Bab 4

4.6K 250 5
                                        

Kamar Widi tepat menghadap kolam renang. Ketika membuka jendela, tampaklah tamu bule berjemur di kursi malas yang dinaungi pohon kelapa. Widi tercenung beberapa saat. Tidak tahu harus melakukan apa. Dia lupa membawa kostum renang. Jam makan siang sudah lewat. Kebetulan sekarang hari Kamis dan Widi puasa. Jadi apa yang harus dia perbuat sekarang?

Sendirian di kamar sepi sekali. Maka Widi keluar saja. Berdasarkan hasil browsing, didapatkan informasi bahwa Uluwatu sesungguhnya berada di atas tebing yang langsung tersambung ke laut. Pengelola hotel pun begitu baik hati membangun papan penunjuk. Tinggal mengikuti saja maka Widi langsung sampai ke tebing curam. Di bawah, ombak berdebur menghantam dinding batuan. Angin cukup kencang.

Apakah Mutiara akan suka jika diajak ke sini? Widi bergelut dengan pertanyaan dalam benak.

"Mutiara tidak suka laut. Dia lebih suka tempat yang sejuk seperti gunung."

Jantung Widi nyaris copot. Cassandra seperti jin saja, tahu-tahu muncul.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Widi.

"Tahu. Karena waktu aku menyarankannya dan Hamizan bulan madu kedua di Bandung, Mutiara senang."

Jadi begitu. Banyak hal mengenai mendiang istrinya yang tidak Widi ketahui.

"Eh, sorry," Cassandra menyesap jus nanas dari gelas yang dia genggam di tangan kanan. "Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih."

"Tidak. Aku sudah berdamai dengan kenangan."

"Syukurlah kalau begitu." Cassandra membuka topi lebarnya. Sejak tadi angin berusaha menerbangkannya.

"Bagaimana bisnismu?" tanya Cassandra mengubah pembicaraan.

"Alhamdulillah lancar. Pada Ramadan lalu penjualan meningkat pesat. Hampir dua ratus persen."

Widi menahan agar dadanya tidak membusung. Dia harus menjaga sikap rendah hati. 

"Kamu memang hebat. Di pameran IPFI yang dulu kelihatan kalau produkmu diterima masyarakat. Rancangannya fresh. Kekinian banget. Orang yang pakai nggak akan kelihatan tua."

Seorang perempuan jelita memuji Widi. Haruskah dia terbang sekarang? 

"Terima kasih. Aku yakin penjualan Venusian Lingerie juga bagus."

Cassandra menggeleng. "Stuck di situ saja, Wid. Kayaknya aku perlu ganti strategi marketing. Apa kamu mau mengajariku?"

"Kenapa tidak?" jawab Widi spontan. Dia suka berbagi ilmu. Lagipula Venusian Lingerie bukan saingan Zaitun Collection. Pangsa pasar mereka berbeda. 

"Kamu baik banget." Cassandra tersenyum cerah. Widi jadi ikut tersenyum.

"Asyik amat ngobrolnya." Tiba-tiba saja sebuah suara dalam dan berat menyela.

Widi dan Cassandra membalik badan bersamaan. Hamizan Parama berdiri menjulang di belakang mereka. 

***

Hello Sexy Readers,

Sexy Mistress sudah tamat di Karyakarsa. Diskon sampai tanggal 3 Januari 2023 sudah bisa baca sampai tamat plus extra part dari harga Rp.29K jadi Rp. 15K.

 15K

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang