Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story :)
________________________________
Petir menyambar pada pagi yang mendung, disusul gemuruh guntur memenuhi pagi. Aleta menatap pada jendela yang tertutupi uap air, menyeka kaca dengan telapak tangannya, dan menatap keluar. Hantaman air hujan pada tanah menimbulkan bau petrichor segar yang masuk melalui sela jendela. Awan hitam tampak bergumpal, terlihat kelam. Seakan membawa sebuah misteri besar di dalamnya. Hujan pagi ini amat disyukurinya, hujan pertama setelah dia bangun dari kondisi kritisnya.
Hari ini adalah hari kelima dia keluar dari rumah sakit dan diijinkan untuk pulang setelah dirawat selama hampir dua minggu. Semenjak keluar dari rumah sakit dia tinggal di rumah milik Jihoon, yang ternyata berada di satu area yang sama dengan rumah Ragata. Bukan tanpa alasan dia tinggal di rumah milik kakaknya itu, mengingat kondisi rumah pamannya yang tak cocok untuk proses pemulihannya, dan juga dia tak bisa lagi tinggal bersama Ragata, makanya dia menyetujui permintaan Jihoon untuk tinggal di tempat ini. Tentu hal itu mendapat pertentangan dari Ragata, pria itu tak mau dia tinggal bersama pria lain, meski Jihoon berstatus sebagai kakak kandungnya. Tapi dia sebisa mungkin meyakinkan pria itu, dan akhirnya menyetujuinya untuk tinggal bersama Jihoon hingga dia pulih.
"Kenapa kau tidak menghabiskan sarapanmu?" Aleta mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara khas milik Ragata. Dia tersenyum kecil dari atas kursi rodanya sebelum menatap piring berisi makanan di atas meja makan yang cukup jauh darinya. Masih terdapat sisa makanannya.
Ragata tampak menghampirinya dengan senyum lembut seperti biasanya, kebiasaannya semenjak mereka resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Lengan kemeja pria itu digulung hingga siku, membuatnya tampak seperti seorang model yang berjalan diatas catwalk saat menghampirinya. Pemandangan yang sering di dapatnya akhir-akhir ini dan Aleta sangat menyukai hal itu.
"Kau harusnya menghabiskan sarapanmu, katanya kau bosan duduk diatas kursi roda terus." Ragata berjongkok di hadapan Aleta, mengomel pelan saat meraih tangan Aleta dan menciumnya lembut. "Selamat pagi, sayang." senyumnya terkembang semakin lebar, membuat Aleta ikut tersenyum.
"Selamat pagi juga." Aleta merasa meleleh setiap kali melihat senyuman itu. Kata-kata yang terlontar dari Ragata begitu membuainya, meski hanya sebuah kata yang mungkin dulu dianggapnya sangat berlebihan dan menjijikan.
"Jadi kenapa kau tidak menghabiskan sarapanmu?" tanya Ragata, sekali lagi.
Aleta memiringkan kepalanya ketika menyadari sesuatu, "Kenapa kau tidak bekerja?" tanyanya. Selama lima hari ini Ragata selalu mengunjunginya hingga siang, bahkan pria itu sering menemaninya makan siang juga. Dan dia baru sadar jika berarti selama lima hari ini pria itu tidak pergi ke kantor untuk bekerja. Bodoh, kenapa dia baru sadar hal itu sekarang?
Ragata tertawa pelan mendapati tatapan terkejut dari kekasihnya. "Aku bekerja, Bobby akan menjemputku kemari." balasnya santai.
Aleta mencibir, "Kau makin seenaknya keluar masuk rumah ini."
"Memangnya kenapa?" Ragata mengedikkan bahunya. "Suruh siapa kekasihku tinggal disini, bersama pria lain dan membuatku selalu khawatir."
"Pria lain itu kakak kandungku." Aleta mendengus. "Kau sudah sarapan?" tanyanya kemudian.
"Sudah." Ragata menegakkan tubuhnya dan bersandar pada dinding. Kedua tangan pria itu terlipat di depan dada seraya memperhatikan Aleta yang duduk tak nyaman di kursi rodanya. "Bersabarlah, jika kau tidak malas menghabiskan sarapanmu dan menyelesaikan obatmu, aku orang pertama yang akan mengajakmu jalan-jalan."
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romance--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)