Novel ini karya Bella - WidiSyah
Vote dan komen yang banyak.
💋💋💋
Litathania terlelap di kamar Wening. Cassandra juga menyelonjorkan kaki di kasur. Tadi pagi dia menyupir dari Jakarta sampai Tegal, baru dilanjutkan Widi hingga Surabaya. Dia jadi senyum sendiri mengingatnya. Mereka tidak pernah bertengkar selama ini. Akur-akur saja. Damai, itulah yang Cassandra rasakan saat bersama Widi. Tidak ada riak dan gelombang. Cassandra jatuh tertidur sampai dibangunkan suara ketukan pintu kamar.
"Widi?" Cassandra mengerjapkan mata.
"Bangun yuk, kita salat magrib berjamaah."
Cassandra menurut saja. Mengambil air wudu lalu salat berjamaah bersama Rima dan Widi. Sungguh syahdu.
"Bun, saya mau ajak Cassandra jalan-jalan sebentar. Apa Bunda nggak keberatan kalau kami titip Litha?"
Cassandra yang tengah melipat mukena pinjaman usai salat menoleh. "Ini sudah malam, Wid."
"Sebentar saja kok. Kamu pasti belum pernah melihat keindahan Surabaya pada malam hari kan?"
"Ndak apa-apa. Pergi saja biar Bunda jagain Litha."
Rima gembira putra bungsunya membuka hati untuk wanita baru. Tentu saja dia percaya mereka tak akan melakukan hal yang dilarang agama.
"Oke." Cassandra mengiakan.
Widi yang biasanya lumayan banyak bicara, mendadak membisu dalam mobil.
"Kamu kenapa sih kok tegang sekali kelihatannya?" Cassandra jadi penasaran.
"Tidak kok." Widi terkekeh kikuk.
Surabaya mirip Jakarta. Meskipun sudah malam, tidak juga sepi. Mobil mengarah semakin ke timur, lalu berhenti di parkiran sebuah restoran.
"Oh, mau ngajak makan." Cassandra tertawa tertahan. "Kukira mau melamar, kok mukamu tegang sekali."
Widi membuka jendela di sisi Cassandra. "Lihat ke sana."
Apa yang Cassandra saksikan adalah konstruksi beton yang disangga tiang kokoh. Lengkungannya begitu ikonik. Jembatan Suramadu disirami cahaya yang cantik, menghubungkan dua pulau yang terpisah Selat Madura.
"Kita ini ibarat Pulau Jawa dan Madura. Banyak sekali hal yang memisahkan. Kita terlalu berbeda. Aku berpikir kamu adalah sosok yang nggak tergapai, Cass. Namun semakin aku mengenalmu, hatiku memilihmu karena banyak hal mengagumkan yang nggak bisa kuabaikan begitu saja. Semakin aku mengenalmu, aku yakin bahwa di balik kecantikan fisikmu, kamu juga punya hati yang baik. Aku ingin menjaga kamu, Cassandra. Meskipun begitu berbeda, kita tetap bisa terhubung seperti Surabaya dan Madura yang terhubung oleh Jembatan Suramadu. Aku berharap kamu mau menikah denganku, Cass."
Widi tidak berlutut sambil mempersembahkan cincin seperti laki-laki pada umumnya. Dia hanya menatap Cassandra, menunggunya.
"Aku nggak tahu, Wid." Suara Cassandra terdengar jauh dan gamang. "Aku kasihan sama kamu. Dulu kamu merawat Mutiara. Kalau kamu menikahiku, kamu akan merawat Litha. Sepertinya kamu nggak pernah bahagia."
"Aku bahagia kalau berada dekat kamu dan Lithania." Widi meyakinkan.
Cassandra menggigit bibir. Dia kaget dengan lamaran mendadak ini dan bingung harus bagaimana. Dunianya dengan Widi sangat jauh.
"Gimana kalau aku nggak bisa jadi istri yang baik seperti harapanmu? Aku hanya wanita penuh dosa."
"Aku tahu dan aku menerima kelebihan serta kekuranganmu, Cass. Aku akan berusaha membahagiakanmu, Lithania, juga anak kita kelak."
Cassandra menatap nanar pada jembatan yang berpendar. Widi adalah sosok yang baik dan dia butuhkan. Widi selalu ada kapan pun dia meminta tolong. Laki-laki ini juga telah membuktikan betapa dia menyayangi Lithania.
"Oke, Wid. Aku mau tapi aku nggak bisa menjanjikan apa pun," ucap Cassandra akhirnya.
"Alhamdulillah." Widi mengusap wajah. "Aku akan melamarmu kepada orang tuamu, Cass. Lalu kita siapkan pernikahan ya?"
"Secepat ini?"
"Menikah adalah ibadah. Apa lagi yang mau ditunggu?"
Cassandra mengangguk. Semoga keputusannya kali ini tidak salah.
"Sederhana aja ya nanti nikahnya. Nggak perlu mengundang banyak orang juga. Aku nggak mau menarik perhatian," Cassandra mengucapkan syarat.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
RomanceCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
