LIMA PULUH TUJUH

1K 141 17
                                        

Don't forget for vote and comment.. 

Enjoy the story :)

___________________________________

Ragata melepaskan pelukannya, mata sendunya kini menatap gadis di depannya dengan penuh haru. "Be-benarkah?" tanyanya parau.

Aleta mengusap air matanya dan mengangguk mantap, "Tentu saja. Aku akan selalu ada untukmu." tangannya kini terangkat mengusap air mata di wajah Ragata perlahan. "Jangan pernah menyerah dengan semuanya, Ta. aku tahu rasanya menyakitkan mengetahui semua ini, tapi kau masih memiliki banyak orang yang menyayangimu. Hidupmu tidak hanya berputar pada satu titik, kan?"

Ragata mengangguk sebelum kembali memeluk Aleta. Dia mendekap dengan erat gadis itu, menyandarkan kepalanya di pundak kepala Aleta. Hatinya terasa menghangat hanya dengan mendengar kata-kata Aleta. Rasanya seluruh luka yang dirasakannya tadi, menghilang perlahan dan digantikan dengan rasa bahagia yang nyata. Dia bersyukur karena saat ini dia membawa Aleta bersamanya. Jika saja dia nekat datang sendiri, pastinya dia akan benar-benar merasa hancur tanpa tahu apa yang mesti dilakukannya.

	"Kita harus masuk lagi ke restorannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kita harus masuk lagi ke restorannya. Sepertinya makanannya sudah siap." kata Aleta.

"Aku sudah tidak ingin makan disana." kata Ragata lalu melepaskan pelukannya. Kaki panjangnya melangkah untuk mengambil mantel hitam Aleta yang terjatuh. Setelahnya dia kembali menuju Aleta dan memakaikannya pada gadis itu. "Bagaimana jika kita makan di dekat kedai pinggir jalan?" tanyanya.

 	"Pojangmacha?" tanya Aleta antusias

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pojangmacha?" tanya Aleta antusias.

Ragata mengangguk.

"Ayo." kata Aleta lagi, bersemangat. Ragata tertawa melihat bagaimana semangatnya Aleta dengan rencananya.

"Kau sangat ingin makan disana ya?"

Aleta mengangguk, "Sangat. Setiap kali aku menonton drama, aku selalu ingin makan di tempat itu." balasnya.

Ragata mengangguk, "Kalau begitu kita kesana sekarang."

Pojangmacha merupakan sebuah tempat kecil bertenda yang biasanya menjual jajanan jalanan khas Korea, seperti tteokbokki, gimbap, sundae, hotteok, dan lainnya. Juga menyajikan minuman beralkohol seperti soju. Ragata memilih kedai terdekat dari tempat mereka sekarang, yang tak jauh dari sungai Han. Sehingga mereka bisa menikmati makanan hangat dengan pemandangan lalu lalang orang-orang yang tengah bersantai. Langit berubah gelap ketika mereka duduk di salah satu meja di dalam kedai, untungnya kedai tersebut cukup besar sehingga mereka bisa mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman.

INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang