Don't forget for vote and comment..
Enjoy the story..
___________________________________
Matahari masih belum menampakkan sinarnya, namun keributan kecil sudah terdengar dari dalam dapur rumah besar itu. Loyang-loyang berbagai macam ukuran berserakan dimana-mana, bersatu dengan tepung dan bahan-bahan lainnya. Tampak kotor dan berantakan. Dari dalam oven tampak loyang yang terisi adonan tengah memutar, disinari cahaya panas yang akan mematangkan adonan. Tampak tenang dan hangat.
Berbeda dengan itu, kondisi dapur yang berantakan membuat sepasang suami istri berdiri syok dengan kekacauan tersebut. Mata mereka mengedar ke segala penjuru dapur yang tak bisa disebut baik-baik saja. Keberuntungan mungkin masih bisa dikatakan mengingat dapur itu tak terbakar atau lebih parahnya meledak. Pandangan sepasang suami itu terhenti pada tiga sosok kecil yang tengah berdiri dengan wajah dan piyama mereka yang dipenuhi oleh tepung dan selai. Tiga sosok kecil berusia sama itu hanya tersenyum mendapati kedua orang tua mereka telah terbangun.
"Allahuakbar." Aleta memejamkan matanya, merasa sakit kepala saat itu juga.
"Nora, Nova, Noah." Ragata yang berdiri di samping istrinya menatap ketiga anaknya dengan pasrah. "Apa yang kalian lakukan sepagi ini?" tanyanya, tentu dengan penuh kesabaran. Berulang kali dia melafalkan dalam otaknya, jika ketiga anak yang menghancurkan dapurnya sepagi ini adalah anak-anaknya.
Ketiga anak itu menatap tanpa dosa pada ayahnya, "Kami sedang membuat kue untuk ayah dan ibu." jawab sang anak perempuan yang pertama, Nora.
Ragata mengernyit, "Untuk apa?" tanyanya lagi. Ingat, masih dengan kesabaran yang tinggi. Namun ketiga anaknya tak ada yang menjawab satupun pertanyaannya. "Ayah kan sering bilang, jika ada yang bertanya kalian harus apa?"
"Menjawab." jawab ketiganya bersamaan.
"Kalau begitu kenapa pertanyaan ayah tidak dijawab." Ragata menatap anak-anaknya yang menunduk. Mereka berbisik-bisik seakan tengah mendiskusikan sesuatu.
"Aduh, ibu jadi sedih. Ibu ingin menangis." kata Aleta, membuka matanya perlahan sebelum kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan. Berpura-pura sedih. Dia sangat tahu sifat ketiga anaknya yang begitu peduli padanya, ketiga anaknya pasti tak akan membiarkannya seperti ini.
Ragata menatap istrinya bingung, hingga beberapa saat kemudian dia menyadari jika istrinya tengah berakting. Dia dengan cepat memeluk istrinya dari samping dan pura-pura bersedih. "Ibu, jangan menangis ya. Ada ayah disini. Ibu jangan sedih."
"Ibu kenapa? Ibu marah ya dengan kami?" Noah yang terlebih dulu menghampiri Aleta. Anak lelaki itu memeluk ibu dan ayahnya sambil berkaca-kaca. Tak lama kemudian kedua saudarinya yang lain, Nora dan Nova ikut memeluk ayah dan ibu mereka.
"Ibu jangan menangis. Kami minta maaf." kata Nova sambil menangis.
"Ibu sedih kalian membuat dapurnya kotor." kata Aleta.
Nora menatap ayah, "Ayah, bagaimana cara membuat ibu tidak sedih lagi?" tanyanya.
Ragata menatap putrinya geli, namun sebisa mungkin dia menahan tawanya. "Mungkin kalian harus menjelaskan kenapa kalian membuat semua ini." jawabnya. Mata putrinya itu seketika berbinar senang, membuatnya ingin memeluk dan menciumnya saat itu juga.
"Ibu, ayah, kami minta maaf. Kami hanya ingin membuat kue untuk ayah dan ibu. Kata uyut kemarin, kalau hari ini hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibu." jelas Nora, diangguki oleh Nova dan Noah.
Aleta dan Ragata saling memandang. Bahkan mereka sama-sama tak ingat jika hari ini adalah hari pernikahan mereka. Namun ucapan putri mereka membuat mereka merasa terharu. Aleta tersenyum lembut menatap ketiga anaknya yang kini berusia 5 tahun itu. Matanya berkaca-kaca melihat betapa kerasnya ketiga anaknya untuk membuat kejutan bagi mereka.
"Sini peluk ibu." Nora, Nova, dan Noah dengan cepat memeluk ibu mereka dengan erat. Ragata menatap semua itu dengan senyuman sebelum bergabung memeluk istri dan anak-anaknya.
"Selamat hari jadi pernikahan ayah, ibu." kata Noah, lalu mencium pipi ayah dan ibunya berganti.
"Selamat hari jadi pernikahan juga ayah dan ibu." Nova tak mau kalah dengan saudara laki-lakinya dan dengan cepat memberikan ciuman di pipi ayah dan ibunya.
Terakhir Nora yang mencium ayah dan ibunya, bukan di pipi melainkan di kening. "Selamat hari jadi pernikahan ayah, ibu."
"Terimakasih, sayang. Ibu sangat bersyukur memiliki kalian." kata Aleta terharu.
"Ayah juga bersyukur memiliki kalian." Ragata menarik kembali istri dan anak-anaknya, memeluknya penuh rasa syukur.
Akhirnya mereka berpelukan cukup lama, sebelum Aleta mengakhiri semua karena ketiga anak kembar itu harus mandi dan berganti baju. Sementara Ragata memandikan si kembar, Aleta mulai membersihkan dapur yang kacau balau. Aleta dan Ragata sejak lama hanya menggunakan asisten rumah tangga yang tidak permanen, yang datang setiap dua hari sekali untuk bersih-bersih rumah. Semua urusan di rumah itu mulai dari memasak dan mencuci dikerjakan oleh Aleta seorang diri, tentu saja dibantu oleh Ragata. Bahkan saat si kembar lahir pun mereka tak menyewa seorang pengasuh, alasannya karena Aleta dan Ragata ingin secara langsung merawat anak-anak mereka.
"Anak-anak sudah selesai mandi?" Aleta menatap Ragata yang baru saja memasuki dapur. Dia kembali mengelap wastafel sebelum tiba-tiba Ragata memeluknya dari belakang.
"Mereka ada di kamar." balas Ragata. Dia menelusupkan wajahnya di leher istrinya. "Bu, maaf."
Aleta menengok bingung, "Kenapa minta maaf?" tanyanya. Dia meletakan lap di tangannya dan berbalik menatap suaminya yang tampak murung. "Kenapa minta maaf, ayah?"
"Ayah lupa kalau hari ini hari jadi pernikahan kita." balas Ragata murung.
Aleta tertawa, "Ibu juga lupa." balasnya, membuat Ragata tertawa pelan. "Tapi yang paling penting, ayah selalu ingat kalau ibu selalu mencintai ayah."
"Ayah lebih cinta ibu." Ragata tertawa pelan sebelum mencium bibir Aleta dengan dalam.
Aleta balas mencium suaminya dengan dalam dan hangat. "Ibu belum gosok gigi." katanya di sela-sela ciuman mereka.
"Terus?" Ragata memperdalam ciumannya. Mengangkat tubuh istrinya ke atas meja. "Bu, boleh minta hadiah adik untuk si kembar?" bisik Ragata pelan. Matanya menyiratkan penuh makna.
"Yah, kita sudah punya tiga anak. Kurang?" Aleta menatap lebar.
Ragata mengangguk, "Ayahkan ingin punya keluarga besar." kata Ragata sambil menciumi leher Aleta. "Boleh ya, bu?"
Aleta menahan nafasnya ketika Ragata terus menciumi lehernya, pertahanannya sudah mulai goyah. "Kita harus ke dokter dulu kalau begitu." balasnya, terengah-engah.
"Untuk apa?"
"Melepas alat pengamannya."
"Ibu setuju?" Ragata menatap istrinya berbinar-binar.
Aleta memutar matanya, "Tidak jadi?"
"Oke. Siang nanti kita ke dokter."
"Lusa bagaimana?" tawar Aleta.
"Ibu pikir ayah bisa tahan sampai lusa?" Ragata mendengus sebelum kembali mencium istrinya. "I love you, istriku."
Aleta tersenyum, "I love you too, ayah."
-FIN-
Halo, ini Shee Aquila.
Sebelumnya aku berterima kasih sekali pada kalian yang sudah membaca cerita ini. Terima kasih sudah menemani Aleta dan Ragata sampai akhir. Tapi pasti kalian mikir kenapa cerita akhirnya kaya gini, atau kok gantung. Sebenarnya Aleta dan Ragata masih punya satu masalah lagi yang bikin mereka hampir gagal nikah, tapi gaakan aku ceritain disini. Ceritanya akan muncul bersama tokoh lainnya. Karena menurut aku cerita mereka terlalu panjang kalau disimpen disini.
So, ikutin terus cerita aku selanjutnya yaa.. Sampai jumpa di kisah lainnya..
Shee Aquila.
KAMU SEDANG MEMBACA
INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]
Romansa--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi itu tak dapat lagi ditolak pesonanya. Sikapnya yang hangat dan romantis mampu membuat wanita...
![INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/210287909-64-k862645.jpg)