Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
________________________________
Aleta terbangun karena panggilan masuk di dalam ponselnya. Dia menggeliatkan tubuhnya dan mengumpat pelan saat menatap jam di dinding. Siapa yang menelponnya sepagi ini?
"Halo!" katanya ketus saat mengangkat panggilan tersebut. "Kau tidak lihat ini jam berapa, Ragata?"
"Ini sudah jam 5 pagi." sahut Ragata dari seberang telpon. Pria itu tertawa pelan. "Ta, cepat bangun dan bantu aku. Aku lupa jika Bobby mulai hari ini bukan sekretarisku lagi."
Aleta menyandarkan tubuhnya sambil menguap, "Lalu apa hubungannya denganku?" balasnya kesal.
"Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Akan ku jelaskan nanti. Sekarang kau sholat dan bersiap dulu saja. Supirku akan datang kesana sebentar lagi."
"Iya." Aleta kemudian mematikan panggilan tersebut dan melangkah menuju kamar mandi.
Seperti kata Ragata, setengah jam kemudian sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Aleta berdiri di depan rumah setelah selesai mandi dan sholat. Dia menatap seorang pria muda yang ditemuinya beberapa minggu lalu dan tersenyum ramah saat pria itu menyapanya.
"Mbak yang waktu itu diantar bapak ke sekolah ya?" tanyanya.
"Iya, mas. Saya Aleta." sahut Aleta sambil memperkenalkan diri.
Pria tersebut tersenyum, "Saya Sul, mbak. Saya supirnya pak Ragata."
Aleta balas tersenyum, "Sul?"
"Susilo, mbak." balas Susilo dengan logat jawanya yang sedikit kental sambil tertawa pelan.
"Nama panggilannya keren." kata Aleta, ikut tertawa. Kemudian dia masuk ke dalam mobil bersama Susilo. "Oh ya, kita akan kemana?"
Susilo melajukan mobilnya menembus jalanan perumahan yang masih sepi, hanya diisi oleh beberapa orang yang tengah lari pagi. "Tadi bapak suruh saya ke butik dulu, mbak. Katanya mbak Aleta harus mengambil beberapa baju yang dipesan bapak disana, setelah itu kita ke apartemen bapak."
Aleta menganggukkan kepalanya, "Memangnya ada butik yang buka sepagi ini ya, mas?"
"Untuk bapak ada, mbak." Susilo tersenyum.
"Pasti itu butik langganan ya, mas?" Aleta terkekeh dan Susilo mengangguk. "Biasanya siapa yang selalu datang ke butiknya?"
"Biasanya pak Bobby, mbak."
"Oh ya, nanti apa yang harus saya ambil di butik?"
Susilo menatap Aleta sekilas, "Biasanya baju perempuan, mbak."
Aleta kembali mengangguk. Dia yakin jika saat ini Ragata sedang bersama seorang wanita di apartemennya, dan baju yang harus diambilnya di butik pastinya untuk wanita yang baru saja di tidurinya. Dia menghela nafasnya sambil menatap keluar mobil. Pria itu kenapa harus memintanya melakukan semua ini? Sangat merepotkan apalagi harus ikut campur ke dalam urusan pria itu. Tapi bagaimanapun dia tidak mungkin menolak permintaan tolong pria itu, karena akhir-akhir ini pria itulah yang telah banyak membantunya.
Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah butik terkenal. Aleta segera mengambil sebuah mini dress cantik dengan beberapa pasang pakaian dalam. Setelahnya mereka kembali menuju sebuah apartemen mewah di tengah kota. Aleta sering melewati apartemen tersebut karena letaknya yang berdekatan dengan sebuah pusat perbelanjaan. Makanya dia tahu jika apartemen tersebut termasuk hunian mewah dan pastinya sangat mahal.
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Storie d'amore--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)