Bab 91

497 62 7
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak

So, enjoy.

Love,
Bella - WidiSyah

♥♥♥

Widi tengah berada di Bandung menemui penjahit Zaitun Collection saat menerima telepon dari Icha yang sangat panik. Widi langsung melesat pulang dan baru tiba di Jakarta setelah asar. Bayangan sakitnya Mutiara menghantui pikirannya. Cassandra selama ini tidak pernah menunjukkan gejala sakit seperti mendiang istrinya, tetapi manusia tidak pernah tahu kehendak Tuhan, bukan? Widi bukan dokter yang hafal bermacam penyakit. Mungkin saja ada bakteri atau virus yang bersemayam dalam tubuh Cassandra sementara istrinya itu tidak merasakan.

Cassandra sudah dipindahkan ke ruang perawatan setiba Widi di rumah sakit. Istrinya sudah sadar, hanya saja diberikan infus. Cassandra terbaring dengan mata terpejam, kekalutan Widi menjadi-jadi. Perlahan dia mendekat sembari mengatur napas, bersiap jika harus mendengar kabar buruk sekali lagi.

"Cass." Widi membelai rambut sang istri.

Perlahan kelopak mata Cassandra terbuka. Bibir pucatnya tersenyum. "Kok kamu ke sini? Bukannya kamu ke Bandung?"

"Tentu saja, kamu lebih penting bagiku." Widi menggenggam tangan Cassandra, mengecupnya lembut.

"Apa kamu sudah salat Asar?" tanya Cassandra.

Widi terenyuh. Tidak biasanya Cassandra ingat salat. Semoga saja ini bukan pertanda buruk.

"Sudah tadi di rest area," jawab Widi.

"Aku nggak apa-apa kok. Coba kamu lihat kertas di atas meja." Cassandra memberi isyarat dengan dagunya agar Widi mengambil hasil tes laboratorium.

Widi menurut. Dia membaca hasil tes itu tetapi tidak memahami artinya sama sekali.

"Ibu Cassandra van den Heuvel." Seorang perawat dan dokter masuk ke ruang perawatan dengan wajah berseri-seri.

Si perawat memeriksa infus Cassandra. "Apa masih mual, Bu?" tanyanya.

"Nggak kok, Sus. Makasih."

"Nanti ada Bu Irma dari unit gizi datang ke sini. Bilang saja Ibu mau makan apa, ada menunya."

Cassandra mengangguk. "Oke, Sus."

"Dokter, saya Widi Erlangga, suami Cassandra. Istri saya kenapa?"

"Istri Bapak sehat, cuma dehidrasi saja karena muntah-muntah seharian, jadi perlu diinfus." Tatapan dokter kemudian beralih pada Cassandra lalu berkata, "Bagus kalau sudah tidak mual. Dicoba makan ya, Bu. Kasihan nanti baby-nya lapar."

"Baby?" tanya Widi sedikit mengerutkan kening.

"Lho, memangnya Bu Cassandra belum bilang? Istri Bapak sedang mengandung. Usia kandungannya lima minggu. Sementara mesti dirawat di sini untuk dua hari supaya bisa istirahat total."

Widi terperangah. Beragam perasaan menyerbu secara mendadak. Benarkah kabar yang disampaikan sang dokter? Benarkah dia layak menerima anugerah teramat indah? Matanya memanas. Dirabanya perut Cassandra dan wanita itu menggenggam tangannya seraya tersenyum bahagia. Ada kehidupan di dalam sana. Anaknya, anak mereka, darah dan daging yang menanti lahir ke dunia. Air mata menetes dari sudut mata Widi.

Dokter dan perawat tersenyum, ikut larut dalam kebahagiaan pasangan muda ini. Suami istri yang tidak banyak berkata-kata, tetapi mampu menunjukkan cinta hanya lewat sentuhan sederhana.

"Kami tinggal dulu, mari," ucap sang dokter sebelum undur diri.

Cukup lama Widi hanya membenamkan wajah di perut Cassandra, mencoba mendengarkan detak jantung anaknya. Konyol memang, tetapi dia begitu antusias. Ibunya di Surabaya pasti akan senang jika tahu akan segera menggendong cucu.

"Apa aku perlu kasih tahu Bunda sekarang ya?" tanya Widi.

"Iya, telepon aja. Video call sini."

Widi menurut. Dia merogoh saku untuk mengambil ponsel. Namun tercenung sebab ternyata mati. Dia pun mencolokkan ke sumber listrik di dinding. Begitu menyala, hal yang menyapa ada pesan Hamizan.

Hamizan Parama:

Tolong ke RSKS. Litha sakit parah.

♥♥♥

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang