BAB 24

1.7K 136 1
                                        

Hello Sexy Readers,

Follow aku yuk, terus klik bintang dulu. Komen yang rame ya. Sayang kalian.

💋 💋 💋

Dalam pernikahan pasti akan ada masalah di dalamnya, tetapi kembali lagi bagaimana kita bisa mengatasi masalah yang ada dengan baik. Jika masalah didiamkan dan tanpa dikomunikasikan itu hanya akan menjadi bom waktu bagi keutuhan rumah tangga.

Hamizan menyadari, tak ada gunanya berlama-lama mendiamkan masalah mereka. Alih-alih berusaha mencari solusi, Hamizan akan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Saat perjalanan pulang tadi, Hamizan sudah memikirkannya. Dia akan meminta maaf duluan. Mungkin Hamizan kelewat keras memperlakukan Cassandra. Dia terlalu cemburu sampai lupa berkepala dingin menyikapi masalah. Lagipula Cassandra cuma menelepon Widi, laki-laki biasa saja. Dari segi tampang maupun kekayaan, Widi Erlangga tidak akan pernah dapat mengalahkan Hamizan Parama.

Cassandra sedang menyusui Lithania saat Hamizan membuka pintu. Otaknya mendadak kusut melihat rumah berantakan. Apa sesibuk itu Cassandra di rumah sampai tak punya waktu untuk bebersih? Jika saja Hamizan tidak ingat ingin berbaikan dengan Cassandra, mungkin dia akan merecoki Cassandra dengan banyak pertanyaan yang nantinya malah semakin menyulut kekisruhan di antara mereka.

"Ndra, kita butuh bicara." Hamizan berdeham sebelum mengenyakkan punggung pada sofa di depan Cassandra.

"Ya, bicara saja." Cassandra bosan berbasa-basi, dia tidak seperti Fatma yang mengalihkan obrolan ke banyak arah tanpa langsung ke tujuan sebenarnya.

"Aku ... minta maaf soal kemarin." Pandangan Hamizan bertemu dengan tatapan tidak percaya Cassandra. "Seharusnya aku nggak menuduhmu."

"Jadi sekarang kamu mengakui kalau sudah menuduhku?" Cassandra balik menyindir Hamizan.

"Mengertilah, Ndra. Seenggaknya tempatkan dirimu di posisiku. Gimana perasaan kamu? Capek pulang kerja lantas mendapati istrinya mengobrol akrab dengan pria lain di telepon."

Cassandra bukan tidak menempatkan diri, Hamizan saja yang terlalu curiga. Apa karena dulu, Cassandra merebut Hamizan dan Mutiara, dia jadi tidak bisa dipercaya suami sendiri?

"Pergaulanku memang bebas sejak dulu, kenapa baru sekarang kamu merasa terganggu dengan itu?"

"Ndra, please." Hamizan hampir kehabisan akal menghadapi sikap kepala batu Cassandra.

"Jadi apa dong? Kamu tahu aku lagi teleponan dengan siapa, aku juga nggak bakal berlama-lama jika bukan karena Litha." Widi sudah berpengalaman mengurusi Mutiara, tentu saja Cassandra akan mencari tahu demi kesembuhan putrinya.

"Makanya aku minta maaf, Ndra." Hamizan tertunduk menatap tautan jemarinya. "Aku terlalu takut kehilangan kamu."

Dalam setiap hubungan, yang namanya cemburu pasti pernah terjadi. Sayangnya ada saja orang yang cemburu buta, cemburu tidak pada tempatnya dan mengada-ada. Cemburu buta ini kalau sering terjadi bisa berakibat fatal. Kemarin-kemarin Hamizan menggemaskan ketika cemburu. Sekarang Cassandra yang gemas dengan Hamizan, apa susahnya bersikap wajar? Mereka bukan anak-anak yang menjalani cinta monyet.

"Kamu harus janji, nggak akan cemburu lagi sama Widi. Aku menghubungi dia sekadar ingin tahu bagaimana dulu dia merawat Mutiara. Nggak lebih!"

Hamizan tersenyum merendahkan. Zaitun Collection hanya butik kecil, bukan Louis Vuitton yang tersohor. Kalau dipikir-pikir, Widi sama sekali tidak punya faktor untuk memenangkan pertarungan. Penampilan Widi pun jauh dari kata berkelas, kelewat sederhana malah. Sungguh menggelikan kalau Cassandra sampai memilih laki-laki tidak berkelas seperti itu. Mungkin bumi akan berguncang, matahari terbit dari barat, dinosaurus hidup kembali, dan kutub selatan bertukar dengan kutub utara

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang