Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
_________________________________
Ragata memasuki kediaman Dinata bersama Aleta disaat semua para pasukan keamanan tengah berkumpul di lorong depan. Kernyitan kecil muncul di dahi Ragata saat melihat wajah Fredrick yang tampak gelisah. Sekilas dia juga menatap orang-orang lainnya yang tampak tegang dengan pakaian lengkap mereka. Tentu saja dia merasa ada yang janggal mengingat jika pasukan keamanan kediaman Dinata hanya akan memakai atribut lengkap jika kondisi disana benar-benar genting.
"Fredrick, ada apa ini?" tanya Ragata, membuat semua orang yang berada disana menatap ke arahnya. Aleta pun mengamati situasi beberapa saat lalu dan sedikit kebingungan.
Fredrick dengan cepat menghampiri Ragata dan mengangguk sopan, "Tuan muda, Anda sudah kembali? Nyonya dan nona muda sedang berada di kediaman tuan muda Axcelord saat ini, jadi tidak ada siapapun disini."
Ragata mengangguk mengerti, "Lalu dimana papa? Jika kau ada disini berarti papa juga sedang tidak pergi kemanapun."
"Itu--" Fredrick menatap Ragata gelisah, dia bingung harus menjawab apa mengingat Devano sudah mewanti-wantinya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi pada siapapun.
"Dimana papa, Fredrick?" perasaan Ragata berubah gelisah melihat wajah khawatir Fredrick. Selama hidupnya dia tidak pernah melihat Fredrick berbicara begitu gugup seperti ini, pria itu selalu berbicara dengan jelas dan tanpa ragu mengenai apapun. Kini melihat pria itu tampak begitu ragu berbicara padanya membuatnya curiga jika saat ini tengah terjadi sesuatu yang sangat penting.
Aleta mengusap lengan Ragata pelan, menenangkannya. "Bapak tidak perlu ragu mengatakannya pada kami. Jika memang terjadi sesuatu, tolong katakan sekarang juga." katanya pada Fredrick. Situasi tersebut sangat mudah di pahaminya.
Fredrick menatap Aleta untuk beberapa saat sebelum kembali menatap Ragata, "Ada surat ancaman yang dikirimkan kembali kesini. Isi surat itu meminta tuan datang ke suatu tempat dan tuan--"
"Papa pergi kesana." Ragata memotong cepat, matanya menatap lebar pada Fredrick. "Sendirian?"
"Iya, tuan pergi sendiri kesana." Fredrick menatap was-was. "Saya sudah menyarankan tuan untuk mengatakan semuanya pada tuan muda atau pada tuan Alex dan tuan Aidan, tapi tuan menolaknya dan memilih pergi sendiri."
Ragata menyisir rambutnya dengan gusar. Apa yang ada di pikiran ayahnya hingga nekat pergi sendirian seperti ini? Apa ayahnya tak mengingat ucapannya jika mulai saat ini dia akan bertanggung jawab menjaga keluarga mereka? Tidakkah ayahnya percaya padanya sedikit saja dan mengatakan semuanya?
"Kenapa kau membiarkannya pergi, Fredrick?" Ragata mengeram marah. Aleta mengusap lengan Ragata untuk tenang, namun pria itu tak bisa bersikap tenang lagi mulai saat ini.
Fredrick menatap menyesal, "Saya tidak bisa menahannya. Mohon maafkan saya."
"Sialan." Ragata mengumpat pelan. "Tidakkah dia mempercayaiku sedikit saja?"
"Ta, tenang." Aleta mencoba menenangkan. "Ayahmu pasti memiliki alasan yang jelas melakukan semua ini."
"Tapi tidak bertindak ceroboh seperti ini. Mereka bukan orang sembarang, dan mereka bisa melakukan apapun pada papa yang hanya datang seorang diri." Ragata kemudian menatap Fredrick tanpa menghilangkan amarah dan kekhawatirannya. "Dimana tempat itu? Berikan alamatnya padaku sekarang!"
Fredrick menatap terkejut, "Tapi tuan muda, tuan melarang saya--"
"Berikan alamatnya sekarang, Fredrick!" Ragata berteriak keras, tak mampu lagi menahan amarahnya. Di satu sisi dia begitu mengkhawatirkan kondisi ayahnya, di sisi lain dia begitu marah atas tindakan egois ayahnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romansa--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)