Hello Sexy Readers,
Vote dan komen yang banyak.
So, enjoy.
♥♥♥
Tikar digelar di ruang tamu. Tetangga sekitar begitu baik hati, mau menata perabot agar rumah terasa lebih luas. Bendera kuning diikat di pagar oleh pemuda masjid yang berkoordinasi dengan RT. Tenda terpal didirikan di trotoar untuk menampung para pelayat. Hamizan tampak tegar berdiskusi dengan pak RT. Diskusi itu berhenti ketika mobil bak terbuka pengangkut dus-dus air mineral berhenti di depan mereka.
Tangan Cassandra digenggam Widi, terlalu lemas sekadar menaiki undakan. Tak disangka kakinya menginjak ubin dingin ini dalam kesempatan yang menyedihkan. Seharusnya keriuhan ini baru boleh terjadi dua puluh lima tahun lagi ketika Lithania dilamar laki-laki yang menjadikannya istri. Seharusnya yang dipancang di pagar bukanlah bendera kuning, tetapi janur kuning. Cassandra menyusut air matanya, memaksakan diri menuju teras belakang.
Fatma memandikan jenazah Lithania. Kelopak mata anak itu terpejam damai. Bibirnya terangkat seakan-akan tersenyum sebab semua rasa sakit terangkat. Ilmu agama Cassandra belum terlalu dalam. Dirinya berlumur dosa dan Cassandra tahu diri. Maka dia serahkan pelaksanaan prosesi itu pada mantan ibu mertua.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun."
Ucapan turut berduka cita mengalir ke ponsel Cassandra. Dia tidak membaca apalagi membalasnya, hanya menunggu di luar kamar Lithania, menunggunya selesai dimandikan. Widi lah yang menyempatkan waktu menjawab semua.
Hamizan mengganti pakaian dengan baju koko putih dan celana bahan. Suasana hatinya sulit ditebak, yang jelas tiada lagi air mata. Cassandra tak peduli apakah mantan suaminya bersedih atau tidak. Saat Hamizan duduk di samping Cassandra pun, dia tak menoleh, melainkan hanya menonton karangan bunga secara bergilir diantar ke depan rumah yang dulu pernah ditinggali kala masih menjadi keluarga bahagia.
"Maafkan aku," kata Hamizan getir.
"Untuk apa?" Cassandra terlalu lelah menangis.
"Untuk semua yang kulakukan. Maaf karena aku mengambil Litha darimu."
"Kamu menculiknya."
"Aku hanya mau dia bahagia, tidak tinggal bersama ayah tiri."
Egois, seperti itulah kata-kata yang tertahan di ujung lidah Cassandra, siap dimuntahkan menghajar harga diri Hamizan. Namun apa gunanya sekarang? Untuk apa caci maki ketika Lithania sudah terbujur kaku? Maka Cassandra menutup mulut rapat-rapat.
"Punten, Pak, mobil Xenia abu-abu di depan punya siapa ya?" Seorang pemuda masjid mendatangi Hamizan.
"Punya saya," kata Widi.
"Oh, bisa tolong dimajukan? Ada mobil mau keluar terhalang mobil Bapak."
"Bisa." Widi mendatangi Cassandra, mengembalikan ponsel istrinya. "Cas, aku majuin mobil dulu," ucapnya yang ditanggapi anggukan istrinya.
"Aku masih sayang kamu, Ndra," bisik Hamizan sepeninggal Widi.
"Hentikan, Ham," sergah Cassandra, "jangan mimpi kamu mau membuatku bercerai dari Widi. Aku baru sadar dia adalah laki-laki paling baik, paling berhati besar, paling sabar, dan paling tidak egois. He deserves better. Hal terbaik yang bisa kulakukan untuk membalas semua yang dia berikan adalah dengan menjadi istri yang setia. Lagipula aku hamil anaknya, anak kami."
"Aku cuma mau mengungkapkan perasaan, bukan mau memintamu menikah denganku."
"Lalu apa gunanya ungkapan perasaan konyolmu? Apa kamu mau aku mengatakan hal yang sama?" Cassandra menekan amarah dan kesedihan, semuanya siap meledak kapan saja jika dipicu sesuatu.
"Tidak. Aku cuma ingin kamu tahu, bahwa aku masih menyayangimu. Aku juga sangat menyayangi Litha. Mungkin kamu bertanya kenapa aku sibuk sendiri selama ini, nggak memperhatikan kalian. Aku ingin anak-istriku hidup layak tanpa kekurangan. Rumah ini, mobil yang kalian kendarai, makanan sehat yang kita santap, semua dibeli dengan uang, Ndra. Kalau aku bermalas-malasan, mungkin kita nggak bisa hidup layak."
"Sudahlah, Ham. Setelah ini kita lanjutkan saja hidup masing-masing." Cassandra menghentikan keluh kesah cengeng Hamizan. Mungkin kematian Lithania adalah cara Tuhan agar dia tak perlu berhubungan dengan Hamizan, agar menatap masa depan dengan Widi dan calon anak mereka kelak.
"Zan," Fatma keluar membawa jenazah Lithania yang telah dikafani. "sudah."
Hati-hati Hamizan menggendong Lithania. Menimangnya untuk terakhir kali. Bayinya, putri kecilnya, akan disolatkan, lalu dikebumikan. Dari debu menjadi debu. Semua makhluk bernyawa akan kehilangan nyawanya. Bukankah hidup hanya sebentar saja?
♥♥♥
Hello Sexy Readers,
Cukup sekian ya kisah Widi-Cassandra-Hamizan yang up di Wattpad.
Extra part bisa dibaca di Karyakarsa akun belladonnatossici. Di Extrapart, kamu bisa baca nasib Hamizan, Cassandra, dan Widi pasca meninggalnya Lithania.
Ini linknya:
https://karyakarsa.com/BelladonnaTossici/extra-part-sexy-mistress
Sampai jumpa di karya selanjutnya.
Love,
💋 Bella - WidiSyah 💋
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
Storie d'amoreCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
