DELAPAN BELAS

1.3K 104 1
                                        

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

______________________________________

"Hujannya deras sekali." gumam Ragata saat masuk kedalam mobil.

Seharusnya hari ini dia masih berada di Bali untuk menikmati waktu bersenang-senangnya, hanya saja secara resmi, catat dengan resmi, sekretaris ayahnya memintanya datang besok pagi. Jadinya dia pulang malam ini juga karena dia tidak mungkin mangkir dari panggilan resmi itu. Bagaimanapun statusnya, dia tetaplah anak buah ayahnya. Meskipun jika ayahnya meninggal semua harta keluarga Dinata akan menjadi miliknya.

Astaghfirullah Ragata, tidak boleh berpikir seperti itu. Laknat sekali otaknya.

Mobil tersebut melaju menembus hujan yang semakin deras menuju rumah pribadi milik Ragata. Sudah hampir 10 tahun ini Ragata tidak tinggal di kediaman keluarga Dinata. Alasannya tentu saja sudah jelas, dia hanya ingin kebebasan. Di kediaman orang tuanya mana bisa dia membawa wanita untuk diajaknya tidur bersama. Bisa-bisa dia dipenggal seketika oleh Devano Dinata. Ayahnya.

Kadang dia berpikir jika ayahnya menaruh dendam terselubung kepadanya. Masalahnya setiap saat ayahnya itu marah kepadanya, padahal dia hanya meniduri klien perusahaan sekali saja. Tapi ayahnya itu selalu bersikap berlebihan dengan apa yang dilakukannya. Toh, kliennya itu yang meminta tidur dengannya. Ya, dia sebagai pria tentu tidak akan menolak.

Untung saja dia masih menyayangi ayah satu-satunya itu. Jika tidak, dia pasti memilih kabur sejak lama.

"Pak, bukannya itu Aleta?" seru Bobby tak lama setelah mereka memasuki area perumahan dimana Ragata tinggal.

Ragata mengangkat wajahnya dan menatap ke arah yang ditunjuk Bobby. "Pakaiannya sama seperti yang dia pakai tadi sore." katanya.

Bobby menghentikan mobil di pinggir jalan. "Biar saya cek dulu, pak."

"Tidak. Biar aku saja." Ragata meraih payung di kursi belakang sebelum keluar dari dalam mobil.

Kenapa gadis itu tengah malam begini disini? Apa terjadi sesuatu?

Ragata mulai khawatir saat wajah Aleta terlihat semakin jelas. Gadis itu menangis. Dengan cepat Ragata melangkah mendekat dan berdiri di depan gadis itu. Memajukan payung yang dipakainya untuk melindungi tubuh Aleta. Sebenarnya apa yang membuat gadis itu seperti ini?

"Kau baik-baik saja?"

Mata sembab itu menatapnya terkejut. Sekarang Ragata bisa melihat dengan jelas sisa-sisa air mata di wajah Aleta meskipun tersamarkan oleh air hujan. Seluruh tubuh gadis itu basah kuyup. Ragata melihat tas Aleta yang juga basah, serta sebuah gitar dan tas lainnya disamping gadis itu.

"Sedang apa kau disini?" tanyanya. Kemudian berjongkok dan merangkul tubuh Aleta untuk berdiri.

Aleta menghapus air mata di wajahnya dan menegakkan tubuhnya. "Ke-kenapa kau ada disini?" tanyanya gemetar. "Bukankah kau akan pulang dua minggu lagi?"

"Kita bahas itu nanti." sahut Ragata. "Kau harus masuk kedalam mobil dulu." katanya lagi, sambil membawa Aleta berjalan menuju mobil.

Bobby yang sudah menunggu di luar mobil sambil membawa payung, segera membukakan pintu mobil untuk Aleta dan Ragata. Bobby meraih tas dan gitar Aleta, lalu menyimpannya di dalam bagasi.

"Apa yang kau lakukan disini tengah malam begini, Aleta? Kau bahkan membiarkan tubuhmu terkena hujan." Ragata meraih sebuah selimut yang diberikan oleh Bobby, menyampirkannya di tubuh Aleta.

Aleta hanya diam. Tubuhnya menggigil kedinginan.

Ragata menatap semakin khawatir. Dia melepaskan jaket yang dipakainya, lalu menyampirkannya di bagian depan tubuh Aleta.

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang