Hello Sexy Readers,
Vote dan komen yang banyak
So, enjoy.
♥♥♥
Dua hari terasa cepat bergulir. Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit dan menebus obat, Widi menggamit lengan Cassandra menuju mobil. Bingung harus menjelaskan dari mana, Widi menyupir saja dalam diam.
"Kita mau ke mana, Wid? Ini bukan jalan ke rumah atau ke butik kita deh." Cassandra membuka jendela. Sekolah dan kedai kopi 'Rindu Hati' jelas tidak akan mereka temui kalau ke rumah.
"Kita mau ke RSKS," ucap Widi.
Cassandra masih mencerna kata-kata suaminya. RSKS berarti Lithania. Jika anak perempuannya sampai berada di sana, bisa berarti dua hal, kontrol rutin atau keadaannya gawat. Naluri keibuannya segera meningkatkan kewaspadaan. Kontrol rutin tidak memerlukan kehadirannya kan?
"Apa yang kamu sembunyikan, Wid?" tanya Cassandra.
"Tenang, Cas." Tangan Widi sudah terulur untuk meremas bahu Cassandra, tetapi istrinya menepis.
"To the point, Wid." Jelas sekali Caassandra tidak berminat basa-basi.
"Dua hari yang lalu Hamizan mengirimkan pesan supaya kita ke RSKS. Litha sakit."
"What?!" Cassandra mendelik. "Dan kamu nggak bilang sama aku?"
"Kamu lagi sakit, Cas. Kamu juga lagi hamil sekarang, hamil anak kita. Aku harus menjaga kamu dan calon bayiku." Widi berusaha tetap datar, tidak terpancing emosi Cassandra.
Saking marahnya, Cassandra hanya dapat menghunuskan tatapan tajam pada Widi. Bibirnya terkatup rapat. Untuk sejenak hanya duduk bersedekap lantaran terlalu malas mengajak bicara Widi. Bisa-bisanya laki-laki ini menyembunyikan hal penting. Namun, Cassandra kemudian mengambil inisiatif, menelepon Hamizan.
[Ke mana saja kamu? Ponsel dua hari nggak aktif.]
Hamizan menegur Cassandra dengan nada marah.
"Aku sakit, Ham. Dirawat di rumah sakit."
[Oh, maaf.]
"Gimana keadaan Litha? Aku dan Widi on the way ke RSKS. Kamu di sana kan?"
[Litha membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Punyaku nggak cocok, punya Mama juga nggak cocok.]
"Mama ada di sana?"
Hawa tidak enak langsung menjalar. Nama tengah Fatma adalah 'keributan', sementara nama akhirnya adalah 'julid'. Cassandra sedang tak ingin berperang, tetapi keberadaan mantan mertuanya memaksa untuk menyiapkan amunisi.
[Aku terpaksa menelepon Mama untuk menemani Litha. Urusanku di resto sedang banyak. Pengasuh Litha kupecat. Dia lupa meminumkan obat karena keasyikan nonton drakor. Bayangkan itu!]
Tidak, Cassandra tidak kasihan mendengar keluhan Hamizan. Sebaliknya amarahnya kian menggelegak.
"Makanya kalau kamu nggak becus ngurus anak, nggak usah sok-sokan nyulik segala. Begini akibatnya kan? Dasar manusia egois kamu, Ham. Nggak pernah berubah juga cuma mikirin diri sendiri. Kalau Mutiara cerai lebih cepat dari kamu, mungkin dia masih hidup sekarang. Kamu dan ibumu, such a hell!" sembur Cassandra meluap-luap. Sungguh dia tidak tahan lagi dengan kegilaan dan egoisme ibu dan anak itu.
[Kenapa kamu marah? Kamu kan .... ]
Belum sempat Hamizan meneruskan pembicaraan, Cassandra sudah memotong, "Kamu memang pantas dimarahi, dasar laki-laki egois! Sebentar lagi aku dan Widi datang."
Mobil Widi dan Cassandra sudah memasuki parkiran RSKS. Tak bisa dihalangi, Cassandra keluar dari sana setengah berlari. Bahkan Widi pun terlambat mencegah. Bagaikan seekor banteng terluka, dia menuju ruang rawat anak. Fatma ada di sana bersama Hamizan. Sejenak Cassandra bersitatap dengan Fatma, lalu Hamizan.
"Oh, masih ingat punya anak rupanya kamu, San," sindir Fatma.
"Tua Bangka, seharusnya kamu didik anakmu lebih baik. Kalau nggak sanggup mengurus Litha, kembalikan saja padaku," geram Cassandra melupakan keanggunan wanita apalagi sopan santun.
"Kamu menyebut saya tua bangka?" bisik Fatma terkesiap.
"Maafkan atas kejujuran saya, kenyataannya Anda memang tua bangka dan anak Anda sejenis laki-laki egois tukang selingkuh tak tahu diri," sembur Cassandra.
"Bisa-bisanya kamu mengatakan saya begitu sedangkan kamu melupakan anakmu dan asyik bulan madu," balas Fatma sembari maju seakan hendak menampar Cassandra.
Widi cekatan berdiri memisahkan dua wanita yang siap adu jotos ini. "Bu Fatma, sebagai orang tua tolong lebih bijaksana. Cassandra tidak akan meminta cerai kalau saja Hamizan tidak berselingkuh. Selama ini Hamizan lalai menjaga Litha, lebih asyik mengurus restoran."
"Stop!" Hamizan menarik Fatma menjauh. "Litha sedang sakit, tidak selayaknya kita rebut, apalagi di rumah sakit."
Widi pun memeluk Cassandra agar tidak bertindak nekad. Dulu saat dia dan Hamizan di kantor polisi sehabis berkelahi, Cassandra yang menenangkan mereka. Kini wanita yang sama justru bersikap seakan siap berperang. Mungkin beban yang dipendam telah menumpuk.
"Aku mau ketemu Litha," ucap Cassandra getir.
Hamizan mengangguk. "Ya, Litha memang memerlukanmu."
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
RomanceCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
