Bab 82

557 58 9
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak biar kami semangat update.

So, enjoy.

Love,
Bella - Widisyah (WidiSyah)

♥♥♥

Sembilan tahun rupanya terlalu singkat bagi Cassandra untuk menyatakan benar-benar mengenal Hamizan. Bayangkan, orang yang pernah berbagi ranjang dengannya, memadu cinta bersama, begitu dekat layaknya nadi, ternyata hanya laki-laki asing yang tega mencuri kesempatan. Hak asuh atas Lithania jatuh ke tangan ibunya sebab hakim mempertimbangkan usia anak itu yang masih terlalu kecil dan menyusu. Putusan teramat bijaksana itu pun tak memuaskan Hamizan hingga dia nekat merebut Lithania kala Cassandra lengah.

Kepala Cassandra menyandar di jendela, mengenang kebersamaan yang pernah dia miliki. Bukankah dulu mereka sangat bahagia? Keluarga kecil yang sempurna di mata orang-orang. Ayah yang tampan dan dari keluarga terpandang. Ibu yang cantik, seksi, cerdas, dan mandiri. Anak perempuan yang manis dan lucu. Kapan tepatnya semua menjadi kacau?

Air mata Cassandra menetes, tetapi ibu jari seseorang mengusapnya. Cassandra menoleh. Widi menggeret kursi dari meja rias lalu duduk di sebelahnya.

"Aku tahu, pasti kamu kangen sama Litha," ucap Widi lembut.

"Hamizan nggak pernah kelihatan peduli sama Litha. Kamu tahu, waktu Litha sakit di Bali, Hamiz sibuk mengurusi pembukaan restoran. Aku marah, tapi berusaha memahami. The Parama Kitchen adalah impiannya, passion-nya. Selama Litha sakit, aku yang mengurusinya. Bikinin makanan, kontrol ke dokter seringnya sendiri. Tapi apa yang kudapat? Perselingkuhan Hamiz." Cassandra terlalu lelah untuk berteriak. Lagipula dia tak punya energi untuk marah-marah. Kesedihan menguasai jiwa raganya. "Kenapa sekarang dia bersikap seakan-akan peduli pada Litha?"

"Mungkin dia menyesal, menyadari bahwa selama ini nggak jadi ayah yang baik. Aku yakin Hamizan akan mengurus Litha." Widi menenangkan Cassandra.

"Hamizan nggak sayang sama Litha. Aku sangsi dia akan merawat Litha."

"Kenapa bilang gitu?"

"Litha masih menyusu ASI. Kalau Hamizan sayang sama Litha, dia akan berpikir sejuta kali sebelum memisahkan bayi yang masih menyusu dari ibunya."

Widi sedikit mengakui kebenaran dalam ucapan Cassandra. Namun, dia masih berpikir positif. Bukankah agama pun melarang orang berprasangka buruk? Secara refleks, Widi mengambil tangan Cassandra untuk digenggam.

"Aku memaafkan Hamizan karena berselingkuh. Mungkin salahku juga karena terlalu sibuk merawat Litha sampai nggak manjaga kecantikan. Kupikir pernikahan kami saat itu akan selamat, tapi aku salah. Hamiz seperti keberatan membantuku merawat Litha," Cassandra berkata serak, menyesali semua yang terjadi.

"Bersedih itu boleh, Cas, asal nggak berlebihan dan nggak lemah," tegur Widi lembut.

Cassandra menyandarkan kepala ke dada Widi. "Aku cengeng ya? Padahal sebelum melahirkan, kayaknya aku paling anti menangis."

"Sedih itu manusiawi, asal nggak berlebihan." Widi membelai kepala Cassandra, mengecup rambutnya yang harum. "Maaf, bukannya mau menceramahi, ilmu agamaku pun belum tinggi dan aku juga masih terus belajar. Aku sebagai suami berkewajiban membimbingmu."

Cassandra bingung antara harus bersyukur atau kabur. Masa mudanya bergelimang dosa. Menikah dengan mantan suami sahabatnya setelah berzina. Kini malah menerima Widi yang bertolak belakang dengan sifatnya sebagai suami. Hidup yang lucu. Dia pun tertawa di pelukan Widi.

"Hei, tadi menangis, sekarang ketawa. Kamu mengerikan." Widi pura-pura menggigil ketakutan.

"Aku geli aja sama takdir. Aku sebenarnya Agnostik sejak remaja. Di KTP memang beragama Islam hanya supaya urusanku mudah. Jadi mayoritas selalu enak kan? Aku nggak pernah benar-benar mengamalkan ajaran agama. Bacaan salat pun aku lupa. Terkadang masih nggak percaya kalau aku nikah sama orang kayak kamu."

Pelukan Widi mengendur. Widi mencubit hidung Cassandra. "Aku juga selalu bercita-cita punya istri soleha. Berhijab, hafal Alquran, salat lima waktu nggak pernah lepas, dan terutama mau jadi ibu rumah tangga yang menunggu kepulanganku, tapi rencana Allah selalu lebih baik kan?"

"Kalau di sinetron, laki-laki kayak kamu pasti jadi pemeran protagonis, sementara aku antagonis. Pelakor cantik seksi yang nggak patuh pada suami dan mengejar karir." Cassandra tertawa lagi.

"Nggak ada orang yang sepenuhnya baik dan sepenuhnya buruk. Aku kenal perempuan berhijab yang suka menjegal karir orang lain dan tukang fitnah meski salatnya rajin. Begitu pun preman yang jarang salat pun ada yang menolong orang tanpa pamrih. Kita nggak bisa menilai orang dari tampilan luarnya."

Cassandra mendongak, menarik kaus Widi lalu memagut bibirnya. Laki-laki itu melotot, terkejut saat lidah Cassandra mendesak ke rongga mulut. Istrinya sungguh liar. Jauh dari sosok wanita muslimah alim yang dia idamkan menjadi istri. Tetapi, kenapa Widi menyukainya?

Cassandra mendongak, menarik kaus Widi lalu memagut bibirnya sekilas. Perasaan sedih kembali menggelayuti.

Widi yang tahu kesedihan Cassandra mengusap punggung istrinya. "Litha akan baik-baik saja. Nanti aku akan bernegosiasi sama Hamizan supaya kita bisa sering menjenguknya. Gimana?"

Cassandra tak tahu harus menjawab apa. Betapa baiknya laki-laki ini, yang menerimanya apa adanya, yang menerima putri sambung kemudian mencintai layaknya anak kandung. Cassandra bersedih, tetapi ingin membalas semua kebaikan itu.

"Makasih ya, Wid." Cassandra mempertemukan bibir mereka lagi hingga laki-laki itu melotot, terkejut saat lidah Cassandra mendesak ke rongga mulut. Cassandra sungguh liar. Jauh dari sosok wanita muslimah alim yang dia idamkan menjadi istri. Tetapi, kenapa Widi menyukainya?

Perlahan lengan Cassandra mengalungi leher Widi, bibirnya asyik mengisap bibir Widi. Api seakan berkobar di matanya. Napas semakin menderu dengan jantung berpacu.

"Kamu berbeda sekali, Widi," bisik Cassandra setelah melepas ciumannya. Tatapannya pada Widi selalu penuh arti.

Widi sedikit pusing akibat sengatan yang Cassandra berikan. Kepalanya berputar dan pandangannya berkunang-kunang. Gila, pernikahan mereka akan sangat gila.

Air mata kesedihan Cassandra menetes. Pikirannya tidak dapat fokus pada kenikmatan seksual. Namun Widi menghapusnya.

"Kita hadapi sama-sama, Sayang." Widi mengangkat tubuh sang istri, membaringkannya ke ranjang.

Cassandra menjadi pihak yang pasif sekarang. Telentang dan membiarkan Widi mengambil alih permainan. Diam ketika pakaiannya dilepaskan oleh sang suami. Mengerang ketika area sensitifnya dihujani rangsangan. Menggelinjang ketika pada akhirnya Widi menyatukan diri, melebur bersama, meledakkan cairan cinta ke dalam rahimnya.

♥♥♥

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang