan mereka lalu kembali melangkah pergi. Kini hanya ada dia dan Aleta di dalam ruangan itu.

Tenang saja, dia menyewa sebuah kamar hotel dimana terdapat dua ruang tidur di dalamnya. Jadinya dia tidak akan tidur bersama Aleta. Lagipula akan ada Leo dan Juna disini nantinya, dan itulah mengapa Aleta menyetujui rencananya meminta kamar jenis seperti ini.

"Ingin aku pesankan makanan?" tanya Aleta tanpa menatap Ragata. Sejak perjalanan menuju hotel tadi Aleta sibuk dengan ponselnya sendiri, membuat Ragata yang saat ini sedang dalam mood baik merasa kesal karena diacuhkan oleh gadis itu.

"Tidak perlu, aku sudah mereservasi restoran terbaik di dekat sini." Ragata kemudian berpindah tempat duduk, kepalanya melongok ke depan ponsel Aleta. Dengan cepat Aleta menarik tangannya dan menatap Ragata kesal.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kau sedang menunggu pesan dari siapa?" tanya Ragata sambil menjauhkan wajahnya. "Sejak tadi kau mengabaikan terus? Siapa yang kau tunggu?" tanyanya lagi. Tidak mungkin kan Aleta sedang menunggu pesan dari Jihoon? Tunggu, apa selama ini Aleta dan Jihoon memiliki nomor telpon satu sama lain? Sialan, dia kenapa bisa kecolongan.

Tunggu, kalau iya, kenapa juga dia harus memperdulikan itu? Dan-- dan kenapa pula dia merasa sekesal ini dengan hanya memikirkan kemungkinan itu? Memangnya dia kekasih Aleta apa?

Aleta menggelang perlahan, "Aku tidak menunggu pesan dari siapapun." balasnya.

Ragata mengernyit curiga, "Benarkah?"

"Kenapa kau ingin tahu?" Aleta menatap aneh pada pria di depannya. "Akhir-akhir ini kau semakin ikut campur dalam hal pribadiku. Tidakkah kau sadar itu sudah melampaui batas?" cibirnya.

Ragata menggeleng polos, "Tidak. Tidak sama sekali." balasnya tanpa ragu. "Justru mulai sekarang sepertinya aku harus semakin memperhatikanmu." Jangan sampai Jihoon mendekati gadis itu lagi.

Ragata bodoh! Untuk apa kau mengurusi hal itu? Sialan!

"Ah-- aku bisa mendengar isi hatimu." kata Aleta, tersenyum misterius. Ragata menatapnya cepat, panik. "Kau pasti--"

"Kita ke restorannya sekarang." kata Ragata cepat sambil menegakkan tubuhnya. Kakinya dengan cepat melangkah pergi, meninggalkan Aleta yang terdiam bingung di tempatnya.

"Ish, pria itu semakin aneh saja." kemudian Aleta pun melangkah menyusul Ragata.

Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di restoran yang dimaksud Ragata. Restoran bintang lima itu menyajikan makanan khas Korea dengan pelayanan sangat baik. Setiap orang yang ingin menikmati makanan di restoran tersebut harus melakukan reservasi beberapa hari sebelumnya, itu pun harus menunggu antrian hingga beberapa hari kemudian.

Aleta dan Ragata duduk didekat jendela, tempat favorit Ragata. Beberapa pelayan segera melayani mereka dengan menuangkan wine di gelas masing-masing. Dan seperti biasa, Aleta memilih minuman soda untuk mengganti wine di gelasnya. Matanya menatap tajam pada pria yang tengah asyik menenggak wine di gelas hingga tandas.

"Ada apa?" tanya Ragata setelah meletakkan gelasnya. Matanya menatap balik Aleta yang terus memelototinya.

Aleta menghela nafasnya, "Tidak ada." balasnya. Menekan kekesalannya karena Ragata tak mengizinkannya berganti pakaian ketika hendak datang ke tempat ini. Pakaiannya kali ini benar-benar tidak sesuai dengan tempatnya berada. Dia hanya mengenakan gaun hitam selutut dan jaket jeans yang dibalut dengan mantel hitam panjang. Sedangkan Ragata hanya mengenakan sweater turtleneck putih dan celana jeans hitam panjang dengan mantel hitam yang sama dengannya.

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang