Bab 94

517 70 7
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak.

So, enjoy.

♥♥♥

Tubuh mungil itu tampak kurus dan ringkih. Kabel-kabel ditempelkan ke kulit Lithania yang memar kebiruan, jarum infus menusuki pembuluh darahnya. Beberapa hari belakangan anak itu tidak mau makan apa pun sehingga tim medis harus menginfusnya. Kelopak mata mungil Lithania menutup, seakan kehilangan daya untuk membuka kembali. Cassandra tersayat. Dia tak bisa marah pada Hamizan yang tidak becus merawat anak mereka tetapi dengan sombong menculiknya.

"Litha, ini Mama, Nak," lirih Cassandra. Diciumnya telapak kaki mungil itu. Litha tidak bereaksi. Kepedihan Cassandra semakin menggigit bagai racun yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.

Widi merangkul istrinya. Bahu dalam dekapannya itu naik-turun akibat tersedu. Apa yang dia rasakan ketika dulu berhadapan dengan Mutiara yang tengah berada di ambang hidup dan mati, kini dirasakan Cassandra. Widi memahami bagaimana takutnya, sakitnya, juga menderitanya menyaksikan orang yang dicintai dalam keadaan kritis.

"Bu Cassandra?" sapa seorang perawat.

Cassandra menghapus air mata lalu menoleh. "Iya, Suster."

"Dokter Munawar mau bertemu orang tua Lithania Parama."

Cassandra bersama Hamizan hafal di mana letak ruangan Dokter Munawar. Beliau sudah menunggu kedatangan pasangan suami istri yang menurut rekan-rekan sejawatnya serasi. Tampan dan cantik, hanya bernasib malang karena mendapat cobaan maha berat. Widi dan Fatma menunggu di luar agar tidak menyesaki ruangan yang tidak terlalu besar itu.

"Silakan, Bu Cassandra. Lama tidak berjumpa." Dokter Munawar tersenyum.

"Apakah Litha bisa selamat, Dok?" Alih-alih menjawab basa-basi Dokter Munawar, Cassandra malah langsung menuju inti masalah. Dia melupakan cara berakting, berpura-pura sopan dan melayani pertanyaan tak penting sangatlah melelahkan. Air mata kembali meluncur deras melindas pipi halusnya.

Dokter Munawar mengangguk, paham bahwa Cassandra ingin jawaban tuntas. "Donor sumsum tulangnya tidak dapat ditunda lagi."

"Tetapi saya dan Hamizan sudah dites. Sumsum tulang belakang kami tidak cocok," jawab Cassandra serak.

Agama menyarankan umatnya untuk senantiasa berihtiar, tetapi insting seorang ibu yang Cassandra miliki seakan menggerus semua keyakinan. Justru kini Cassandra yakin hidup putrinya tak akan lama lagi.

"Benar, karena itulah saya menyarankan agar Anda berdua mengikuti program hamil agar Litha memiliki saudara kandung dengan DNA yang cocok. Mungkin Ibu pernah membaca berita mengenai istri mantan presiden kita yang menderita kanker darah juga dan menerima donor dari adiknya."

"Saya baca. Sayang sekali beliau akhirnya tetap wafat meskipun sudah menerima donor," ucap Cassandra getir.

"Manusia hanya dapat berusaha, Bu. Tuhan jugalah yang menentukan. Usia ibu masih muda dan sehat. Risiko jika hamil tidak besar," Dokter Munawar berusaha memberi solusi.

"Sebenarnya," Cassandra ragu melanjutkan, "saya sedang hamil."

Hamizan dan Dokter Munawar sama-sama terkesiap. Hanya saja raut wajah mereka menyiratkan hal yang berbeda. Hamizan seperti tidak rela, sementara Dokter Munawar berbinar-binar.

"Selamat kalau begitu. Semoga Lithania masih dapat bertahan untuk beberapa tahun ke depan sampai adiknya siap mendonorkan sumsum tulangnya," ucap Dokter Munawar optimis.

"Tetapi, Dok, anak yang saya kandung ini berbeda ayah."

Dokter Munawar berjengit, menatap kasihan pada Hamizan lantaran menyangka Cassandra berselingkuh. Punya istri cantik memang seringnya menyusahkan. Hamizan bergeming menerima tatapan penuh simpati.

"Saya dan Hamizan sudah bercerai," ungkap Cassandra. Awalnya dia ingin menyembunyikan masalah ini. Bagaimanapun urusan rumah tangganya bukanlah konsumsi publik. Untuk apa Dokter Munawar mengetahui statusnya? Paling hanya jadi bahan gibah seantero rumah sakit. Namun jika tidak berterus terang, kemungkinan besar Dokter Munawar akan terus mendesaknya.

Sejenak ruangan sunyi. Hamizan diam karena dilanda dilema harus memberi selamat atau harus mengungkapkan kekecewaan. Cassandra menangis tersedu. Dokter Munawar mencari kata-kata yang tepat untuk tidak memperkeruh suasana.

"Usia Lithania sudah setahun. Dia anak yang kuat bisa bertahan sejauh ini." Dokter Munawar menghibur.

"Apakah ada kemungkinan Litha sembuh tanpa donor sumsum tulang, Dok?" Hamizan yang sejak masuk hanya mengunci mulut kini membuka suara.

"Tentu saja, Pak Hamizan. Selalu ada harapan. Persentase kesembuhan leukemia pada anak mencapai 80%."

Hamizan mendesah lega. Dunia kedokteran sudah semakin canggih. Setiap hari ada saja obat maupun metode baru untuk menyelamatkan nyawa manusia ditemukan. Semoga saja putrinya termasuk ke dalam golongan 80% pasien sembuh, bukan 20% yang meninggal.

"Jika saja Litha mampu bertahan, mungkin dalam beberapa tahun lagi akan ditemukan obat yang lebih ampuh atau kalau ada, donor yang cocok," kata Dokter Munawar seakan dapat membaca pikiran Hamizan.

"Maaf menyela," kata Cassandra, "80% kemungkinan sembuh artinya masih ada 20% lagi kemungkinan tidak selamat kan?"

"Dokter tidak diperkenankan menjanjikan kesembuhan, Bu Cassandra. Selalu ada kemungkinan buruk yang menyertai kemungkinan baik. Selama belum menemukan donor yang cocok, kita hanya dapat berdoa dan mengusahakan dengan pengobatan."

♥♥♥


SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang