Hello Sexy Readers,
Follow aku yuk, terus klik bintang dulu. Komen yang rame ya. Sayang kalian.
💋💋💋
Tangisan Lithania menyayat hati. Dia terlihat menderita. Meronta kuat dengan tangan mengepal dan kaki menendang udara.
Cassandra tergopoh masuk. Wanita itu menggendong bayinya. Terkesiap saat menyentuh kening Lithania yang panas. Dengan panik dia mengaduk tas mencari thermometer digital yang tidak pernah lupa dibawa ke mana-mana.
"Sabar ya, Sayang," bujuk Cassandra Lithania yang merajuk tidak nyaman karena dipaksa mengepit pengukur suhu tubuh itu.
Cassandra meraba celana Lithania. Kering. Dia pun melengos saat Cassandra menyodorkan dada. Menolak disusui. Berarti sumber kerewelannya memang demam ini.
"Gimana? Masih panas?" Hamizan yang masuk setelah berpakaian menyampirkan selimut menutupi tubuh telanjang sang istri.
Cassandra cuma mengangguk. Karena khawatir sampai tidak sanggup bicara. Lithania terus menjerit.
"Iya, Sayang. Sabar, ya." Cassandra mengecup kening putrinya untuk menenangkan.
Layar kecil di termometer yang diselipkan di ketiak Lithania menunjukkan angka 38 oC. Sesuai perkiraan Cassandra.
"Ham, kita harus bawa dia ke dokter. Bukan anget-anget biasa deh." Cassandra sudah tidak dapat bersikap anggun dan tenang lagi. Dia melupakan beberapa saat yang lalu tergulung kenikmatan. Bagi seorang ibu, anak jauh lebih penting dibandingkan apa pun.
Hamizan mengambil ponsel. Pukul setengah delapan. Tiga puluh menit saja kemesraannya dengan Cassandra dan itu pun terjeda tangisan bayi. Tetapi sekarang bukan saat yang tepat untuk mengeluh.
"Aku tanya teman-temanku dulu dokter anak yang bagus di sekitar sini. Sekarang masih terlalu pagi, Ndra. Mungkin para dokter anak masih tidur." Hamizan ikut panik tetapi berusaha menenangkan.
"Aku ganti baju Lithania dulu."
Hamizan sudah menjauh. Sibuk mengirim chat pada beberapa kenalannya di Bali. Tidak banyak memang, tetapi orang-orang yang dia hubungi memberikan referensi.
Hamizan menghubungi rumah sakit yang direkomendasikan teman-temannya. Ada yang poli anaknya tidak buka lantaran dokternya keluar negeri. Ada yang bukanya siang. Setelah mempertimbangkan beberapa nama, Hamizan menetapkan satu nama. Dokter anak yang dipilih berada di rumah sakit. Jaraknya lumayan dekat dan jam praktik paling pagi.
Rupanya dokter ini terkenal di Uluwatu. Pasien mengantri di poli anak yang dindingnya dihiasi wallpaper bertema kartun. Pajangan yang digantung meramaikan ruang tunggu. Seperti Lithania, bayi-bayi di sana juga menangis.
Satu persatu pasien dipanggil masuk hingga tiba giliran Lithania. Dokter anak itu perempuan berusia sekitar empat puluh tahun. Riasannya sederhana dengan rambut pendek sedikit di bawah daun telinga.
"Adik, diperiksa dulu ya," kata sang dokter penuh kelembutan.
Dokter menempelkan stetoskop ke dada Lithania, memeriksa napas bayi itu. Sesekali Dokter memeriksa arloji sembari menghitung napas Lithania. Kemudian dokter menyenter area mulut lalu matanya. Dia membuka pakaian Lithania. Ada lebam kebiruan di lengan dan punggungnya.
"Ini kenapa, Pak?" tanya Dokter pada Hamizan.
"Kemarin sepertinya terbentur dinding kolam renang. Saya ajak dia berenang, Dok." Hamizan tampak merasa bersalah terutama karena Cassandra memelotot.
Tangis Lithania berhenti. Sekarang asyik menggenggam telunjuk sang dokter.
"Bisa jadi panasnya karena terlalu lama berenang. Ada bayi yang tidak bisa terlalu lama kena air. Saya resepkan obat penurun panas. Biasa bayi demam seperti ini," ucap sang dokter.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
Любовные романыCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
