Bab 60

1.2K 88 1
                                        

Hello Sexy Readers,

Mulai hari ini saya akan posting kisah Cassandra, Hamizan, dan Widi setiap hari di Wattpad. Vote dan komen yang banyak.

Love,
Bella - WidiSyah

♥♥♥

Akhir pekan biasanya digunakan pasangan untuk bersantai, tak sedikit keluarga yang menghabiskan waktu dengan melakukan banyak momen seru. Baik itu menghabiskan waktu di rumah dan menonton acara seru, sekadar jalan-jalan di taman, atau pergi mengunjungi tempat wisata.

Lain halnya Widi yang tidak punya pasangan, dia sudah berjanji akan mengantar Lithania kontrol ke rumah sakit. Dokter Munawar menganjurkan untuk bertemu di Sabtu pagi karena pasien kurang sehingga mereka bisa lebih leluasa berbincang.

Maka di sinilah Widi sekarang, layaknya pasangan harmonis menanti giliran di ruang tunggu. Sejak dia tahu Cassandra di apartemen, Widi semakin sering mengunjunginya.

"Maaf aku jadi sering ngerepotin kamu." Cassandra berkata di samping Widi yang menyupir. "Hamizan sudah nggak peduli lagi sama anak dan istrinya."

Cassandra terlalu kesal sampai tidak sanggup lagi menahan mulut. Percuma menutupi aib suami kalau laki-laki itu tak ambil pusing kondisi darah dagingnya.

"Apa kamu sudah menghubungi suamimu dan memberi tahu jadwal kontrol Lithania hari ini?"

"Aku kirim chat WA, aku juga telepon. Nggak ada jawaban. Hamizan berubah, Wid. Dia nggak mencintaiku lagi, bahkan nggak peduli sama anaknya sendiri."

"Jangan bilang begitu." Widi berusaha meredam emosi Cassandra. Wanita itu tampak menahan luapan emosi sampai matanya berkaca-kaca.

Cassandra menarik selembar tisu dari dasbor lalu menyeka air mata yang menetes.

Widi ikut teriris. Kepedihan hati Cassandra menusuk hatinya juga. Jika Hamizan ada bersama mereka, Widi ingin melayangkan tinju menghajar wajahnya. Persahabatan dua wanita hancur akibat ulah Hamizan. Mutiara menderita sepanjang hidupnya. Kini Cassandra merasakan hal yang sama.

Syukurlah mereka tiba di rumah sakit sehingga tak perlu berdebat lebih lama. Widi memangku Lithania sementara Cassandra memberikan ASI yang sudah diperah dan dimasukkan ke dalam botol.

"Lithania Parama." Panggilan perawat membuat Widi dan Cassandra menoleh. Keduanya menuju ruangan praktik Dokter Munawar.

"Selamat siang, Ibu Cassandra." Dokter Munawar tersenyum pada pria yang ada di belakang Cassandra. "Oh, kali ini dengan Pak Widi? Litha lengket sekali dengan Anda."

"Suami saya sedang sibuk, Dok," sela Cassandra cepat.

"Iya sih, resto The Parama Kitchen memang selalu ramai, ya. Terutama sejak pembukaan cabang di Bali."

Sumpah demi apa, Cassandra geregetan sendiri. Dokter Munawar terlalu up to date pada latar belakang pasiennya.

"Oh, iya, apa kabar Litha hari ini?" tanya Dokter Munawar pada bayi kecil di pangkuan Widi.

"Kondisi Litha masih seperti biasanya, Dok. Sehabis kemo, dia terlihat seperti bayi kebanyakan. Tapi saat pengaruh obatnya sudah hilang, Litha sangat menderita, Dok." Cassandra mengambil tisu dari dalam tas, air matanya selalu saja menetes jika mengingat kondisi Lithania.

"Memang seperti itu, makanya saya menyarankan transplantasi. Sebaiknya dengan saudara sekandung."

"Saya belum hamil lagi, Dok." Sesaat hati Cassandra mencelus perih, bagaimana dia bisa hamil kalau yang akan membuahi sel telurnya tidak ada? Hamizan seakan tak peduli dengan kondisi putrinya.

"Kami masih mengusahakan pendonor luar, Dok." Widi ikut angkat bicara, dia tahu dalama masalah ini, dia tidak punya hak untuk memberikan suara. Namun, melihat Cassandra bersedih seperti sekarang, jujur, separuh hati Widi tidak rela.

"Terapi obat tetap kita lanjutkan." Dokter Munawar menuliskan resep lalu menatap Litha dengan tatapan prihatin. "Diharapkan terapi tersebut dapat menemukan dan menghancurkan sel kanker secara spesifik, tanpa merusak sel yang masih sehat."

"Baik, Dok." Cassandra mengangguk setuju. Apa pun akan dia lakukan demi kesembuhan Lithania.

"Kalian cukup menjaga lingkungan dan makanan Litha tetap steril, karena penderita leukemia sangat rentan terpapar infeksi." Dokter Munawar menyerahkan daftar obat Lithania. "Jangan sampai Litha drop karena kelupaan memberinya obat, ya."

"Baik, Dok. Terima kasih." Cassandra menerima lembaran resep tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Oh, iya, Pak Widi. Setelah pendonor kemarin, apa belum ada lagi?" Pandangan Dokter Munawar beralih pada Widi.

Pria itu menggeleng lesu, "Belum ada lagi, Dok. Tapi pasti saya akan menghubungi Dokter kalau ada perkembangan baru."

"Sayang sekali, ya. Tapi memang seperti itu, kecocokan DNA pasien dengan pendonor luar bisa dikatakan satu berbanding seribu."

"Apakah ada kemungkinan Litha segera sembuh, Dok?" tanya Cassandra sambil terisak.

"Tentu saja, selalu ada harapan untuk Litha kembali pulih. Ibu Cassandra jangan sampai berputus asa." Dokter Munawar berusahan menyemangati. "Selain itu, Ibu perlu diketahui, banyak penyintas leukemia tanpa melakukan transplantasi yang masih bertahan hidup sampai sekarang."

♥♥♥

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang