Bab 85

545 59 6
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak.

Love,
Bella - Widisyah (WidiSyah)

So, enjoy.

♥♥♥

Sugar craving. Cassandra tahu gula berdampak buruk. Ancaman penyakit membayangi pelupuk mata. Minimal kalaupun tidak terkena diabetes sampai kakinya diamputasi, Cassandra akan menghadapi obesitas. Tubuh menggelembung dengan angka timbangan tak terkendali. Baju tidak muat lagi. Susah payah berjalan sampai harus dituntun.

Sumpah, Cassandra sudah mengingatkan dirinya sendiri agar menjauhi gula, tetapi sepulang dari gedung Silver Ibis Production, dia malah berbelok ke Twenty Four Supermarket lantas memborong banyak sekali cokelat dan es krim dari berbagai merek dan beraneka rasa.

Cup kedua dari es krim rasa matcha tandas. Cassandra mengganti botol yang telah penuh dengan botol susu kosong. Alat pemompa ASI listrik kembali berbunyi menunaikan tugas, menggetarkan jiwa keibuan Cassandra. Dia tidak tahu punya sisi feminin yang satu ini sampai melahirkan. Anak memang mengubah karakter wanita mana pun. Dari yang awalnya amat manja menjadi super mandiri. Dari takut kecoak terbang sampai memiliki keberanian melawan monster sekalipun. Dari yang liar serta hanya peduli cuan seperti dirinya menjadi lembut dan perhatian.

Dulu, Lithania tidur dalam boks menunggu Cassandra memenuhi botol-botol plastik. Nantinya anak itu akan lahap mengisap. Ah, Cassandra rindu menatap manik mata polos bayinya. Rindu menggenggam jemari mungilnya. Rindu mengecup ubun-ubun yang ditumbuhi rambut halus. Rindu aroma susu bercampur minyak telon dan sabun bayi yang menguar dari setiap sentimeter kulit Lithania.

Belasan kali Cassandra mencoba menghubungi Hamizan, tetapi laki-laki itu tak kunjung menjawab. Menurut informasi Gita, Hamizan juga tidak ke restoran hari ini. Ke manakah dia? Apakah Lithania sakit? Cassandra semakin cemas.

Supermassive Black Hole milik Muse berteriak kencang. Hamizan menelepon. Sejak perceraian dan penculikan Lithania yang penuh drama, Cassandra tidak pernah merasa sesenang ini ditelepon mantan suaminya.

"Hamizan kamu di mana?" Cassandra bertanya antuasias.

[Aku di depan pagar rumah.]

Benar saja, saat Cassandra melongok ke jendela, Hamizan telah berdiri di depan pagar menggendong permata hatinya. Cassandra mematikan alat pemompa ASI, setengah berlari ke teras.

"Litha!" Cassandra merebut anaknya dari gendongan Hamizan, menciumi wajahnya penuh keriduan.

"Litha rewel terus," Hamizan memberi tahu dengan intonasi datar.

"Kamu kasih dia sufor merek apa?"

Hamizan menyebutkan salah satu merek susu formula yang cukup mahal. "Tapi dia rewel dan nggak mau minum."

Cassandra mendekap Lithania, membawanya masuk ke ruang tidur. Pakaiannya memang jauh dari kata sopan. Hanya bodysuit lingerie berlapis jubah sutra. Cassandra tak sempat berpikir bagaimana reaksi Widi kalau tahu istrinya memasukkan laki-laki bukan mahram ke rumah dengan kostum seminim ini. Hamizan pun hanya berani berdiri agak jauh, menatap tubuh seksi itu dengan rikuh.

Satu botol penuh dan setengah botol ASI siap mengisi perut bayinya. Lithania segera lahap mengisap dot yang disodorkan Cassandra.

"Tadinya aku mau antarkan botol ini ke rumahmu. Siapa yang jaga Litha?" tanya Cassandra seraya duduk memangku Lithania.

"Dia di day care. Belakangan aku ... sibuk."

Cassandra ingin meluapkan amarah pada laki-laki egois dan gila ini. Namun, dia mencoba bersabar. "Kalau kamu sibuk, kenapa merebutnya dariku?"

"Aku nggak merebutnya, dia anakku."

"Tapi hak asuhnya ada padaku. Kamu baca sendiri putusan hakim."

"Aku mau menghabiskan lebih banyak waktu bersama Litha. Selama ini aku sadar sudah banyak menyia-nyiakannya. Anak sekecil dia tidak baik berpisah dari ibu atau ayahnya," balas Hamizan lugas.

"Kalau kamu bermimpi aku bercerai dari Widi dan kembali padamu, maka lupakan niatmu," Cassandra menyahut tak kalah lugas.

"Nggak. Kamu berhak bahagia dengan siapa pun laki-laki yang kamu mau. Tapi aku sebagai ayah juga berhak menghabiskan waktu dengan anakku sebelum ajal menjemputnya."

Cassandra mendongak, memberikan tatapan penuh amarah. Dia ingin membekap mulut Hamizan, menyegelnya dengan lakban. Seenaknya saja dia mendahului takdir Tuhan. Alih-alih menjalankan niatnya, Cassandra mengelus saja kepala Lithania. Dia tak mau memperebutkan Lithania seperti dua wanita berebut anak di depan Nabi Sulaiman. Pada akhirnya nabi Sulaiman yang berperan sebagai hakim meminta agar anak itu dibelah dua. Tentu saja ibu sesungguhnya dari sang anak mengalah, menyerahkan anaknya pada wanita lain asalkan si anak selamat. Cassandra pun mengalah.

"Asalamualaikum!" Suara Widi menggema dari teras.

Tentu saja Cassandra mencelus. Apa yang akan suaminya katakana jika tahu keberadaan Hamizan di sini?

"Walaikumsalam," sahut Hamizan.

Widi muncul di ambang pintu. Sejenak waktu seakan membeku ketika dua orang laki-laki bersitatap. Cassandra duduk tegang sembari memegang botol. Sebelah tangannya menggendong Lithania.

"Hamizan, kamu ada di sini," ujar Widi tenang.

"Litha rewel terus. Maka aku bawa dia ke sini."

"Seingatku hari ini jadwalnya kontrol ke dokter," sahut Widi yang ditanggapi anggukan Hamizan. "Setelah ini aku dan Cassandra akan menemani kalian ke rumah sakit."

Cassandra tak dapat menebak apakah Widi marah atau tidak. Air mukanya begitu tak terbaca.

"Sebaiknya Pak Hamizan menunggu di luar. Tidak baik laki-laki dan perempuan yag bukan mahram berduaan di kamar. Pihak ketiga adalah setan," kata Widi pelan tetapi menusuk.

♥♥♥

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang